Melihat Kegilaan Penambangan Bauksit di Pulau Bintan

seperti di Australia yang gersang nan tandus
Saya mengenal Kepulauan Riau karena ada teman saya yang berasal dari daerah tersebut. Nama itu menjadi tidak asing di telinga saya. Namun ketika saya datang di tempat tersebut, saya melihat kekacauan. Ternyata daerah ini menjadi pusat penambangan Bauksit. Sering dengar kata alumunium kan? Nah, Bauksit ini adalah material dasar untuk memproduksi alumina. Bauksit ditemukan pertama kali pada tahun 1924 di Kijang, Pulau Bintan. Sejak tahun 1935, Bauksit mulai ditambang dan diekspor ke luar negeri, seperti Jepang dan China. 
Bauksit terkandung di dalam tanah Pulau Bintan. Mengingat Bintan berada di dekat kawasan pusat pertumbuhan industri Batam dan Singapura, maka komoditas bahan galian yang tersedia di daerah ini sangat potensial untuk dikembangkan dan diusahakan untuk memenuhi kebutuhan pasokan bahan baku industri di kedua kawasan itu. Bauksit sebagai komoditas paling populer dari Bintan, walaupun demikian terdapat juga komoditas tambang lain diantaranya granit, andesit, pasir, serta tailing hasil pengolahan bauksit 
Cara pengambil bauksit harus dengan pemotongan hutan-hutan atau biasa disebut dengan pembersihan lokal (land clearing) dari tumbuh-tumbuhan yang terdapat di atas endapan bijih bauksit. Untuk melaksanakan kegiatan pengupasan lapisan penutup digunakan bulldozer, sedangkan untuk penggalian endapan bauksit digunakan alat gali muat excavator yang selanjutnya dituangkan/dimuatkan ke alat angkut dump truck.
Jadi bayangkan saja, hutan-hutan alami digunduli demi mendapatkan bauksit mentah. Truk-truk besar mengeruk tanah dalam jumlah besar. Membuat pemandangan di Pulau Bintan seperti gurun pasir. Entah sudah berapa banyak konversi lahan hijau menjadi daerah penambangan. Yang pasti ini merusak lingkungan. 
Tengok saja sedimentasi yang terjadi di sungai dekat dengan daerah penambangan. Hal ini dikarenakan untuk mendapatkan kualitas bijih bauksit yang paling baik, tanah harus dicuci dan memisahkan unsur lain (tailing). Misalnya saja lempung, kuarsa dan pengotor lainnya. Jadi jangan heran hika anda akan melihat warna sungai yang sangat keruh. Entah seperti apa bentuknya air sungai ini ketika mengalir ke laut. Otomatis hewan-hewan akan semakin jauh dari pantai dan terumbu karang mati karena sedimentasi yang sangat tinggi. 
Bintan memang terkenal memiliki kandungan bauksit yang paling tinggi dibandingkan daerah lain di Indonesia. selain Pulau Bintan, ada beberapa provinsi yang dikenal sebagai penghasil bauksit, seperti Kota Pinang (Sumatera Utara), Riau, Kalimantan Barat dan Bangka Belitung. 
Namun ketika pemasukan daerah banyak berasal dari penambangan bauksit, harusnya pemerintah dan segenap stakeholder dapat merehabilitasi daerah tambang menjadi kawasan hijau kembali. Cara-cara sederhana seperti penanaman kembali (reboisasi) harus digalakkan dari sekarang. Mulai dari sekarang, setiap perusahaan tambang harus menginventarisasi tanaman yang dapat tumbuh di tanah dengan kandungan bauksit yang rendah. Misalnya saja pohon pinus atau akasia yang pernah diusahakan untuk ditanam kembali di bekas galian tambang. Jadi, ketika proses penambangan telah selesai, perusahaan berkewajiban menanam kembali pohon-pohon di daerah tambang. 

Harus ada yang merubahnya, jika bukan kita, siapa lagi?
#sedih
Kepulauan Riau, 
10 Desember 2013, 10/12/13

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *