Maritim Museum di Rotterdam

Mengunjungi  di Rotterdam secara dadakan di minggu pagi setelah gagal mengantar kepergian beberapa teman Wageningen di Schipol. Dan saya takjub dengan museum ini. Ceritanya, karena saya sudah kadung di Schipol, saya pun memilih untuk pergi makan di Pempek Elysha. Namun karena Pempek Elysha baru buka di jam 12, saya pun mengarahkan kaki menuju Maritim Museum di kota Rotterdam.

Maritim Museum di Rotterdam

 

ada kereta pengangkut barang disini

Perjalanan ke Maritim Museum ini bisa dibilang dadakan. Karena harus singgah di Rotterdam dan Pempek Elysha buka masih lama, saya pun mencari museum terdekat dari Statiun Rotterdam Central. Hasil pencarian saya menunjukkan tak jauh dari Rotterdam Centraal ada Maritim Museum.

Kebetulan saya punya kartu museum untuk masuk museum seluruh Belanda secara gratis. Saya pernah bercerita tentang kartu sakti ini disini. Kalau kalian suka dengan museum, tak ada salahnya membayar 60 euro untuk setahun. Eh, back to the topic. 

Sesampainya di Rotterdam Central, saya langsung menyambung metro menuju stasiun Beurs. Darisana saya hanya perlu berjalan kaki sekitar 200 meter dan voila saya pun tiba di Maritim Museum.

Maritime Museum Harbour

salah satu alat berat yang digunakan di masa lalu
papan informasi sepanjang harbour

Museum ini terbagi dua bagian, yaitu bagian dalam museum dan museum pelabuhan (museum harbour). Museum Harbour ini ini bisa dimasuki tanpa perlu membayar. Karena memang bagian ini terintegrasi dengan salah satu pelabuhan yang terletak tepat dipinggir jalan. Pengunjung bisa membaca sejarah tentang tempat ini dari papan-papan.

Disini ada lighthouse yang zaman dulu digunakan untuk membantu kapal untuk menuju pelabuhan. Selain itu ada juga benda-benda berat yang digunakan untuk mengangkut barang. Rotterdam berkembang sebagai kota pelabuhan terbesar di Eropa. Posisi kedua ditempati oleh Antwerp (Belgia), kemudian disusul oleh Hamburg dan Bremen di Jerman.

Kita juga bisa menaiki taxi air yang tersedia disini. Karena waktu saya terbatas, saya hanya foto-foto dan melihat alat berat apa saja yang digunakan oleh Rotterdam. Menarik sih melihat perkembangan kota ini. Mengingat kota ini pernah hancur lebur saat Perang Dunia kedua, yaitu kejadian Rotterdam Blitz. Sedih banget. Makanya kota ini agak beda dari kota-kota lain di Belanda. Sangat futuristik dan punya gedung-gedung yang sangat tinggi.

Kapal Pesiar di Port Rotterdam

berasa main kasino di kapal pesiar
pengeboran lepas pantai

Setelah puas menjelajah bagian luar Maritim Museum, saya pun menginjakkan kaki ke bagian dalam museum. Interior dalam museum dicat warna orange. Gedung ini terdiri dari 2 lantai. Jika punya museum card, kita tak perlu membayar tiket masuk. Kalau gak punya harus bayar 12.5 euro per orang. Saya memulai dari lantai ke 2. Saya melihat replika bagian dalam kapal pesiar. Kita diajak untuk melihat bagaimana isi kapal pesiar zaman dulu. Kita disuguhkan replika isi kamar kapal pesiar, kamar mandi, restoran, hingga dek kapal yang biasa digunakan untuk bersenang-senang.

Puas menjelajah di bagian itu, saya segera turun ke lantai 1. Nah di lantai ini ada permainan yang seru. Kita diminta untuk menangkap penjahat dalam kasus narkoba. Seperti yang sudah diketahui banyak orang, narkoba paling sering ditransfer melalui jalur laut. Karena pengamanannya masih lebih longgar dibandingkan dengan jalur udara. Hal inilah yang membuat pihak cukai dan kepolisian Belanda meningkatkan keamanan dalam mengurangi tindak kejahatan. Kita bisa bermain sebagai polisi di game ini. Kita diberikan waktu selama 20 menit untuk menyelesaikan masalah yang ada.

Offshore Experience

experience kece

Jam tangan menunjukkan pukul 12.11, saya pun segera menuju lantai 1/2. Sebuah tempat yang kelihatannya seru. Saya sudah mulai bimbang “Apa saya langsung menuju Pempek Elysha aja ya. Takutnya Oka udah nungguin disana,?” pikirku. Tapi setelah saya tanya Oka bahwa dia masih di Primark, saya pun melanjutkan diri untuk mendaftar game ini. Saya sempat menunggu sekitar 9 menit untuk masuk ke arena game.

Setelah pintu dibuka, kami dipertontokan video penyelamatan darurat jika bekerja di menara offshore. Mereka menjelaskan bahwa Belanda memiliki beberapa tambang minyak lepas pantai di North Sea. Disana sumber energi untuk memenuhi kebutuhan minyak bumi.

Setelah mendapatkan video singkat tentang penyelamatan, kami diminta untuk menggunakan topi keselamatan dan juga rompi yang bertuliskan kata ‘trainee’. Seneng banget! Setelah itu saya disuruh memilih level permainan, hanya ada dua level permainan yang disediakan yaitu EASY dan EXPERT. Saya langsung milih EXPERT donk. Haha.

wahana nya dibikin mirip seasli mungkin

Kami mendapatkan 9 permainan yang harus diselesaikan. Tapi karena waktu yang sangat mepet, saya hanya bisa menyelesaikan tiga permainan. Pertama adalah 3D modelling, marshalling dan ROV guiding. Saya paling suka sama game marshalling helicopter. Jadi kita bertugas untuk memandu helikopter agar turun tepat di landasan helikopter. Wah lumayan tegang, karena kita diberikan stick warna kuning persis seperti yang biasa dilihat di film-film. Kemudian kita harus bisa memberikan rambu-rambu yang tepat kepada si helikopetr agar helikopter bisa mendarat sempurna.

Dapat sertifikat

uhuy banget

Setelah puas berkeliling, saya pun keluar dari offshore tersebut dengan hati senang. Karena setelah keluar kita bisa meminta sertifikat yang bisa kita unduh di email. Keren banget, apalagi ketika saya tahu bahwa saya lulus untuk menjadi magang di offshore. Kece beudh!

Kalau menurut saya, ini adalah museum teratraktif yang pernah saya masuki selama di Belanda. Rasanya pengen datang lagi kesana dan main di offshore experience lagi. Heheh. Kalau ada waktu lebih di Belanda dan mau melihat museum, saya sarankan untuk datang kesini. Bakalan dapat pengalaman yang seru banget. hehe.

 

ditulis di Bennekom

20.29 CET, Friday, 22 Maret 2019

sambil dengar Alquran

 

You may also like

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.