Mencari Sisa Sejarah Perang Banda

 The world provide human need, but not human greed – Proverb
Perjuangan melawan penjajah sudah ada sejak zaman dahulu kala. Ketika ketamakan dan kerakusan mulai hidup di dalam jiwa manusia, kehancuran jawabnya.
Jauh sebelum bangsa Barat tiba di Maluku, pala dan fulinya telah memperkenalkan Kepulauan Banda dalam dunia niaga Asia maupun Eropa. Jenis rempah ini diangkut oleh para pedagang berbangsa Arab, Persia, India, dan lain-lain dengan kapal-kapal dagang ke Teluk Persia, kemudian dibawa melalui darat melewati Konstatinopel ke daratan Eropa. Karena sangat dibutuhkan di Eropa, ditambah lagi biaya pengangkutan yang mahal harganya karena jauhnya perjalanan dari daerah produksi, jenis rempah ini mencapai harga berlipat ganda setelah tiba di tangan konsumen. Itulah sebabnya dengan semangat yang tinggi serta kemauan keras, membuat para pedagang memberanikan diri mencai daerah asal rempah, dengan mengarungi samudera yang luas penuh tantangan serta resiko. Hubungan baik antara pedagang dan penduduk tercipta dengan baik. Adanya beberapa kuburan tua yang bernafaskan bahasa Arab menjadi saksi di pulau ini. 
Kondisi yang menguntungkan bagi kedua belah pihak, membuat para penduduk cukup puas dengan keadaan ini. Rakyat hidup dalam suasana aman penuh kedamaian sambil menikmati hasil usahanya dari kebun-kebun pala yang bertebaran di seluruh pulau. Persahabatan serta hubungan dagang dengan kepulauan lain di Nusantara pun berlangsung dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan adanya pertukaran barang-barang seperti pakaian dan bahan makanan dari pulau lain. Namun keadaan harmonis ini tak berlangsung lama, ketika para bangsa Barat masuk ke Maluku. Dimulai dari Portugis kemudian Belanda dengan VOC nya. 

 

keadaan VOC di Banda
Belanda dengan VOC nya memaksakan adanya monopoli perdagangan. Namun VOC hanya ingin membeli pala dan fuli dengan harga paling rendah, mereka pun tidak berhasil mengalahkan pedagang-pedagang dari Timur yang sudah terlebih dahulu datang. Karena hal inilah, VOC mengambil tindakan kekerasan dengan menghukum rakyat Banda. Tindakan keji ini dikenal dengan “Banda Moord”. Hal ini terjadi karena rakyat Banda dituduh tidak patuh terhadap perjanjian yang telah dibuat sebelumnya, J.P Coen sebagai otak pelaku peristiwa berdarah itu pada tahun 1621 telah memusnahkan hampir seluruh penduduk Banda asli. Peristiwa ini membuat hilangnya penduduk asli Banda di pulau ini. Para pelarian pergi ke Kepulauan Kei, hingga saat ini kita masih bisa melihat Kampung Banda Eli dan Banda Elat disana. 

Kehadiran Bangsa Belanda di Banda

Kontak penduduk Kepulauan Banda dengan bangsa Belanda diawali dengan tibanya dua kapal yang dipimpin oleh van Heemskerk yang sebelumnya tiba di Hitu pada 15 Maret tahun 1599. Mereka tiba di Pelabuhan Orantata di Lonthor. 
Kedatangan mereka pertama kali dengan baik dan diawali dengan meminta izin dari Orang Kaya Banda agar bisa ikut dalam percaturan ekonomi. Namun VOC berbuat licik dan ingin menguasai alur perdagangan rempah di Kepulauan Banda. Padahal sebelum kehadiran VOC, sudah ada pedagang dari Timur, Inggris, dan daerah Nusantara lainnya. Namun VOC dikenal selalu memberikan harga paling rendah dibandingkan pedagang yang lain. Hal inilah yang membuat produsen lebih sering menjual secara gelap rempah mereka ke pedagang lain, selain VOC. Praktek monopoli dianggap gagal di awal kedatangan Belanda. Untuk menyingkirkan para pedagang non VOC, seringkali Belanda melakukan praktek licik. Untuk mencapai maksud tersebut, VOC tak segan-segan menjalankan politik nakal yang mengikat rakyat dengan berbagai macam perjanjian yang mengikat. 
Karena Inggris merupakan salah satu pembeli dengan harga yang lebih tinggi dari VOC, maka dalam persaingan dagang Inggris dianggap lebih berhasil dalam pembelian. Hal inilah yang membuat VOC mengeluarkan alat pamungkasnya dengan mengeluarkan perjanjian 23 Mei 1602 yang disebut Staten General. Inilah yang membuat VOC berani untuk melakukan penekanan monopoli terhadap bangsa Banda dan juga memperluas loji (tempat penyimpanan rempah) untuk menjadi benteng besar. 

Rakyat Banda Melawan

Lama kelamaan perbuatan Belanda semakin tidak menyenangkan. Tensi permusuhan diantara kedua belah pihak semakin meningkat. Selain pembangunan benteng di Pulau Neira, hal ini diperparah dengan terbunuhnya Verhoeff, seorang petinggi VOC di Banda ketika mengadakan perundingan mengenai pembangunan benteng. Kematian Verhoeff membuat pihak Belanda bekerja semakin cepat dan pembangunan benteng bisa diselesaikan. 
Setelah itu mereka pun mengadakan perjanjian pada 13 Agustus 1609, bahwa rempah harus dijual kepada Belanda. Bisa dikatakan VOC menjadi pembeli tunggal dalam perdagangan rempah di Banda. Namun dengan syarat Belanda harus merobohkan benteng yang telah dibangunnya. Kedua pihak merasa tidak ada titik temu yang baik, sehingga pada tanggal 14 Mei 1615 Belanda melancarkan serangan ke rakyat Banda. Target utama mereka adalah melumpuhkan pulau Ai  (salah satu pulau besar di Kepulauan Banda), namun mereka kalah dan pergi ke Ambon. 

 

Setahun kemudian, Belanda kembali menyerang Pulau Ai dan menduduki benteng Inggris yang dibangun disana. Kali ini Belanda berhasil menang dan menguasai pulau dan merebut benteng itu. Benteng ini dinamakan Revenge atau balas dendam. Selang beberapa tahun, J.P Coen datang ke Kepulauan Banda. Ia datang bersama pasukan besar dari Batavia. Maksudnya sudah jelas, menghancurkan Banda. 
Pada tanggal 11 Maret 1621, J.P Coen tiba di Banda dan melakukan penyerangan. Ia pun menggunakan cara licik dengan memberikan hadiah kepada rakyat Banda yang mau membukakan jalan menuju benteng alami rakyat Banda. Karena penghianatan beberapa orang Banda, akhirnya Belanda bisa masuk dan mengalahkan para pejuang Banda dengan mudah. 
wajah J.P Coen
Dari sinilah muncul perjanjian perdamaian yang menguntungkan pihak Belanda. Rakyat Banda diminta menyerahkan semua senjata, menyerahkan anak-anak mereka sebagai tawanan, dan mengakui kedaulatan Belanda. Namun ternyata J.P Coen tidak setuju dengan isi perjanjian yang dibuat oleh pihak Belanda, Heeren XVI. Ia merasa bahwa rakyat Banda tidak bisa dipercaya dan sering berkhianat. Karenahal inilah ia mulai melakukan pembantaian terhadap 44 Orang Kaya Banda. Para tahanan ini dibawa ke Benteng Nassau pada tahun 8 Mei 1621 dan kemudian dieksekusi mati oleh samurai Jepang. Kepala mereka dipenggal dan potongan badan mereka dibuang. 
Saat ini kita masih bisa melihat sumur yang digunakan sebagai tempat pengingat 44 Orang Kaya Banda yang dieksekusi oleh Belanda. Selain itu benteng yang digunakan sebagai lokasi eksekusi juga masih bisa kita saksikan disana. Tak hanya itu pula, beberapa meriam tua tergeletak di pinggir jalan. Sayangnya, beberapa benda tersebut tidak dirawat dengan baik. 
peristiwa pembantaian Orang Kaya Banda
Sejarah memang tak bisa begitu saja ditinggalkan. Para pejuang ini telah meletakkan tonggak sejarah perjuangan bangsa dalam mengusir penjajah. Walaupun harus dilalui dengan pahit, tapi pengorbanan inilah yang membuat Indonesia ada. Al Fatihah untuk para pejuang yang telah memperjuangkan masa depan bagi anak cucunya saat ini.
Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Tourgazam yang diadakan oleh PK-54 LPDP #TourgazamBlogContest
 
Catatan ini adalah hasil penelitian di beberapa sumber sejarah dan catatan travelling selama di Banda dua tahun lalu (22 Desember 2014)
kuburan rakyat Belanda di Banda yang sudah mulai hancur dimakan waktu
ditulis di rumah tercinta ketika menerima kabar bahagia lolos tahap pertama LPDP. Doakan bisa menyusul, teman-teman panitia 😀
23:34 WIB 3 Februari 2016

You may also like

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *