Memaknai Sebuah Perjalanan ~ Titik Nol

Pagi ini saya menamatkan Buku Titik Nol karya Agustinus Wibowo. Kisah Agus yang berhasil membuat saya terus mengingat Bunda. Ming (nama kecil Agus), berangkat dan melakukan perjalanan. Ia bertualang hingga ke daerah penuh konflik. Buku ini menggabungkan sebuah cerita perjalanan dan cerita tentang Mama nya yang melawan ganasnya kanker usus. Dan saya menuliskan ulang beberapa halaman dalam buku tersebut. Sebuah bab yang bercerita tentang Hunza, saat Agus sedang terkena penyakit hepatitis dan bertemu dengan seorang kakek tua di penginapan tersebut. Ia membicarakan makna kebahagiaan bagi dirinya dan saya ikut terpesona pada kebahagiaan yang ia gambarkan. Karenanya, saya tuliskan kembali tulisan Agus di bawah ini….. 
………………..
Ruang kosong, perhentian dalam perjalanan adalah saatnya untuk memberi arti baru terhadap makna perjalanan itu sendiri. Di zaman sekarang, manusia melangkah lebih cepat, menjelajah lebih jauh, melihat lebih banyak, mengenal lebih luas, bermimpi lebih tinggi dan terus lebih tinggi lagi, tapi impresi justru sebenarnya semakin tipis, rasa pun lebih cepat memudar. Orang bilang kenikmatan perjalanan berbanding terbalik dengan kecepatan berjalan. Pemandangan terindah justru terlihat ketika melambatkang langkah, berhenti sejenak. Menetap berbulan-bulan di satu desa jauh lebih bermakna daripada menungjungi lima negara dalam lima hari. Di seberang perbatasan sana, Makcik Lam Li telah melewatkan waktu beberapa minggu di warung pemondokan di Srinagar, hanya dengan membaca buku. Tanpa aktivitas apa pun! Dimulai dari pagi yang malas, lembar demi lembar dilahap, dan ketika berakhir, eh langit sudah gelap. Hari lewat begitu saja. Dia sudah menghabiskan bercangkir-cangkir teh bermangkuk-mangkuk sup, tanpa terasa.
Dan bahagia.
Kebahagiaan. Kata itu sungguh mudah diucapkan. Semua orang tahu apa artinya, dan selalu mendambanya. Kebahagiaan itu memabukkan. Sekali mencicipinya, kita akan berusaha mati-matian untuk mencarinya. Tapi semakin dicari, kebahagiaan rasanya semakin menjauh. Inilah awal penderitaan, karena orang yang dimabuk kebahgiaan akan terus terobsesi, terus mencari, terus kehausan, diliputi keserakahan untuk terus menenggak dan menimbun tanpa henti. Kekayaan, pangkat, seks, cinta, nama besar, pujian, cita-cita, kesuksesan, negeri-negeri tuk dikunjungi…. Obsesi dan keserakahan ini membalik bahagia menjadi derita. Mencari kebahagiaan itu bagaikan ikan muda mencari laut. Dia telah berenang dari samudra ke samudra, pantai, pesisir, selat sampai laguna – tapi dimana laut? Dia terus mencari, tak juga ketemu. Ikan yang bijaksana menegurnya, memberitahunya bahwa dia sudah berada di laut. Si ikan muda protes : Ini bukan laut! Ini Cuma air! Dia lalu meneruska perjalanan pencariannya, mencari dan terus mencari.
Perjalanan bukan hanya berpindah, tapi juga untuk berhenti. Di Hunza, di tengah perhentian, kebahagiaan kurasakan dari kehidupan yang begitu biasa, tak ada kisah-kisah petualangan hebat atau menantang. Kebahagiaan yang kurasakan ini sangat lah pribadi, tak semua orang merasakan di mana letak kegembiraannya. Ironis memang, justru hepatitis yang kuderita ini, membawakan bagiku kebahagiaan yang sempat terlupakan. Kebahagiaan itu ternyata ada di hal-hal yang sangat sepele. 
Ketika menenggak segarnya sup tomat, menghirup teh susu manis hangat, aku sudah berbahagia. 
Membuka mata, melihat matahri di langit biru, terpantul pada salju yang menyilaukan, aku berbahagia.
Kebahagiaan adalah ketika rasa lapar akhirnya bisa kembali kurasakan, dan mi goreng bawang yang lezat buatan Hussain sudah terhidangkan. 
Kebahagiaan seorang musafir adalah berbagi kisah dengan para musafir lainnya, mendengar cerita tentang misteri Raja Hunza, memilih pakaian terbaik lalu terengah-engah mendaki bukti hingga mencapai benteng raksasa, dan terpingkal-pingkal saat menemukan sang tersangka “Raja Hunza” yang eksotik itu ternyata Cuma pejual tiket masuk.
Kebahagiaan itu adalah berjalan tanpa arah di jalanan gang, lalu ditawari ibu-ibu desa untuk masuk ke rumahnya, minum teh bersama, dan memuji bayi-bayinya yang cantik. Kebahagiaan adalah mengagumi kebebasan berpikir umat minoritas Ismaili, yang di tengah kemiskinan pun tetap bisa menyekolahkan anak-anak mereka. 
Kebahagiaan itu adalah menyambut datangnya tiga backpacker Jepang, seolah aku adalah tuan rumah dan mereka tamunya, lalu melewati pergantian tahun 2006 hanya dengan bernyanyi, sama-sama ketiduran di bawah selimut tebal. Tanpa resolusi, tanpa perayaan. 
Kebahagiaan itu adalah mengenali sisi kehidupan rahasia Hussain si koki, melenggang santai ke desa sekitar, mengobrol dengan relawan, mempelajari percakapan dasar bahasa Burusashki (yang susahnya setengah mati), menghadiri acara kawinan, sampai mengikuti petualangan mendebarkan lima pemuda berewokan mengendap-endap hanya demi menonton VCD porno. 
Ternyata sungguh mudah untuk berbahagia. Berbahagia itu sederhana. Tak perlu menunggu jadi kaya raya atau mengenakan mahkota raja. Semua orang bisa berbahagia saat ini juga kalau mau. 
Ada riset mengatakan, otak orang yang berbahagia lebih merespons secara positif terhadap hal-hal kecil dan sepele yang sering terlewat oleh orang lain. Kebahagiaan itu adalah menemukan bahwa kitab tanpa aksara, kitab suci yang yang paling mulia dan s
empurna itu, ternyata tidak perlu lagi dicari. Dia ada dimana-mana. Dia ada di sinar mentari dan daun-daun berguguran, Dia ada di serpihan salju dan gunung-gunung megah, Dia ada pada gelak tawa dan ratapan orang-orang, Dia ada pada siulan pada gembala dan setiap hembusan nafas, Dia ada begitu dekat bersemayam di hati, Dia ada dalam diriku juga dirimu. Aku memang telah terinfkesi Penyakit Hunza. Penyakit itu bernama “Kebahagiaan”. 
Dan, awas, penyakit itu menular!
Titik Nol – hal 314 -316 
ditulis ulang di Ruang Tunggu Rumah Sakit Jantung Harapan Kita
Selasa, 20:27 , 8 September 2015

You may also like

6 Comments

  1. Ak juga belum beli euy.. Ayok sama-sama beli yuk, trus minta kecup bibir dari penulisnya. hahaha. Panggil kak Taufan Badai.. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *