Media Sosial dan Aksi Sosial


Mungkin Antonio Meucci tidak menyangka jika versi awal alat berkomunikasi melalui kabel yang ia temukan ternyata memiliki dampak besar pada kehidupan saat ini. Ketika telepon ditemukan pada tahun 1854, manusia hanya menggunakannya untuk saling berbicara. Seiring zaman, pada tahun 1973, Martin Cooper mengkonversi bentuknya menjadi lebih praktis, telepon genggam (handphone).
Pada tahun 1990, handphone generasi kedua sudah bisa mengirim sms, panggilan tunggu dan pesan suara. Hingga pada tahun-tahun terakhir ini kebutuhan manusia yang semakin mendesak dibuatlah fungsi untuk mendengarkan lagu, memotret, bahkan berseluncur di dunia maya.
Mudahnya berkomunikasi di telepon genggam membuat manusia bisa dengan mudah saling berinteraksi secara aktif. Kemudahan yang diberikan oleh sebuah telepon genggam dalam berinteraksi dengan aktif bisa kita temukan dalam media sosial. Sebuah media yang atraktif antara pengguna (user) dan jaringannya, membuat komunikasi yang jauh terasa dekat. Membuat sebuah hubungan kuat antara pengguna dan media sosialnya.
Bukan hanya itu saja, media sosial pun bisa berfungsi sebagai sebuah “papan pengumuman”. Setiap pengumuman dapat diperoleh disini. Anda bisa menemuka tulisan tentang politik, ekonomi, hukum, info pendidikan bahkan ajakan untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan lingkungan. Hal ini menunjukkan hampir setiap harinya dalam kehidupan kita media sosial menjadi salah satu bagian utama dari kebutuhan akan informasi yang kita inginkan.
Konteks Gerakan di dalam Kampus
Kampus Merah adalah salah satu pionir dalam melakukan aksi-aksi reformis di Indonesia atas nama rakyat. Namun selama ini aksi yang dilakukan mahasiswa dan tertanam dalam benak masyarakat adalah jenis aksi-aksi anarkis dan tidak terencana. Padahal media sosial bisa digunakan sebagagai alat untuk lebih proaktif membangun isu dan alat syiarnya.
Kesan yang sering ditemukan pada aktivis kampus lebih banyak curhat, mengeluh, berpuitis cinta dan berbagai celotehan lainnya. Hal ini mengarahkan bahwa tidak adanya kesadaran kolektif untuk membangun basis gerakan informasi. Padahal, era web 2.0 dapat menjadi peluang yang baik untuk mencapai sebuah misi gerakan. Sama seperti yang terjadi di Mesir awal Februari tahun 2011 yang menumbangkan rezim diktator.
Namun, pemanfaatan teknologi web 2.0 bukanlah satu-satunya cara untuk menjalankan manajemen isu. Cara-cara konvensional seperti humas, media organisasi, press release, seminar dan dialog hingga aksi pinggir jalan masih bisa berfungsi membangun isu ke publik. Tapi bukan berarti harus mengandalkan cara konvensional saja. Aktivis kampus harus mulai merubah paradigmanya terhadap media jejaring sosial. Tidak hanya sebatas ruang pertemanan, melainkan bisa menjadi sarana pembentukan jaringan informasi massif. Jaringan informasi yang mampu menciptakan dan memengaruhi opini publik pada isu-isu tertentu, baik sebagai syiar, memfilter isu negatif atau memengaruhi audiens.
Aksi Kecil Untuk Lingkungan
aksi cabut paku di Kampus Universitas Hasanuddin (5/10)
Menggunakan teknologi seperti media sosial bisa juga menggerakan massa untuk melakukan hal baik. Misalnya saja keinginan untuk melakukan sesuatu untuk pohon-pohon di Unhas yang sedang “sakit” karena paku-paku. Saya pun melontarkan sebuah status di laman Facebook saya, ajakan bagi civitas akademika untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Mudah saja, mencabut paku di dalam lingkungan kampus Unhas. Ternyata gayung bersambut, banyak mahasiswa yang tertarik. Mereka saling berbagi informasi dan mengajak mahasiswa lainnya.
Saya tak menyangka dari sebuah status di Facebook, saya berhasil mengumpulkan sepuluh orang untuk ikut aksi tersebut. Tidak terlalu besar memang, tapi untuk sebuah gerakan pertama, saya rasa ini sudah cukup. Saya hanya memasang status tersebut selama empat hari sebelum acara berlangsung.
Ide kecil untuk perubahan lingkungan sudah sering digaungkan beberapa kali di laman Facebook. Bukan hanya saya saja tapi beberapa ide lingkungan sudah ada sejak manusia mulai “melek” fungsi lain dari Facebook.
Tim aksi cabut paku yang terdiri dari berbagai fakultas di lingkup Unhas (5/10)
Aksi Sosial Para User
Selain Facebook dan twitter, saat ini sudah mulai menjamur media sosial lainnya. Misalnya Google +, Line, Kakaotalk, WeChat, Path dan Instagram. Semua media sosial bisa digunakan untuk kegiatan yang positif. Mengajak orang untuk saling peduli dengan lingkungan.
Saya pikir bukan hanya saya saja yang punya ide seperti itu. Menggunakan media sosial sebagai media penggerak massa untuk berubah. Misalnya saja Gerakan Pesisir ID, Kesemat, Terangi, dan lain-lain. Kesemuanya memiliki cara yang sama untuk menggerakan massa, media sosial. Mereka konsisten untuk terus menyapa secara aktif para user media sosial. Sehingga keinginan para pengguna untuk bergabung semakin besar.
Bisa terlihat setiap kita melakukan aktifitas harian baik di sekolah,kantor ,rumah dan lainnya media sosial selalu diakses dan dibuka hanya untuk sekedar memberi informasi yang berada di sekitar kita. Media sosial dijadikan sebagai kebutuhan untuk berbagi dan menerima informasi dari teman-teman yang tergabung dalam jaringan media sosial tersebut.
Asal Jangan Ketagihan Media Sosial
Idealnya sosial media dapat menambah fungsi dan peran dalam kehidupan nyata, misal pertemanan yang dibatasi oleh ruang dan waktu diatasi melalui media ini, namun tanpa melupakan pertemanan dan relasi di dunia nyata. Jangan menjadikan sosial media sebagai substitusi kehidupan primer, atau bahkan kehidupan sekunder (2nd life).
Penggunaan layanan sosial media yang berlebihan dan berdampak negatif tak ubahnya memiliki perilaku Internet Addiction Disorder (IAD) atau gangguan kecanduan internet yang ditandai dengan gejala umum seperti, lebih banyak waktu yang dihabiskan di internet, ada kecemasan dan gejala penarikan diri jika tidak menggunakan internet, mengganggu hubungan sosial di dunia nyata dan lain sebagainya.
Karena itu, bijaklah dalam memposting sesuatu dan jadilah pengguna media sosial aktif yang bermanfaat bagi orang lain.. 😀
Atrasina Adlina
(Ilmu Kelautan, Universitas Hasanuddin)

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *