Masjid Al-Hikmah Indonesia di Den Haag

Perjalanan ke Den Haag kemarin membuahkan satu informasi baru. Ada Masjid Indonesia di Belanda! Saya yang selama ini selalu melihat masjid Turki, masjid Maroko, masjid Suriname, ataupun masjid negara lain disini dan tiba-tiba mendapatkan informasi tentang sebuah masjid Indonesia.

Perjalanan ke masjid Al Hikmah dimulai setelah kami menyelesaikan urusan lapor diri dan perpanjangan paspor di KBRI Den Haag. Kami menyusuri jalanan Den Haag yang kebetulan sedang bersalju. Udara dingin saat itu menunjukkan minus 3 derajat.

Tapi kami tak terlalu lama terpapar udara dingin, karena kami menaiki trem menuju masjid Al Hikmah. Dari Jalan Tobias Asserlaan kami menuju Tram Stop di Ary van der Spuyweg. Dari sana kami menunggu tram bernomor 16. Tram berwarna merah tua dan memiliki 2 gerbong panjang. Tram ini selalu beroperasi setiap 5 menit sekali. Jadi kita tak terlalu menunggu lama di luar. 🙂

Ketika memasuki Tram, kita diwajibkan untuk ngetap kartu OV Chipkaart. Jika berjalan-jalan di Belanda, sangat saya sarankan untuk membeli OV Chipkaart Anonymous di stasiun terdekat. Harganya 7.5 euro dan bisa diisi sesuka hati. Atau bisa juga menggunakan Disposable Card, baca perbedaannya disini : NS OV Chipkaart Different for Tourist

Perjalanan ditempuh sekitar 25 menit karena kita akan berhenti di beberapa tempat sebelum tiba di Tram stop Heeswijkplein. Kita akan melewati daerah Centrum Den Haag sebelum mencapai daerah Heeswijkplein. Kita bisa menikmati pemandangan kota Den Haag. Kita juga melewati Bangunan Peace Palace yang dibangun pada tahun 1931. Karena Den Haag sedang bersalju, seperti melihat ketombe yang jatuh dari langit. Untungnya di dalam Tram ada pemanas sehingga tak terlalu dingin.

masjid dari depan
plang masjid

Masjid Al Hikmah Indonesia di Den Haag

Setelah turun dari Tram, kita tidak melihat kubah seperti masjid yang biasa kita temui di Indonesia. Masjid ini seperti bangunan biasa pada umumnya. Saya saja tak bisa membedakan masjid ini dengan rumah di sekitarnya. Hanya ada papan berukuran 3×1 di samping masjid yang membuat bangunan ini dikenali sebagai masjid.

Masjid Al-Hikmah terletak di jalan Medlerstraat dan berdiri di atas tanah seluas 2000 meter persegi. Bangunan terdiri dari dua lantai itu ada di kompleks perumahan di Heeswijkplein 170-171, Den Haag. Memasuki di dalam masjid kita meletakkan sepatu di dalam rak kayu yang telah disediakan. Karena kami datang di saat shalat jumat, sehingga banyak sekali sepatu yang memenuhi rak sepatu.

Banyak bapak-bapak dan anak-anak dengan wajah Indonesia disini bertebaran! Menyenangkan! Eh maksudnya enak banyak orang Indonesia, gak perlu pake bahasa Inggris. Haha. Saya sempat ngobrol sama seorang bapak dan beliau menawarkan kopi dan susu yang disediakan bagi jamaah sebelum shalat jumat dimulai. Tapi karena kami datang ketika khutbah telah dimulai, kami segera naik ke lantai atas.

pintu masuk
pak polisi
bagian dalam masjid

Masjid ini terdiri dari dua lantai. Lantai pertama yang paling sering digunakan untuk shalat

berjamaah dan acara-acara keagamaan lainnya. Yang paling saya ingat adalah ceramah yang menggunakan bahasa Indonesia. Setelah selama ini mendengar cerita mas Arif tentang Khutbah Jumat yang menggunakan bahasa Arab dan dikasih terjemahan bahasa Inggris di akhir ceramah. Sehingga ketika mendengar ceramah dalam Bahasa Indonesia membuat saya merasa berada di Indonesia.

Menurut bapak-bapak yang saya temui di masjid, ceramah di masjid ini juga kadang menggunakan bahasa Arab, bahasa Belanda dan juga bahasa Inggris. Tergantung siapa penceramahnya. Dan kebetulan saya datang ketika penceramahnya sedang berbahasa Indonesia. 🙂

Sejarah Masjid Al Hikmah

Di tahun 1995, umat Islam Indonesia berusaha mengumpulkan dana untuk membangun masjid. Jaman dulu belum ada Kitabisa.com sehingga belum bisa melakukan fund raising seperti yang dilakukan Masjid Wageningen disini : Wakaf Masjid Wageningen, Belanda . Hal ini dilakukan karena musholah Al-Ittihad tak lagi mampu menampung jamaah yang terus bertambah. Dan Alhamdulillah, seorang pengusaha Indonesia yang bernama Probosutedjo membeli sebuah gereja dan mewakafkannya atas nama kakaknya RH Haris Sutjipto.

plang gereja yang masih ada di dalam masjid
surat perjanjian

Gereja ini bernama Imanuel Kerk yang dibangun pada tahun 24 Januari 1947. Menurut sumber pembelian gereja ini karena bangunan ini sudah tak difungsikan dan dijual kepada umum. Pak Probosutedjo ini yang membeli bangunan ini dan mengubahnya sebagai masjid bagi diaspora Indonesia di Den Haag.

Masjid ini diserahterimakan pada tanggal 1 Juli 1996. Informasi ini tertera di dinding masjid lantai satu. Selain itu ada surat yang ditandatangani oleh Gementee S-Gravenhage tertanggal 25 Januari 1995 sebagai bukti bahwa komunitas di sekitar masjid tak terganggu dengan kegiatan ibadah.

Saat ini masjid tak hanya digunakan untuk tempat shalat namun juga pengajian bagi bapak dan ibu. Setiap minggunya masjid ini selalu ramai.

Kudapan dan Minuman Gratis Setiap Jumat

teh dan kopi panas

Serunya di masjid ini, pengurus masjid menyediakan pojok kudapan dan minuman hangat untuk siapapun yang mau beristirahat sejenak. Karena di luar sedang bersalju, akhirnya saya memutuskan untuk meminum segelas teh hangat dan ngobrol-ngobrol dengan bapak-bapak disana. Menurutnya setiap jumat selalu ada kudapan dan minuman yang disediakan bagi para pengunjung. Semua orang bisa mengambil kudapan atau bahkan nasi secara gratis. 🙂

Ah pengen sih banyak-banyak ngobrol, tapi karena waktu semakin menipis dan saya harus kembali berangkat dengan rombongan Wageningen ke Centrum. 🙂 Semoga bisa kembali lagi ke masjid ini. Saya seperti berada di salah satu sudut Indonesia. 🙂

 

ditulis di Asserpark 10 C

2:33 CET 12 February 2018

sambil dengerin lagu Pelangi – Chrisye

You may also like

Tinggalkan Balasan