Lagu dan Masa yang Berbatas

“Ada suatu masa ketika kita merindukan sebuah masa. Aromanya, warnanya, suaranya dan cerita dibalik setiap helai kertasnya. 
dan saya mulai mengerti kenapa Tuhan membatasi waktu kita.” – Adlien

Entah kenapa sebuah cerita harus memiliki sebuah akhir. Karena ia tidak akan disebut dengan cerita jika tak memiliki ending. Dua pilihannya, akhir yang bahagia atau akhir yang menyedihkan. 
Hari ini saya bertemu dengan seorang dosen yang selalu mampu membuatku tercenung dan berpikir lebih keras untuk mencerna dan menangkap makna ucapannya. Pak Alwi Rachman, beliau berhasil menggelitik saya untuk berfikir keras tentang sebuah kenangan. Ya, kenangan. Ia membuat saya mengalami “waktu yang mengalir”. Sebuah istilah yang ia pinjam dari Alm. Ahyar Anwar (semoga Allah SWT merahmati orang-orang yang berilmu). 
Ia menjalani waktu yang mengalir, dengan mendengarkan lagu-lagu. Sebuah lagu bukan memiliki kenangan, tapi kita sebagai manusia yang memilikinya. “Lagu hanya sebuah ruang kosong dan kamu loncat kedalamnya, saya butuh lagu (beliau menyebut sebuah lagu yang dinyanyikan oleh perempuan berkulit hitam) jika ingin kembali ke masa lalu, jika saya ingin melihat masa depan, saya cukup mendengarkan lagu John Lenon atau Michael Jackson,” ujarnya sambil mengepulkan asap putih. 
Ah, saya jadi teringat dengan memori saya yang ‘terjebak’ dalam lagu-lagu masa lalu. Saya mengenal lagu ketika memasuki usia 3 tahun, ayah mengajarkan saya menyanyikan lagu anak-anak. Ayah saya memetik gitar, saya bernyanyi. Sebuah kenangan awal perjumpaan saya dengan musik. 
Setelah itu beragam jenis musik masuk ke dalam kehidupan saya. Saya mulai mengerti tentang jenis musik. Ada jenis musik slow, keras, bahkan dangdut. Penyanyi seperti Ebiet G Ade, Broery Marantika, Yuni Shara sering terdengar di setiap pagi. Jenis lagu ini adalah kesukaan Ayah dan Bunda. Setelah Bunda pulang sekolah di Malaysia, tiba-tiba saya disuguhkan lagu-lagu Michael Learns to Rock, Rod Stewart, dan lain sebagainya. Bunda memiliki sense musik yang bagus, dan saya pun mengamatinya. Jangan salahkan saya jika lagu-lagu era 80′ dan 90’an sangat saya kenal. 
Kenangan itu tersimpan di memori otak saya. Dan lagu akan memutarnya kembali. Awalnya lagu saya anggap sebagai sebuah media menarik. Mungkin bukan hanya saya saja yang merasakannya, jika kita mendengar sebuah lagu, memori kita akan terputar pada masa-masa lagu itu diperdengarkan. Sama ketika saya mendengar lagu Bryan Adams – Please Forgive Me, memori saya akan terlempar dimana saya sedang memainkan game komputer dan saling menunggu giliran dengan adik saya setelah pulang sekolah di kelas 3 SD. Atau lagu Yang Terdalam milik Peterpan akan membuat saya mengingat kembali masa-masa SMP dimana saat itu sedang dalam perjalanan menuju Bandung. Atau lagu Cinta ini Membunuhkan dari D’Massive ketika saya sedang mengalami kasmaran dengan seorang cowok keren di saat SMA.
Lagu adalah sebuah media untuk mengingat masa-masa tersebut. Merasakan Waktu yang Mengalir. Dan saya sedang merasakan waktu yang mengalir. Tiba-tiba luapan kerinduan akan masa-masa SMP dan SMA menerjang bagai badai. Saya tersapu dan terseret dalam gelombangnya. Masuk dalam pusaran hebatnya. Saya sempat tergetar ketika menapaki jalan gelap di workshop, melihat rumah kecil identitas, melihat gedung PKM, melihat langit malam bahkan melihat kotak kaca mesin ATM. Saya akan hilang dari rutinitas ini, sedikit lagi. Dan saya akan merindukan masa-masa ini, sama dengan saya merindukan masa-masa SMP dan SMA. 
Saya mulai berpikir, bahwa kita akan selalu merindukan masa. Entah yang kita sebut kenangan manis atau kenangan pahit. Semua akan selalu terkenang. Dan hanya kita atau orang yang terhubung dengan kita akan merasakannya secara langsung getaran tersebut. 
Malam ini saya menangis, ya menangis. Sebuah aktivitas yang sangat jarang saya lakukan. Aktivitas yang membuatku kembali memikirkan masa-masa lalu. Saya tidak pernah menyesal apa yang terjadi, tapi saya ingin mengucapkan terima kasih pada semua orang yang tanpa mereka sadari telah membangun sebuah “Atrasina Adlina”. Entah mereka sadari atau tidak, tapi saya benar-benar mengucapkan kata itu dari lubuk hati yang paling dalam.
                             TERIMA KASIH
Dan saya mencintai lagu sama dengan saya mencintai mereka..
 
Identitas, 11 November 2013
Hasil perenungan mendalam dan kilas balik 10 tahun terakhir.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *