Menembus Kabut Naik Mobil Hardtop di Desa Sukawana

Apa sih Hardtop itu? Bagi sebagian orang, pasti mengenal mobil Hardtop dengan sebutan mobil Offroad. Hahah. Sama juga dengan saya. Sejak pertama kali melihat mobil yang sangat maskulin itu, saya menyebutnya dengan sebutan mobil offroad, ternyata saya salah. Mobil itu dinamakan mobil jenis Hardtop, sedangkan olahraganya Offroad. Selama ini saya selalu melihat olahraga seperti Offroad hanya dari kejauhan. Sepertinya agak sulit untuk melakukan olahraga tersebut untuk traveler berbudget terbatas seperti saya. “pasti mahal deh”, pikirku. Jadi saya hanya berharap bisa mencicipinya suatu hari. Dan Alhamdulillah dapat kesempatan untuk offroad gratis dari pihak Trizara Resort. 

Glamping di Trizara Resort selama 3 hari, benar-benar berkah bagi saya. Karena saya bertemu dengan banyak blogger keren dan mencicipi kegiatan outdoor yang belum pernah saya coba. Tempat ini menyediakan banyak outdoor activities yang menyenangkan, dan kami berkesempatan mencicipi tiga olahraga yang seru. Pertama archery war, paintball dan offroad. Dari ketiganya, saya belum pernah mencoba paintball dan offroad. Karena itu saya senang sekali melihat jadwal yang diberikan oleh Kak Tracy. 

Aktivitas offroad hampir saja terlewatkan karena saya dan kak Griska leyeh-leyeh di atas kasur terlalu lama. Haha. Saya berlari-lari menuju mobil yang untungnya belum jalan. Kalau udah jalan, gak tau deh bagaimana ceritanya. Haha. 
Awalnya saya mendapatkan duduk di tengah mobil, jadi pemandangan tidak terlalu terlihat. Saya rada malas untuk mengambil kamera. Saya hanya menikmati pemandangan dari kaca depan. Mobil hardtop memasuki kawasan Kebun Bukit Unggul bagian dari Desa Sukawarna, Kebun Nusantara VIII. Di pemberhentian pertama, saya mendapatkan kesempatan untuk pindah mobil. Dan masuk dalam mobil yang berisik banget. Hahah. #kabur. 
gimana gak ngeri coba.. hahah
pemberhentian kedua
Perjalanan menaiki mobil hardtop ini sangat seru, beberapa kali mobil harus masuk ke dalam kubangan berlumpur. Menurut pemandu kami, akang Dahon, jalanan yang kita lalui sangat bergantung pada cuaca. “Padahal minggu lalu, jalanan ini kering, sekarang malah banjir begini,” ujarnya. Memang pada saat itu cuaca sedang mendung dan tetes air hujan membasahi bumi. Tak berapa lama kabut mulai turun. Awalnya masih sangat tipis, tapi lama kelamaan kabut mulai turun semakin tebal. Amazing!
Memecah kabut, mobil-mobil hardtop ini semakin garang. Kubangan-kubangan berlumpur dilalui dengan mudah. Sesekali kami berteriak antara ketakutan dan senang bercampur aduk. Di mobil yang saya tumpangi, beberapa kali Bena, Ghana, kak Gio, Ingga, dan kak Nia berteriak-teriak kencang setiap kali mobil memasuki kubangan berlumpur. Ternyata olahraga ini benar-benar memacu adrenalin. Gimana rasanya bawa mobil ini ya. Jadi penasaran. Mungkin di lain waktu saya mendapatkan kesempatan untuk mengedarai mobil ini sendiri. Hahah
kabutnya mantepp. gelap
ini emang kamera gue yang gelap. hahah
Akhirnya perjalanan selama 2 jam pun berhenti di sebuah tempat luas dan ada beberapa toko kecil untuk membeli makanan. Laper itu ketika cium bau mie rebus pakai telur dan irisan cabe rawit. Duh ngiler. Setelah mengisi bensin, tak beberapa lama kami diceritakan tentang sebuah benteng yang baru saja ditemukan pada tahun 2013. Benteng ini merupakan peninggalan Belanda di Kota Bandung. Ada tulisan Selamat Datang di Benteng Sejarah Belanda di bagian pintu masuk. 
Kang Sigit sebagai pemandu tur kami menjelaskan bahwa ada beberapa lokasi yang berdekatan antara satu sama lain di tempat ini. Benteng ini baru mulai diekskavasi sejak tahun 2013, namun belum ada tindak lanjut dari pemerintah mengenai benteng ini. Kang Sigit mengatakan bahwa benteng ini dibangun ketika Perang Dunia I berkecamuk. Tapi saya belum menemukan artikel yang menjelaskan mengenai benteng ini. Ada beberapa bagian yang belum dieksplorasi dan belum ada inisiatif pemerintah untuk mencari tahu lebih lanjut. Totalnya ada 12 bagian benteng. Banyak masyarakat yang mengambil besi-besi tua yang ada di benteng ini seperti dibagian jeruji-jeruji. 
salah satu bagian dari benteng
gunung Kasur
Benteng ini langsung menghadap ke Boscha, kita bisa melihat kota Bandung dari ketinggian. Menurut Kang Sigit, benteng ini dikelilingi oleh pegunungan. Ada Gunung Patuha di arah selatan, Gunung Tangkuban Perahu dibelakang benteng, ada juga Bukit Tunggul yang dipercaya sebagai tempat Sangkuriang mengambil kayu untuk membuat Perahu yang diminta oleh Dayang Sumbi. Selain itu ada juga Gunung Kasur yang menjulang megah. 
Setelah itu kami pun melanjutkan perjalanan menuju Trizara Resort. Mungkin karena letih, teriakan-teriakan mulai berkurang. Haha. Kemudian Bena duluan untuk mencicipi duduk di bagian kap mobil hardtop, membuat saya pun terpacu untuk mencobanya. Dan alhasil mulai saya teriak-teriak lagi. Tapi seru banget. Ketagihan euy naik mobil hardtop. Semoga ada kesempatan lain untuk mencicipi offroad. 
nyobain jadi orang gila
Thank you Trizara Resort for the adventure! Thank you juga untuk mamang-mamang yang jadi guide offroad. 🙂
Ditulis di ISKINDO
14:05 WIB Kamis, 9 Februari 2017
Sambil denger lagu Rockabye yang dinyanyikan oleh Anne Marie dan Clean Bandit

You may also like

3 Comments

  1. hihihi aku ngerasain naik mobil ini pas di bromo
    Bedanya bukan pas banjir banjiran, cuma buat ngelewatin padang pasir sama jalanan yang nanjak nanjak aja 😀

    Asik yaa ke trizara resort

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *