Lebih Mengenal Manusia di Pare

pemandangan pagi di Pare
Selama tinggal di Pare terlalu banyak yang bisa saya pelajari. Bukan hanya Bahasa Inggris, tapi lebih bagaimana dekat dengan manusia. Sesuatu hal yang tidak bisa saya dapatkan di kota besar. Semua orang terbuka dan lebih sering tersenyum. Saling menyapa dan bertukar sapa. Senyum yang seringkali dianggap kecil, tak pernah alpa hadir di kota ini.
  
Suatu ketika saya mencari alamat, ibu-ibu di sekitar rumah masih mampu menunjukkan orang yang saya maksud. Mereka masih mengenal satu sama lain. Masih ada paguyuban ibu-ibu di tukang sayur untuk saling menyapa 

Lebih banyak percakapan yang saya ciptakan setiap harinya. Entah itu bersama ibu penjual lontong sayur. Ia bercerita bagaimana suaminya telah meninggal dan mulai berjualan lontong sayur di Kediri. Awalnya ia berjualan di depan sekolah, namun pihak sekolah mulai membangun kantin di dalam sekolah. Sehingga ibu tersebut tidak boleh berjualan di sekolah. Ia pun mulai berkeliling Pare untuk mencari pembeli. Harga seporsi lontong sayur hanya 2000 ribu rupiah. Mungkin bagi kita, uang tersebut tidak bisa untuk mengenyangkan perut, tapi berbeda bagi ibu tersebut. 
Saya juga suka menghabiskan pagi di warung kopi. Saya melihat kumpulan bapak-bapak berdiskusi tentang harga bibit, alat pertanian yang murah, hingga harga kebutuhan pokok yang semakin naik. Diskusi juga tak melulu tentang itu, kadang-kadang mereka tertawa karena kalah bermain catur. Harga secangkir kopi dibanderol 1500, tapi rasanya tak kalah dengan kopi-kopi yang disajikan di toko kopi ternama di jantung ibukota. Mungkin karena percakapan mereka tak mengikutsertakan handphone di antaranya. Dan percakapan mereka berhenti ketika adzan memanggil. Sang pemilik warung ‘mengusir’ secara halus para pembeli untuk menunaikan ibadah. Menghadap Tuhan, mengakhiri senda gurau sementara. 
rumput basah
Saya juga bertemu dengan seorang bapak yang memberikan kami sayur-sayuran segar dari ladang. Ceritanya begini, kami membeli sayur dari seorang nenek di pasar. Ia hanya menjual beberapa potong sayur, kemungkinan besar ia petik dari kebunnya sendiri. Setelah itu kami pun menuju warung tenda di pinggir jalan. Ketika kami berenam makan nasi tahu bumbu, tiba-tiba ada seorang bapak yang menawarkan oyong (sejenis sayur berwarna hijau). Katanya, beliau melihat kami membeli sayur tapi tidak ada lauk lain. Padahal sayur bening harus ditemani oleh oyong. Namun tak hanya oyong, ia pun memberikan terong segar sekitar 6 buah kepada kami secara gratis. Setelah itu, ia juga memberikan kami ubi-ubian hingga keranjang sepeda kami penuh. Sebuah hal yang tak mungkin ditemukan di kota besar.
Saya juga bertemu dengan seorang nenek yang tinggal didekat tempat tinggal. Ia tinggal sebatang kara tanpa keluarga. Ia hanya memiliki tetangga yang baik kepadanya. Beberapa kali saya melihat ia mengais tempat sampah untuk mencari botol-botol bekas. Ia tetap bertahan hidup tanpa harus mengemis. Padahal jika ia mengemis, mungkin banyak orang yang bersimpati padanya. Namun ia memilih untuk bekerja daripada harus mengemis. Pelajaran berharga bahwa semua harus berusaha untuk mencari rezeki di muka bumi. 
Kisah seperti itu tak hanya berhenti disitu. Saya bertemu banyak orang yang memiliki ceritanya masing-masing. Ingin rasanya saya tuliskan semua, tapi biarlah ini menjadi rahasia antara saya dan orang-orang tersebut. Semoga pelajaran yang kalian berikan dibalas oleh Allah SWT. Aamin ya rabbal alamin..

ditulis di Apartemen Rasuna Tower 6
9:58 WIB 1 February 2016

You may also like

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *