Mencicipi Pulau Osi, Pulau dengan Hamparan Bakau

Pemandangan dari Pelabuhan Hunimua

Banyak orang yang merekomendasikan untuk bertandang ke Pulau Osi. Sebuah pulau yang terletak di Seram Bagian Barat, Maluku. Akhirnya saya pun memberanikan diri untuk berangkat dengan berbekal uang 300 ribu hasil pinjaman. Lanjut!
Langit cerah dan berawan mengawali pagi menuju Pulau Seram. Ambon sedang lenggang di hari sabtu, saya dan teman-teman saya, Noen mulai memacu sepeda motor ke Pelabuhan Fery di Hunimua. Membutuhkan sekitar 1 jam untuk menuju Pelabuhan Fery. Kami mencoba mengejar kapal yang akan berangkat pukul 10 pagi. Namun ketika tiba di Tulehu, jam tangan sudah menunjukkan pukul 09.48. Kami pun memutuskan untuk istirahat di rumah neneknya Noen. Sedangkan saya memilih untuk berisitirahat di rumah saudara yang ternyata bertetangga dengan Neneknya Noen. Haha. 
Jam 11, kami kembali berjibaku dengan jalanan. Memacu kendaraan agar bisa mendapatkan kapal yang berangkat pada pukul 12.00 Wita. Karena kapal fery di pelabuhan ini akan datang setiap dua jam sekali. Dengan membayar karcis sebesar Rp 54.500 untuk satu motor dan boncengan, kami pun menaiki kapal fery. Dari atas kapal, kita bisa melihat air laut di Pantai Liang yang sangat mengesankan. I love it! 
resort Pulau Osi
Kapal pun mulai berangkat, saya hanya menekuri pertandingan gulat di layar kaca. Sedangkan yang lain tertidur pulas. Hingga akhirnya 1 jam perjalanan selesai ditempuh. Kamipun tiba di Pelabuhan Waipirit. Motor langsung dikebut, karena langit mulai mendung. Dan akhirnya hujan mengguyur. Kami sempat berteduh dan kemudian melanjutkan perjalanan.
Sepanjang perjalanan, saya terkagum-kagum dengan lukisan Tuhan. Hujan menambah kemesraan pemandangan indah ini. Kabut di antara pegunungan dan pohon-pohon hijau sangat memikat mata. Saya tak lupa terus mengangungkan namaNya. Hingga akhirnya kami pun tiba di Piru. Ibukota Kecamatan Seram Bagian Barat. Disini pembangunan sudah mulai terlihat, berbeda dengan daerah lain yang kami lewati tadi. 
Kami singgah di rumah sepupu Noen untuk menikmati mie rebus telur plus cabe rawit hasil panen dari halaman sendiri. Setelah mengisi tenaga, kami pun menuju Pulau Osi. Sekitar 45 menit dari Piru. Tak terlalu lama karena memang jalanannya sangat bagus dan pemandangan padang rumput menghampar. Saya terus menerus mengambil gambar dalam kecepatan. Noen tak mau berhenti. 
hutan bakau yang sudah gundul
Hingga akhirnya kami pun tiba di Pulau Osi. Sebuah gerbang menyambut kami. Selamat datang di Pulau Osi. Hamparan bakau menyambut kami. Saya bingung, gambaran pantai pasir putih segera sirna. Karena saya tahu, jika ada hamparan bakau, secara otomatis tidak akan ada pasir putih. Hal ini dikarenakan bakau membutuhkan nutrient yang ada di pasir hitam berlumpur. Bukan pasir putih yang berkarang. 
Kami pun langsung mengikuti jembatan panjang yang disediakan. Ada bapak-bapak yang meminta uang retribusi sebesar Rp.5000. Semakin jauh ke dalam ada beberapa resort di atas laut menguggah selera untuk sekedar mengambil gambar. Tapi saya tetap tak bisa menyembunyikan rasa penasaran. Mana pantainya? Mana terumbu karangnya? Hingga akhirnya kami pun tiba di sebuah perkampungan. Disinilah saya menemukan jawaban bahwa Pulau Osi tidak memiliki pasir putih. Jika ingin melihat hamparan pasir putih silahkan ke Pulau Marsegu. Disana ada hamparan pasir putih dan terumbu karang yang masih terjaga. 
Saya pun mengobrol dengan Pak Muhsin, salah seorang warga di Pulau Osi. Ia berasal dari Buton, Sulawesi Tenggara. Nyaris 99 persen penduduk di Pulau Osi berasal dari Pulau Buton. Sisanya sudah bercampur dengan Maluku dan Jawa. Pulau ini sudah dihuni sejak puluhan tahun lalu, bisa dikatakan bahwa Pulau Osi adalah pulau dihuni yang tertua di bagian Seram Bagian Barat. Saat ini ada lebih dari 300 kepala keluarga yang menghuni pulau ini. 
Dahlia, anak warga Pulau Osi yang sedang bermain ayunan.
Penduduknya menggantungkan hidupnya sebagai nelayan. Alat tangkap yang digunakan sangat beragam, seperti pancing, jarring, bubu, dan juga serok. Sedangkan tangkapan utama berupa ikan sunu dan kerapu. Sisanya menangkap udang dan terkadang kepiting. 
Dulu, Pulau Osi tidak memiliki jembatan seperti ini. Sejak tahun 2004, pemerintah mulai membangun jembatan untuk mempermudah akomodasi warga. Hingga pada tahun 2009, Pulau Osi
dinobatkan menjadi salah satu desa wisata di Seram Bagian Barat. Saat ini seringkali wisatawan datang dan menghabiskan waktu untuk tinggal di resort. 
Setelah puas mengambil gambar, saya pun segera meminta pulang. Noen menawarkan untuk mengejar fery jam 8 malam. Namun saya pun meminta untuk menginap saja dan menghabiskan malam bersama keluarganya. Menambah keluarga. 😀 

Tulisan ini tribute to Noen, dkk. hahah.
Ditulis di Harta Samudra menuju jam pulang
Selasa, 14 April 2015 4:34 PM

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *