Memoar Anak Kelautan di Unhas #happyannivUnhas60th

Dulu sekali, saya tidak pernah terpikir akan masuk dalam dunia kelautan. Berenang pun saya tidak bisa. Saya trauma dengan kolam renang. Ketika menginjak di bangku SMP, ketiga sepupu saya dari pihak Ayah pernah membuat saya hampir tenggelam di kolam renang. Parahnya mereka juga masih belajar berenang saat itu. Sehingga saya ditolong oleh orang dewasa. Sejak saat itu saya membenci kolam renang. Saya selalu membayangkan ada tangan terjulur yang kemudian menarik saya ke kedalaman kolam renang. 
Trauma itu tak berhenti ketika saya menginjak bangku SMA. Namun saya tertarik dengan pemandangan bawah laut yang disuguhkan oleh acara TV “Jejak Petualang”. Hostnya seorang perempuan, Riyani Djangkaru. Saat itu ia membawa pengembaraan saya jauh ke bawah laut. Ia membuat saya bisa melihat keindahan terumbu karang. Warna-warni karang bisa saya lihat berkatnya melalui layar kaca. Tak berhenti saya mengucap kata-kata tanda ketakjuban saya dengan dunia bawah laut. Hingga akhirnya, saya memutuskan untuk meninggalkan cita-cita saya sebagai Hakim dan berprofesi sebagai Ahli Kelautan. 
Mimpi itupun semakin besar ketika saya mengetahui bahwa ada sebuah Departemen Kelautan dan Perikanan. Mimpi saya otomatis beralih menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan. Saya pun belajar untuk masuk sebagai anak Kelautan di Universitas Hasanuddin. Menempatkannya sebagai prioritas utama saya. Pada tanggal 21 Juni 2008, saya pun diterima sebagai Mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas Hasanuddin. Sujud syukur waktu itu. Akhirnya harapan saya untuk bisa menjelajah Indonesia semakin sedikit terbuka. Karena Universitas Hasanuddin terletak di Makassar, salah satu pusat kota di Indonesia Timur. Tapi memang pada dasarnya saya tidak ingin mencari tau tentang Makassar, saya hanya mengaminkan pengetahuan yang saya dapat dari orang-orang terdekat. Misalnya saja : “orang Makassar hitam-hitam seperti orang Papua, kamu pasti yang paling putih disana”. “Orang Makassar itu kasar-kasar, lihat saja namanya Ma-Kassar”. “Pasti disana kamu gak akan lihat gedung tinggi”. Dan lain sebagainya. 
Ternyata dugaan mereka salah. Pertama kali menginjakkan kaki di Kota Daeng, saya terkagum-kagum oleh arsitektur Bandara Sultan Hasanuddin. Sangat modern dan mewah. Beda sekali dengan Bandara Soekarno Hatta di Jakarta. Oia, penerbangan ke Makassar merupakan penerbangan pertama saya. Sehingga Nenek (Alfatihah untuk beliau), membantu saya untuk menghilangkan rasa gugup. Beliau memberikan permen berkali-kali untuk menghilangkan dengung di telinga saya. Mata saya tak bisa terpejam waktu itu. Hingga tiba di bandara dini hari dan dijemput oleh Tante Elmi. 
keluarga besar Ilmu Kelautan 2008
sampel hasil dari praktek lapang
Makassar sangat panas. Badan saya dihinggapi penyakit kulit, Biang Keringat berminggu-minggu. Karena saya notabene tinggal di daerah sejuk, tiba-tiba harus beradaptasi dengan cuaca panas berhari-hari. Selain cuaca saya harus berdamai dengan bahasa. Orang Makassar agak aneh. Bahasa mereka sebenarnya menggunakan Bahasa Indonesia tapi ditambah dengan imbuhan. Seperti orang Jepang rasanya. Imbuhan seperti –mi, -ji, -ki, -di’, -ka, -ko, dan lain-lain tak lepas dari perbincangan sehari-hari. 
Hari pertama masuk ke kampus, saya segera mencoba mengakrabkan diri dengan teman duduk di sebelah kanan dan kiri. Saat itu mahasiswa baru diarahkan menuju Baruga Andi Pangerang Pettarani. Saya masih ingat duduk bersebelahan dengan mahasiswa Hukum, Reza dan mahasiswa Peternakan, Kusdiana. Hingga saat ini kami masih saling bertegur sapa melalui media sosial. 
Dugaan teman-teman saat itu yang bilang bahwa saya akan menjadi yang paling putih adalah HOAX. Turunan Bugis Makassar ternyata memiliki kulit yang sangat putih. Saya segera minder dengan kulit cokelat saya. Haha. Never judge people, guys. 
Mahasiswa Ilmu Kelautan! Gelar yang saya sandang sangat berat awalnya. Karena sebagai cucu pertama dari pihak
Ibu dan cucu kedua dari pihak Ayah, saya diharapkan bisa menjadi panutan. Sehingga di masa-masa awal kuliah saya kuliah dengan baik. Dan dimulailah kehidupan sebagai anak kelautan Universitas Hasanuddin. 

Masa-masa Orientasi Mahasiswa Baru Kelautan (OMBAK)

Di masa-masa awal, kami angkatan 2008 harus mengikuti orientasi dari pihak fakultas. Kakak-kakak senior yang ngajarin. Disini adalah ajang perkenalan diri dengan senior-senior yang hebat-hebat. Mereka jago berenang! Karena mereka, saya bertekad besar masuk ke Marine Science Diving Club (MSDC) Unhas. Tapi jangan dibilang kisah di awal kuliah ini sangat menyenangkan. Ada hal-hal yang harus saya pahami sebagai mahasiswa luar daerah. Bahasa adalah faktor hambatan terbesar. Senior ataupun teman-teman beberapa kali salah paham. Imbuhan –in di dalam bahasa gaul , sering dijadikan bahan tertawaan. “asik-asik tidur eh dibangunin, eh ada dibangunan”. 
Kami juga memiliki latihan fisik yang keras. Pada pagi yang telah ditentukan oleh senior, kami sudah harus kumpul di lapangan fakultas pukul 05.00 WITA. Ngapain? Lari-lari pagi, guys. Sambil nyanyi lagu kebanggaan kami.. 
“Kami anak kelautan, kami anak kelautan. Di laut ku jaya, di darat buaya. Kami anak kelautan”. 
Selain lari kami juga dilatih berenang oleh senior-senior. Di masa-masa inilah saya yang awalnya punya ketakutan dengan air menjadi terbiasa dengan air. Beberapa kali hampir tenggelam, tapi ternyata kuncinya JANGAN PANIK. Saya pun berhasil melewati seleksi ke tahap lebih tinggi, sertifikasi selam A1 di tahun 2009. Thanks to kakak-kakak, semoga jadi amal jariyah. 

Mata Kuliahnya ANEH namun menyenangkan

Di semester awal saya masih mendapatkan mata kuliah yang mirip dengan pelajaran SMA. Tidak ada yang sulit, semua dilalui dengan mudah. Kala itu IP Semester saya menunjukkan angka 3.6. wow! Namun di semester tiga, saya mulai diperkenalkan dengan mata kuliah yang terdengar aneh. Vertebrata laut, avertebrata laut, inderaja kelautan, sedimentologi, ikhtiologi sistematika, akustik kelautan, planktonologi dan lain-lain. Awalnya sih agak aneh pas megang-megang ikan untuk diteliti. Di pelajaran Ikhtiologi Sistematika saya sempat meneteskan air mata. Kenapa? Karena saya membedah ikan koki berwarna emas di bagian perutnya dengan pisau bedah. Kemudian, dengan aba-aba dari asisten, perut ikan dijahit kembali. Ketika ia berenang di air, cara berenangnya jadi bengkok. Hiks. Ikan ini saya lepaskan di kolam ikan di depan FIKP. Semoga ia masih hidup.
menjahit perut ikan
mengukur kepadatan mangrove
Tak hanya itu, saya juga mengambil mata kuliah yang belajar di lapangan seperti sedimentologi. Mata kuliah yang mengharuskan kita membedakan tipe-tipe pasir. Pergi ke daerah pesisir, kemudian mengambil sampel pasir. Setibanya di kampus, kami menjemurnya. Kemudian menyaringnya hingga menjadi butir-butir pasir yang berbeda. Setelah itu laporan! Haha. Banyak mata kuliah lapangan yang membuat kita kreatif untuk membuat laporan. Seperti mata kuliah Ekologi Laut, Avertebrata Laut, Vertebrata Laut, dan lain sebagainya. 

Masuk ke dalam Laboratorium

Saya selalu membayangkan kalau masuk ke dalam laboratorium akan menjadi sangat keren. Karena kita menggunakan jas putih seperti para dokter. Membawa peralatan laboratorium lengkap seperti membawa peralatan perang. Sebelum masuk ke dalam lab, para asisten yang sangat sangar meminta Tugas Pendahuluan. Apa itu? Semacam kuis yang diberikan sebagai pengetahuan awal bagi praktikan sebelum memasuki lab. Sehingga ketika masuk ke dalam lab, kita akan sedikit paham tentang pelajaran yang diajarkan oleh asisten lab. Saat-saat di laboratorium kadang menjadi ajang menggambar. Di salah satu mata kuliah Avertebrata Laut yang dipandu langsung oleh dosen, kami diminta untuk menggambar hasil observasi di mikroskop. Parahnya karena mikroskop hanya ada beberapa buah, teman-teman yang tidak kebagian melihat mikroskop memilih untuk mencontek. Haha. 
praktikum
praktek lapang

 

Menjadi bagian dari bagian organisasi

Menjadi mahasiswa tidak akan lengkap jika tidak masuk dalam organisasi. Inilah yang saya pahami. Sehingga saya pun aktif di dalam organisasi intra dan ekstra fakultas. Untuk kegiatan intra saya mengikuti kegiatan Senat Mahasiswa Ilmu dan Tekonologi Kelautan, Marine Science Diving Club, dan Musholla Bahrul Ulum (organisasi agama Islam di Kelautan). Sedangkan ekstra saya ikut dalam Himpunan Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan Indonesia (Himitekindo)
Disinilah saya belajar untuk mengorganisir diri saya sendiri. Karena saya mengikuti banyak organisasi ekstra juga. Saya punya motto yang saya pegang saat itu : Gagal berencana sama dengan merencanakan kegagalan. Ada beberapa sisi positif kita menjadi bagian dari organisasi, selain punya teman dan sahabat baru, kita akan mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan. Misalnya saja menjadi delegasi kegiatan-kegiatan kampus lain. 
para delegasi teman-teman Ilmu Kelautan se-Indonesia

Jalan-jalan sebagai delegasi

Karena kegiatan-kegiatan inilah saya mendapatkan banyak kesempatan jalan-jalan gratis. Misalnya saja ke Pantai Bira di tahun 2010 sebagai panitia untuk kegiatan Pengenalan dan Pelatihan Lingkungan Kelautan, Ekspedisi Takabonerate di tahun2009, Peserta Forum Penyelam Mahasiswa Indonesia di Bali tahun 2010, Kuliah Kerja Nyata di Pulau Sebatik dan lain sebagainya. Saya tidak mengeluarkan uang dari kegiatan-kegiatan ini. Tapi mendapat biaya dari pihak Universitas Hasanuddin untuk mendukung kegiatan seperti ini. 
Saya juga berkesempatan menjejak di Negeri Paman Sam karena memiliki ketertarikan intens dengan dunia kelautan. Jangan pernah memunggungi lautan.  Sebelum lulus saya mendapatkan kesempatan untk menjadi asisten peneliti universitas luar negeri yang datang ke Unhas (baca ceritanya disini). Hal inilah yang membuat saya semakin tertarik dengan dunia kelautan. Alhamdulillah di tahun 2013 saya pun mendapatkan amanah untuk menjadi volunteer di WWF yang menjelajah beberapa provinsi. Kelautan punya prospek besar jika diseriusi. Saya sering mendengar cerita anak kelautan yang berkesempatan melihat dunia karena kelautan. Saya pernah membuat daftar pulau yang saya kunjungi.. Dasar alay..
delegasi di Amerika Serikat

 Rasa kekeluargaan di koridor dan Samone

Ada satu yang tidak bisa saya lupakan sebagai anak kelautan di Unhas. Rasa kekeluaragaan yang sangat kental baik bersama teman angkatan, senior dan junior. Para senior tidak pelit dengan ilmu mereka. Jika kita memiliki pertanyaan, tinggal datang ke tempat berkumpulnya para senior. Ada tempat yang tidak akan saya lupakan karena tempat ini berjasa menghidupi saya. Mone dan Daeng Te’ne adalah dua orang yang berjasa. Di tempat inilah ketika saya tidak punya uang, mereka dengan senang hati memperbolehkan kami untuk berhutang. Pembayarannya bisa dicicil ataupun dibayar kontan jika sedang ada kiriman dari orang tua. Ini adalah gambar tentang koridor kami
Jika saya sedang tak punya uang, beberapa kali senior mentraktir saya. Entah itu gorengan yang harganya Rp. 500 per buah ataupun nasi kuning Rp. 4.000 per piring. Saya jatuh cinta dengan sambal buatan Daeng Te’ne yang berminyak. Ditambah lagi lokasi tempat mereka yang berada dibawah pohon bambu, membuat saya betah berlama-lama jika tidak ada kuliah. 

 Mengejar skripsi

Di akhir-akhir masa kuliah saya yang terlena dengan kehidupan lapangan, tiba-tiba terjun ke dalam dunia laboratorium. Penelitian akhir saya merupakan kerjasama antara University California of Santa Cruz mengenai spesies jamur. Awalnya saya stress karena harus terkurung di dalam laboratorium, tapi lama kelamaan semakin dinikmati. Walaupun pada akhirnya saya ‘murtad’ dari dunia mikrobiologi. Tapi saya banyak memetik hikmah dari fase kehidupan saya di laboratorium. Jangan pernah membenci apapun. Karena daun yang jatuh tak pernah menyalahkan angin. 
Selamat Unhas!
Terima kasih untuk Universitas Hasanuddin yang telah mempertemukan saya dengan orang-orang hebat. Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan.. Selamat ulang tahun Universitas Hasanuddin. Semoga jaya selalu. 
 
inshaa Allah di Unhas, saya menemukan jodoh..Mohon doanya. 🙂
p.s Tulisan ini sekedar catatan memori dari saya mengenai Ilmu Kelautan Unhas. Jangan sensi. Kalau sensi, buat tulisan tandingan. hahah. Sedikit catatan terima kasih karena cerita yang tak terlupakan. Saya bangga akan Universitas Hasanuddin! Bravo Unhas. Unhas Jaya!
Ditulis di ISKINDO
10:01 WIB Senin 5 September 2016
Sambil dengar lagu milik Rendy Pandugo – Kisah Klasik

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *