Memacu Adrenalin Jalur Kota Ambon – Latuhalat

me and my bike. 😀

Di Minggu pagi, pada hari terakhir bulan Agustus, saya memikirkan rencana untuk bersepeda santai ke Amahusu. Sebuah tempat yang berjarak 15 km dari Tantui. Disana sedang berlangsung Annual Yacht Race International, yang bekerjasama dengan Pemerintah Kota Darwin. Mengusung tema “Sister Cities”, kegiatan ini berlangsung selama seminggu. Jadi kapal-kapal dengan layar besar, mengarungi laut Banda hingga tiba di Benua Australia. Kegiatan ini sudah dilaksanakan sejak 25 tahun yang lalu. 
Karena berkeinginan untuk hunting foto disana, saya pun mulai mengayuh sepeda. Jam tangan menunjukkan pukul 07.00 Wit. Waktu yang tepat untuk gowes, karena semua orang belum berangkat ke Gereja. Jalanan di dalam Kota Ambon belum terlalu padat. Tapi kalau udah hari-hari biasa, jangan kira bisa melenggang bebas seperti hari minggu. 😀
Salah satu kapal layar yang sandar di Amahusu

Perjalanan dari Tantui ke Amahusu tidak menemui kendala yang berarti. Kontur jalanan yang turun dan naik masih dalam batas wajar. Saya tidak terlalu ngos-ngosan untuk tiba di Amahusu. Sisi kanan jalan kita bisa melihat pemandangan laut biru. Sedangkan di sisi kiri adalah bukit-bukit hijau dengan pohon-pohon tropis besar. Sebuah pemandangan yang menenangkan. Saya ketagihan dengan suasana seperti ini.

Setelah memacu sepeda, saya pun tiba di Amahusu sekitar pukul 8.30 Wit. Saat itu orang masih belum banyak yang berlalu lalang. Gereja di dekat pantai membunyikan lonceng, tanda kebaktian dimulai. Saya hanya sekedar mengambil foto kapal layar. Tak ada wawancara lebih jauh mengenai apapun disini. Menikmati minggu pagi yang teduh dan dingin. 
Setan apa yang merasuk, tiba-tiba saya berpikir untuk mengayuh sepeda lebih jauh lagi. Pikiran saya langsung teringat Latuhalat, sebuah lokasi yang menjadi salah satu lumbung ikan tuna di Pulau Ambon. Saya pun memberanikan diri untuk bertanya kepada seorang nona (perempuan muda dalam bahasa Ambon). Ia menjelaskan bahwa untuk menuju Latuhalat dibutuhkan waktu 30 menit menggunakan sepeda motor. Saya pun berasumsi bahwa menggunakan sepeda akan menghabiskan waktu 1 jam. Ide pun segera saya realisasikan. 
Kapal pencari ikan di PPI Eri

Saya memacu sepeda lebih cepat. Jalanan yang sepi membuat saya semakin bergairah untuk menuju Latuhalat. Padahal jalanan memiliki kontur yang menanjak. Saya sempat tidak kuat mengayuh sepeda dan akhirnya menyerah. Saya menuntun sepeda di tanjakan tersebut. Semua orang menyapa saya dan memberikan semangat.

“Ayo, Caca! Semangat Caca!”
Bahkan anak-anak kecil menyapa dan menyemangati saya
“Tante, semangat. Ayo lebih cepat, Tante!”
Ahahaha. Saya dipanggil tante! Langsung marah-marah di dalam hati. Emang saya setua itu ya? >_<
Setelah mengayuh lebih lama, saya pun tiba di Pelabuhan Perikanan Eri. Sebuah tempat yang menjadi tempat sandar perahu-perahu penangkap ikan. Saya hanya berfoto dan melihat keadaan kapal-kapal disana. 
Tak lama saya pun langsung mengayuh kembali sepeda. Melewati beberapa tanjakan naik yang lumayan membuat otot kaki terasa tertarik. Bisa dibilang kram kaki mulai menyerang. Saya terus bersenandika (bicara pada diri sendiri) dan menyemangati diri. Hingga saya pun tiba di Latuhalat. Jalanan turun dan berkelok-kelok saya jumpai ketika menuju Latuhalat. Hingga saya tiba di persimpangan jalan. Papan penunjuk jalan bertuliskan lokasi wisata menangkap mata saya.
Namalatu Beach dan Ambon Dive Center di kanan. Santai beach dan Pintu Kota di kiri. Saya pun memutuskan untuk mengunjungi Namalatu beach. Ternyata pantai tersebut telah disulap menjadi sebuah resort. Untungnya pengunjung bisa gratis masuk ke dalam resort walaupun tanpa membeli apa-apa. haha. Maklum, saya kan petualang kere. 😀
Menuntun sepeda memasuki kawasan Pantai Namalatu, saya menyapa warga sekitar. Saya melihat warung-warung makanan berjejer, namun belum ada satupun yang buka. Padahal perut sudah keroncongan dan cacing-cacing sudah berpesta pora tanpa makanan. Menurut warga, masih banyak penjual yang beribada
h di gereja. Saya pun menunggu sambil hunting foto.

Untung saja perasaan saya mengatakan untuk terus mengayuh.  Dan taraaaaa…. Pemandangan indah di depan mata…

Pantai Namalatu

Namalatu memiliki pasir putih dipadu dengan karang batu yang kokoh. Saat ini ombak sedang tidak bersahabat. Karena itu ada beberapa kapal nelayan yang didaratkan di atas pasir. Saya sempat bertemu dengan Pak Riky, mantan penjaga Ambon Dive Center. Ia memberikan saya sebuah buku yang berisi gambar-gambar mahluk laut yang cantik-cantik. 

Setelah waktu menunjukkan pukul 10.08 Wit, warung penjaja makanan mulai buka. Saya pun segera memesan mie rebus telur. Segelas teh hangat juga menjadi pengganti energi yang sudah keluar. Sembari bercerita dengan Mama penjual, Pak Riky dan seorang ibu dari Kejaksaan Agung Jakarta. Mereka bercerita mengenai kerusuhan yang mengubah kehidupan mereka. Ambon Dive Center yang dulu berdiri, saat ini sudah tidak ada karena kerusuhan tersebut. 
Tak terasa kami bercerita hingga satu jam lamanya. Saya pun pamit dan segera berangkat. Karena matahari sudah terik. Perjalanan pulang ke Kota Ambon ditempuh dengan waktu 2 jam. Benar-benar sebuah perjalanan yang menantang. Minggu depan saya akan menantang diri untuk pergi ke Pulau Saparua dengan bersepeda. Doakan saya berhasil. 😀

Ditulis di Pos Satpam Harta Samudera (lagi jaga siang)
11:25 AM 1 September 2014
Olahraga demi tubuh yang lebih sehat dan tidak gemuk. 😀

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *