Menengok Badai dari Mercusuar Jaga Utara di Sebira


badai mulai menyerang

 

ONDER DE REGERING VAN
Z.M. WILLEM III,
KONING DER NEDERLANDER,
ENZ., ENZ., ENZ.,
OPGERICHT VOOR DRAAILICHT,

1869.
Tulisan tersebut terpampang di diatas pintu masuk mercusuar ini. Sebuah plat yang terbuat dari baja hitam mengabadikannya. Dibangun pada tahun 1869, mercusuar digunakan untuk memandu kapal-kapal dagang dari berbagai belahan nusantara yang akan berjalan menuju Batavia (Jakarta .red). Karena terletak di ujung utara Jakarta dan ada mercusuar sehingga disebut sebagai Pulau Jaga Utara atau Noordwatcher.
Pertama kali menjejak di Pulau Sebira yang tepat berada di Kelurahan P. Harapan, Kecamatan P. Seribu Utara, Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. Ketika tiba di pinggir pantai Pulau Sebira kita akan melihat mercusuar bercat putih. Dengan tinggi sekitar 42 meter, mercusuar ini penuh dengan sejarah. Jika dilihat baik-baik banyak bekas lubang peluru terlihat di berbagai titik mercusuar. Tak heran jika mercusuar ini adalah salah mercusuar tertua di Jakarta dan menjadi saksi sejarah saat penjajahan Belanda. Dibangun pada tahun 1869, mercusuar ini banyak menyimpan cerita perdagangan Batavia saat itu.

 

Dibangun ketika Raja Belanda Z.M Willem III saat menjajah Tanah Air. Pembangunan bertujuan untuk menjadi pemandu bagi para pelaut di saat gelap. Mengingat pada masa itu, Batavia merupakan pusat kota penting bagi bangsa Belanda. Sehingga posisi mercusuar di ujung utara Kepulauan Seribu sangat dibutuhkan. Walaupun sudah dibangun, ternyata masih banyak kapal-kapal dagang yang karam di dekat Pulau Sebira. Hal ini diceritakan secara turun temurun. Pak Joko, selaku juru kunci di komplek mercusuar mengatakan ada beberapa kapal karam karena tidak sempat berbelok atau tidak melihat cahaya dari mercusuar. Karena zaman dulu, mercusuar sangat penting di dalam jalur pelayaran. Tugas seorang penjaga mercusuar harus memastikan lampu suar dengan bahan bakar harus terus menyala. Menjaga agar kapal-kapal yang melewati daerah tersebut tidak karam terkena karang. Syarat yang harus dimiliki sebagai mercusuar yang baik adalah bangunan tinggi di atas dataran yang lebih tinggi. 

 

di depan mercusuar
sponsor perjalanan. hahaha

 

Mercusuar Pulau Sebira masih tetap beroperasi setiap hari menggunakan surya panel untuk mengaktifkan lampu suar. Hingga saat ini mercusuar masih dioperasikan untuk menjaga keselamatan kapal-kapal yang berlayar melintasi perairan disitu. Walaupun teknologi semakin canggih dan sudah banyak kapal yang dilengkapi oleh GPS, mercusuar tetap memiliki fungsi. Salah satunya adalah fungsi yang mengingat sejarah. Potensi ini bisa menjadi potensi wisata yang menarik bagi Sebira untuk menjadi sebuah pulau wisata. 
Saya dan beberapa orang yang berkesempatan untuk menaiki mercusuar di siang hari. Pak Joko memberikan segerombol kunci kepada saya. “hati-hati, ada tangga yang berlubang” ujar Pak Joko ketika menyerahkan kunci. Saya pun membuka gembok mercusuar sendiri. Saya sempat memutari mercusuar, ternyata cukup besar. Menaiki tangga, bunyi besi berdenyit berkali-kali. Sepertinya saya terlalu berat. Saya memegang erat pegangan tangan di sisi kanan, takut jika tiba-tiba tangga jebol. 
pemandangan dari tingkat paling atas
menaiki tangga yang mulai berkarat dimana-mana

Saya menaikinya dengan sangat hati-hati. Ada 8 tingkat mercusuar yang harus dilewati. Jika ditotal, tinggi mercusuar mencapai 42 meter. Semakin tinggi, mercusuar terasa bergoyang. Mungkin karena angin. Ketika tiba di bagian puncak mercusuar, tiba-tiba langit berubah warna. Langit cerah berubah menjadi gelap dan mendung seketika. Awan bergantung di langit berwarna abu-abu. Angin juga mulai bertiup kencang. 
Padahal baru ada beberapa orang yang mulai menaiki mercusuar. Kita sempat berfoto-foto mengabadikan warna langit yang berubah mendadak. Semuanya masih tertawa dan bahagia, tiba-tiba hujan rintik menyapa.  Pak Joko berteriak dari bawah agar kami segera turun. “Sedikit lagi ada petir, turun semuanya!” ujarnya berkali-kali mengingatkan kami. Kami segera turun secepat mungkin. Walaupun tangga sudah rapuh, kami
segera meneruninya dengan segera. Benar saja, hujan tiba-tiba turun dengan lebat dan petir menggelegar. Untung saja kami sudah mencapai tingkat paling dasar dan segera keluar dari mercusuar. 
Kami tertawa-tawa dibawah setelah berhasil tiba dengan selamat. Padahal raut muka Pak Joko sudah sangat khawatir. Ternyata mercusuar yang terbuat dari besi tidak memiliki penangkal petir. Sehingga sangat berbahaya bagi pengunjung untuk menaiki mercusuar di saat hujan. Kami segera mensyukuri pengalaman berharga ini sudah bisa melihat pemandangan seru di atas mercusuar Sebira.
Ditulis di Gedung PKK Melati Jaya, Jakarta Selatan
22:39 WIB 25 Februari 2017
ketika Rapat Kerja Nasional Ikatan Sarjana Kelautan Universitas Hasanuddin

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *