Membayangkan Kisah Roro Jonggrang di Candi Prambanan

Roro Jonggrang gelisah, ia mondar-mandir sedari tadi. Tangannya penuh dengan keringat. Peluh di dahinya tak bisa ia sembunyikan. Ia menerima kabar kematian ayahnya, Prabu Baka di medan pertempuran. Patih Gupala datang kepadanya tertatih-tatih. Roro tak siap menerima kabar ini. Ia gelisah. Kabar kedatangan Bandung Bondowoso, pembunuh ayahnya semakin santer. Kerajaan Baka yang selama ini dipimpin oleh ayahnya akan diambil alih oleh pembunuh itu.  

Tak berapa lama, hari itu pun datang. Hari penaklukan Kerajaan Baka. Bandung Bondowoso yang dikirim ayahnya, Prabu Damar Maya memasuki wilayah istana. Keadaan istana kacau balau. Bandung Bondowoso datang untuk menemui Sang Putri, pewaris kerajaan. Ia menginginkan dirinya untuk menjadi Raja Kerajaan Baka. Ia bersiap untuk mendominasi, namun betapa terkejutnya Bandung ketika melihat sang putri yang cantik jelita. Roro Jonggrang terlihat bak bidadari di mata Bandung. 

Permintaan pertama Bandung adalah menikahinya dan menjadikan Roro Jonggrang sebagai istrinya. Namun siapa yang sanggup hidup bersama pembunuh ayahnya? Begitupun Roro Jonggrang yang langsung menolak lamaran cinta Bandung. Ia tak mungkin menikahi penjajah negaranya. “Harusnya Kerajaan Baka, menjadi kerajaan terbesar di Jawa kalau tak ada manusia ini,” mungkin itu pikiran Roro Jonggrang saat itu. 
Namun tiba-tiba Roro Jonggrang berubah pikiran. Ia bersedia menikah dengan Bandung Bondowoso dengan dua syarat yang sepertinya mustahil dilakukan oleh orang biasa. Roro Jonggrang lupa bahwa Bandung merupakan orang sakti.
“Apa syarat pertama?” tanya Bandung tegas. Matanya menatap tajam Roro Jonggrang. Pikirannya hanya menjadikan Roro Jonggrang sebagai istrinya. Ia mencintai perempuan itu. 
Roro Jonggrang menginginkan Bandung membangun sebuah sumur yang saat ini kita kenal sebagai sumur Jalatunda. Sebuah sumur raksasa. Permintaan pertama Roro Jonggrang pun dipenuhi. Bandung Bondowoso dengan kekuatan saktinya berhasil membuat Sumur Jalatunda dalam sekejap. Roro Jonggrang terkesiap. Ia tak siap jika ternyata Bandung Bondowoso sangat sakti. 
Sang Putri pun tak kehabisan akal untuk menghabisi nyawa Bandung. Dengan amat lembut ia meminta Bandung untuk memeriksa keadaan sumur Jalatunda. Karena rasa cintanya, Bandung pun menyanggupi permintaan Roro. Tak lama ia mulai menuruni lubang sumur yang ia buat dengan kesaktiannya. 
“Saya akan meminta Patih Gupala untuk menutup lubang sumur ketika dia memasuki sumur,” pikir Roro Jonggrang. 
Diatas sumur Patih Gupala bersama Roro Jonggrang mulai menyusun strategi untuk menutup lubang sumur dengan tanah dan bebatuan. Patih Gupala bekerja dengan cepat agar lubang sumur segera tertutup. Harapannya Bandung akan segera mati dan tak jadi mempersunting Putri Roro Jonggrang. Setelah sumur tertutup rapat, mereka berdua saling pandang. Apakah Bandung dengan mudah mati seperti itu? 
Dugaan mereka tak meleset, Bandung tiba-tiba keluar dari dalam sumur. Berkat kesaktiannya, ia mendobrak batu-batu besar yang menimpa tubuhnya. Ia murka. Muntap. Bersiap untuk membunuh Patih Gupala dan Putri Roro Jonggrang. Pikirannya mulai tak karuan. Antara cinta dan benci. 
Putri Roro Jonggrang betul-betul tak habis pikir, bagaimana seorang manusia bisa bertahan di bawah tumpukan batu besar seperti itu? Kenapa ia tak mati? Ia pun merayu Bandung lagi. Laki-laki itu takluk dibawah sihir kecantikannya.
Ia segera memohon kepada Bandung Bondowoso untuk melakukan permintaan kedua. Sebuah permintaan yang mustahil dilakukan oleh seorang laki-laki. Membangun seribu candi. 
“Saya meminta kamu membangun seribu candi sebelum matahari terbit esok hari, jika engkau gagal, tidak ada kata pernikahan diantara kita,” ujar Roro Jonggrang dengan mantap. Ia yakin Bandung tak akan mungkin menyelesaikan 1000 candi megah dalam semalam. Mustahil. 
Ternyata Bandung Bondowoso tak kehabisan akal. Dengan segera ia memanggil bala bantuan tak terlihat. Segala mahluk halus dipanggilnya lewat upacara dan semedi. Ia bertitah agar seribu candi harus terbangun sebelum matahari naik ke peraduannya besok. Bandung mempersiapkan diri. Ia tak mungkin kalah taruhan. 

 

“Roro Jonggrang akan jadi milikku esok hari. Lihat saja nanti,” ujar Bandung Bondowoso penuh keangkuhan. Ia pun segera melakukan semedi dan memimpin pembangunan seribu candi. 
Di tempat lain, Roro Jonggrang gelisah tak terkira. Ia terlihat pucat. Tak menduga bahwa Bandung memiliki pasukan mistik yang akan membantunya membangun candi. Detik, menit, jam berlalu dengan cepat. Malam mulai bergerak. Roro Jonggrang mulai menyusun rencana. Ia tak sudi menikahi laki-laki itu. Pembunuh dan penjajah tak layak mendapatkan dirinya. Ia bukan budak. 
Roro Jonggrang bersiap melakukan tipu muslihat. Ia membangunkan dayang-dayang istana. Rencana penggagalan pembangunan candi tersebar secara diam-diam. Dayang-dayang membangunkan para ibu-ibu di sekitar istana. Saat itu matahari belum muncul. Langit masih gelap. Mereka kemudian berkumpul dan mulai menumbuk padi dengan alu. Bunyi alu didengar oleh ayam. Ayam-ayam mulai berkokok. 
Roro Jonggrang juga menyusun siasat untuk membakar jerami di sisi Timur kerajaan. Sinar dari api seakan-akan matahari telah terbit. Hal inilah yang menyebabkan para mahluk halus mulai meninggalkan pekerjaan membangun candi. Padahal mereka sudah hampir menyelesaikan bangunan. Sudah ada 999 candi yang dibangun. Sisa satu candi. 
Bandung Bondowoso murka. Sisa satu candi. Kenapa tiba-tiba matahari muncul? Kenapa tiba-tiba ayam berkokok? Kenapa tiba-tiba alu padi berbunyi bersahut-sahutan? Ia mulai mencari tahu. Dan betapa murkanya ketika ia mengetahui bahwa perempuan yang dicintainya, membuat muslihat tersebut. Ia tak terima. 
Dengan kekuatan terakhirnya, Bandung Bondowoso mengutuk Roro Jonggrang menjadi arca indah. Pelengkap batu di candi keseribu. Ia tak menyesalinya. 
*Kisah diatas merupakan alur cerita berdasarkan Wikipedia “Roro Jonggrang” yang didramatisir.  
Candi Prambanan Masa Kini
I’m so small
Terletak di antara dua provinsi, DI Yogyakarta dan Jawa Tengah, Candi Prambanan berdiri gagah. Pertama kali memasuki kompleks Candi Prambanan, saya merasa sangat kecil. Pikiran saya berkecamuk. Bagaimana bisa disaat itu membangun bangunan semegah dan seindah ini. Bagaimana para pekerja membawa batu-batu besar ini kesana? Dimana sumber bebatuan yang digunakan sebagai bahan utama bangunan candi? 
Pertanyaan tentang candi ini terus berkecamuk. Hingga saya mulai memasuki pelataran Candi Prambanan. Saat itu suasana candi masih sepi. Saya datang disaat hari kerja, bukan musim libur anak sekolah. Tak banyak orang datang disini. Manusia disini memilih foto-foto ataupun menuliskan sesuatu di telepon genggam. 
Di latar pertama Candi Prambanan, saya melihat banyak reruntuhan batu-batu. Menurut sejarah, pada tahun 1006, banyak bencana alam yang terjadi dan membuat konstruksi Candi Prambanan menjadi rapuh. Selain itu perpindahan pusat kerajaan Mataram Lama ke Jawa Timur di bawah kekuasaan Empu Sendok juga menjadi alasan Candi Prambanan hancur. Ditambah lagi di tahun 1584 Gunung Merapi memuntahkan lahar panas. Sejarawan mempercayai bahwa Candi Prambanan banyak hancur karena ledakan ini. Di pelataran yang memiliki luas 390 m x 390 m saat ini sulit diidentifikasi karena sudah hancur.
Saya meneruskan perjalanan ke pelataran kedua. Batu-batuan candi reyot disana-sini. Di bagian tengah yang memiliki skala luas 222 m x 222 m memiliki pintu masuk yang terdiri dari 2 atau 3 candi perwara. Disini terdapat 224 candi yang terletak dekat dengan bagian tengah candi. Disini banyak reruntuhan candi. Kita masih bisa melihat reruntuhannya di sisi kanan kiri. Saya membayangkan betapa indahnya candi Prambanan jika semua candi berdiri dengan utuh. Batu-batu sudah mulai terkelupas disana-sini. Lumut hijau juga menyerang beberapa sudut candi. 
Saya pernah mendengar seorang guide menjelaskan kenapa candi-candi yang hancur tak dibangun. Hal ini dikarenakan bangunan candi sudah hancur lebih dari 70%. Hal ini akan mengurangi keaslian candi. Karena itu restorasi candi hanya dilakukan jika kerusakan candi dibawah 70%. 
Reruntuhan candi-candi kecil di sekitar candi utama
Masa pemugaran candi juga mengalami beberapa tahapan hingga Candi Prambanan bisa terlihat megah seperti yang kita lihat saat ini. Di tahun 1953, semua restorasi candi hampir selesai. Candi Siwa menjadi candi kedua terakhir di restorasi saat itu. Hingga akhirnya Desember di tahun yang sama, Candi Prambanan diresmikan oleh Presiden Ir. Soekarno. Di tahun 1987, Candi Brahma pun diselesaikan pembangunannya. Candi Prambanan pun dibuka untuk umum dan masuk dalam kategori Cagar Budaya. 
Memasuki pelataran ketiga saya terasa semakin kecil. Disinilah, di pusat candi ada 8 candi besar yang bisa kita lihat hingga saat ini. Ber
diri gagah diatas 110 m x 110 m. Delapan candi itu adalah : Candi Siwa, Candi Brahma, Candi Wisnu, Candi Nandi, Candi A dan B (belum teridentifikasi), Candi Apit, Candi Kelir, dan Candi Menara Sudut. Saya mengagumi setiap sudut candi. Semuanya memiliki relief. Banyak sejarawan yang menafsirkan relief ini sebagai Cerita Ramayana di Candi Siwa dan Candi Brahma. Sebuah epos tentang percintaan antara Rama dan Sinta yang nyaris dihancurkan oleh Rahwana. Cerita ini memenuhi dinding kedua candi tersebut. 
Jika membaca kisah Roro Jonggrang, kita harus melihat ke bagian dalam Candi Siwa. Disana ada sebuah patung Durga Mahesasura Mardhini. Patung ini dipercaya sebagai tubuh Roro Jonggrang yang dikutuk oleh Bandung Bondowoso. Memiliki 8 senjata di tangannya, Durga terlihat kuat dan berani. Jika benar patung ini merupakan tubuh Roro Jonggrang saya tak heran. Pantas ia melawan saat ingin dinikahi oleh Bandung Bondowoso. 
Jejak sejarah di Candi Prambanan membuat saya kembali merenung betapa manusia bisa melawan apa yang tidak diinginkan. Roro Jonggrang tak menyesal dikutuk menjadi batu. Bandung Bondowoso pun demikian. Ia sudah berjuang hingga di titik akhir. Mereka sama-sama menang dalam arti masing-masing. 
Apakah sudah mirip putri? #eh
Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog #bukticinta_blog #loveorlost #loveorlostid yang diselenggarakan Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan www.loveorlost.id
Ditulis di Iskindo
21:54 PM Rabu, 14 September 2016
Sambil dengar lagu I Will Always Love You

You may also like

4 Comments

  1. Cerita Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso ini begitu terkenal dan populer saat saya belajar sejarah kala SD. Betapa, demi cinta dan kekuasaan, seorang pria rela melakukan apa saja karena dia sakti……

  2. Makanya gak usah jadi orang sakti bro. heheh. biar gak rela melakukan apapun. eh tapi kalau udah kadung cinta, mau gimana lagi ya?

  3. wow, lengkap sekali…. aku suka picturesnya sangat indah. Semua kisah klasik dari sejarah dan bangunan sebagai saksi biksu tentang sebuah cerita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *