Menemukan Air Terjun di Kaki Salahutu

air terjun pertama
Ketika membicarakan Ambon, kita selalu akan mengingat senja dan pantai. Namun ternyata Ambon juga menyediakan wisata gunung dan air terjun. Perjalanan kali ini saya ditemani oleh teman dari Rumania, Simina dan sepupu-sepupu tercinta, Mira dan Aibo.
Ambon masih sangat gelap ketika saya dan Simina meninggalkan kota. Berkali-kali saya terkagum-kagum dengan warna langit yang berwarna jingga. Panorama matahari terbit di kota ini, walaupun tertutup oleh perbukitan tetap saja memukau. Sepanjang perjalanan, saya lebih banyak bertafakur dan menguap berkali-kali.
Kami pun tiba di Tulehu pukul 7 pagi. Saya dan Simina segera beranjak menuju pasar Tulehu. Disana banyak menyediakan kue-kue tradisional, ada ketupat santan, roti kacang yang masih hangat, nasi kelapa, klepon, dan lain-lain. Kami berdua menikmati makanan khas dengan lahap. Maklum, ketika beranjak dari Ambon, kami tidak sempat memakan apapun.
Perjalanan pun kami mulai ketika jam tangan menunjukkan pukul 08.30 WIT. Aibo dengan Mira, saya dan Simina. Perjalanan menuju air terjun di Waai, cukup mudah di awalnya karena dari Tulehu kita akan menemukan jalan besar dengan aspal yang sangat rapih. Namun ketika Aibo mulai menginstruksikan untuk masuk ke jalanan berbatu di sebelah kiri, saya mulai khawatir.
Ternyata semakin jauh, kekhawatiran saya terbukti. Batu-batu besar dan tanah merah menghiasi jalanan. Saya berusaha fokus dengan jalanan liar ini, tangan terus menempel di setir motor Vixion. Saya berdoa berkali-kali, agar saya tetap kuat membawa motor besar ini. Saya mendengar Simina berkali-kali mengingatkan saya agar berhati-hati, “Watch out, dlien. You need to stay focus.”. Sepertinya ia juga ketakutan sama seperti saya. Dan akhirnya ketakutan kita berdua terwujud, ketika tanjakan, saya tidak mengoper gigi ke gigi yang lebih rendah. Akhirnya kami berdua terjatuh.
Saya lekas mengangkat motor dan mengembalikan ke jalur yang benar. Ada beberapa lebam di siku dan di lutut. Namun saya tetap berusaha agar bisa tiba di tempat yang telah ditentukan. Oh iya, sekedar informasi, jalan ini dibuat secara swadaya oleh masyarakat, bukan oleh pemerintah daerah. Sehingga sepertinya jalanan masih membutuhkan waktu lama untuk menjadi jalanan aspal. Setelah insiden tersebut, saya lebih berhati-hati dan tetap terus melanjutkan perjalanan. Dari jalanan utama untuk mencapai titik kumpul kendaraan air terjun mungkin membutuhkan waktu 30 menit.

menuju air terjun
Kami pun tiba di titik kumpul kendaraan untuk menuju lokasi air terjun Waai. Suara air mengalir sudah mulai terdengar. Gunung Salahutu menjadi latar belakang semua panorama ini. Kami bergegas menuruni anak-anak tangga untuk menuju air terjun. Simina terlihat bersemangat, karena ia memang pecinta tracking seperti ini. Saya sempat terseok-seok, karena sudah lama tak berolahraga.
Namun gemericik air menyalakan kembali semangatku. Akhirnya kami pun tiba di air terjun pertama. Tingginya sekitar 3 meter, namun kolamnya lumayan dalam. Aibo dan Mira langsung menerjunkan diri. Sedangkan saya sudah bahagia bisa mencipratkan diri dengan air yang berasal dari mata air. Simina sudah sibuk untuk mulai memanjat air terjun pertama untuk menuju air terjun kedua.
Setelah bergantian dengan Simina, saya pun menuju ke air terjun kedua. Saya harus mendaki air terjun pertama untuk bisa mencapai air terjun kedua. Di pinggir air terjun, bebatuan besar menghiasi. Seperti ada yang melindungi air terjun agar tidak kotor, sedangkan pohon-pohon rimbun berada di atas air terjun. Ah, sayangnya saya tidak bisa mengambil gambar dengan baik saat itu.

air terjun kedua

Saya benar-benar terpesona dengan air terjun Waai ini. Namun ada beberapa hal yang sangat disayangkan. Warga membuang sampah di lokasi sungai, sehingga terlihat kotor. Padahal seharusnya mereka sadar bahwa air terjun dan kebersihan lokasi menjadi faktor penunjang paling utama di sebuah tempat wisata. Belum lagi penataan yang masih sangat amburadul. Sepertinya tidak adanya campur tangan pemerintah membuat tempat ini masih jauh dari kata layak.

Simina pun mengucap syukur sudah dating ke tempat ini sebelum menjadi lokasi wisata yang akan menimbulkan masalah bagi kelestarian air terjun ini. Saya pun mengamini syukur yang Simina ucapkan.

Ditulis di Hotel Amaris, sambil nonton film Stranger Than Fiction
26 April 2015, 1:47 AM

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *