Media Sosial dan Depresi

Belum lewat sebulan penyakit depresi coba digaunkan dalam kampanye Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (10/10). Harian Kompas melansir bahwa gangguan depresi di tingkat internasional saat ini telah menjadi silent epidemics.
Seseorang yang mengalami depresi dapat dilihat dari gejala-gejala antara lain kehilangan minat terhadap hal-hal yang awalnya digemari, kehilangan energy, dan kerap dirundung perasaan murung. Apabila gejala ini dialami terus-menerus, individu menjadi pesimistis, sukar konsentrasi, sulit tidur, bahkan bunuh diri. Kini prevalensi depresi global berkisar 5-10 persen dan angka di Indonesia pun tak jauh berbeda. Akan tetap, apakah ini akan menjadi sekedar angka saja tanpa upaya preventif?
Upaya preventif yang dibutuhkan harus datang dari diri sendiri dan keluarga. Pembatasan hal-hal yang menyebabkan depresi bisa menjadi salah satu solusi. Misalnya jangan bekerja terlalu berat tanpa diselingi dengan istirahat. Rehat sejenak dari segala macam aktifitas bisa menjadi obat dari depresi.

Penyebab depresi harus diketahui sumbernya, sehingga mudah untuk diantisipasi. Jika depresi dari pekerjaan, rehat sejenak. Depresi karena masalah percintaan, segera konsultasikan dengan pasangan.

Namun ada hal yang menarik dari pemicu depresi di dunia. Salah satu penyebab depresi diduga berasal dari sesuatu yang dekat dengan para remaja, yaitu media social. Kebanggaan terhadap tingginya populasi pengguna Facebook dan Twitter tampaknya perlu dikritisi kembali. 
Menurut pakar komunikasi nasional, fenemona tersebut justru semakin menguatkan bahwa masyarakat Indonesia lebih asyik mencari “keramaian” di dunia maya dibandingkan di dunia nyata hingga kerap merasa kesepian. Inilah yang dapat membuat individu kehilangan makna hidup dan memilih untuk bunuh diri.
Keterkaitan antara media social dan depresi juga pernah diteliti oleh ilmuwan dari American Academy of Pediatrics, terutama dalam penggunaan Facebook. Menurut pakar tersebut, tingginya intensitas penggunaan dapat menyebabkan depresi. Sebanyka 83 % dari 190 mahasiswa (18-23 tahun) menggunakan Facebook dalam sehari lebih dari 30 menit, kurang dari dua jam. Hasilnya, mahasiswa yang memiliki intensitas tinggi mengakses Facebook cenderung lebih sering mengalami depresi dibanding mereka yang hanya menggunakan beberapa menit per hari.
Media social juga dapat menyebabkan kecemburuan sosial. Ketika ada remaja yang menunjukkan eksistensi dan melakukan aktualisasi diri melalui dunia maya, ada remaja lain yang merasa iri karena pengalaman tersebut belum pernah dimiliki sebelumnya. Rasa iri akan semakin membuat individu tertekan dan menimbulkan bibit depresi dalam diri. Jadi, control diri dan bijak dalam penggunaan media sosial.
Semoga, kita masuk dalam salah satu orang yang bijak menggunakan media sosial. 😀
Sumber : Koran Kompas edisi Sabtu, 27 Oktober 2012

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *