Menengok Masa Kecil, Belajar Tak Melupakan Sejarah

Empang di belakang rumah yang akan disulap menjadi universitas

Ketika menjejak rumah di bilangan Tajur Halang minggu lalu, tiba-tiba ada obrolan mengenai kampung yang akan berkembang. Tak bisa dipungkiri, semakin banyaknya manusia, menuntut banyaknya sarana dan prasarana kehidupan penunjang. Menurut informasi Bunda, tanah di sebelah rumah sekaligus empang beserta sawahnya telah dibeli oleh sebuah universitas negeri di Jakarta.

Saya pun tiba-tiba mengenang apa-apa saja yang sudah terjadi di belakang rumah. Ingatan ini semakin kuat kala saya dan adik-adik bernostalgia dengan zaman-zaman itu. Kala itu saya memasuki jenjang SMP dan adik saya, Milzam dan Hany duduk di bangku SD. Kita bergenk dengan tetangga depan rumah, namanya Epan dan Furqon yang duduk di bangku SD dan TK. Kalau dipikir-pikir, saya ga punya temen di lingkungan rumah. Yaaahhh, jadinya ikutan sama anak SD dan TK. Hahah. 

Kelakuan kami saat itu, sama seperti anak kecil kebanyakan. Bermain layangan, berantem dengan tetangga yang beda genk, timpuk-timpukan lumpur, bahkan menyusuri sungai yang penuh dengan rintangan. Selain itu kita juga pernah piknik di kebun milik orang, di bawah pohon jambu mete. Kenakalan masa anak-anak juga sering kami lakukan. Misalnya mencuri jambu mete tetangga, mengambil ikan di empang orang, dll. Hahaha. Seru banget!
Parahnya, kita selalu mencari rintangan baru setiap hari. Entah menyusuri jalanan darat menuju Nanggerang atau jalan sungai menuju desa sebelah. Seringkali kita menemui kerbau di sungai yang sedang mandi. Atau sekedar ikut menceburkan diri di sawah ketika orang-orang sedang menguras empang mereka. Kita membawa baskon untuk menampung ikan-ikan yang kami dapatkan. Hahaha. Setiap hari, selalu ada RINTANGAN baru. 😀
belakang rumah
Bukan hanya itu saja, kami juga sering mendapatkan hewan-hewan aneh di setiap perjalanan. Pernah liat belalang dengan warna merah, kuning dan hijau? Tercampur di bagian badannya sehingga membuat kesan pelangi di tubuhnya. Dulu ketika Google belum menjadi acuan, kita suka menyebutnya Belalang Pocong. Karena kami yakin bahwa itu adalah jelmaan pocong dan tidak boleh diganggu. Belum lagi ikan-ikan yang berwarna aneh. Petualangan kami diisi dengan kejutan-kejutan yang berbeda setiap harinya. Masa itu benar-benar mengasah saya untuk suka dengan perjalanan.
jembatan bambu penghubung sawah
Yang paling lucu adalah kita dipimpin oleh Epan dalam melakukan rintangan. Ia selalu mengatakan hal-hal yang mengerikan. Misalnya saja buaya yang hidup di sebuah lubang sungai irigasi. Kami semua juga takut jadinya, taka da yang berani mendekati lubang di situ. Padahal ada lubang kepiting besar di sana. Padahal kalau dipikir-pikir, tidak mungkin ada buaya di saluran kecil irigasi. Hahaha. Masih banyak hal-hal lain yang diucapkan Epan saat itu, namun saya sudah lupa detail-detailnya. 😀
Selain petualangan, seringkali kita bertengkar dengan tetangga yang menyebalkan. Mereka selalu saja menggangu kami. Saya sering diejek “hitam”, padahal mereka sendiri juga hitam. Hahaha. Hingga saat ini, saya dan adik-adik tidak berteman dengan tetangga di dekat rumah. Ternyata, ketika kita sudah besar, salah seorang tetangga mengatakan kalau kita termasuk anak-anak aneh. Hahaha. Lucu juga kalau ternyata kita dianggap aneh… 😀
seakan di hutan!

Saat tulisan ini dibuat rumah kosong di sebelah sudah disiapkan menjadi kantor. Rasa-rasanya saya tidak akan mendapatkan kenyamanan lagi di kampung itu. Perubahan besar akan terjadi, dan saya rasa tidak akan lama lagi…….

Ditulis di Rumah Mbah Rayi
Jalan Dahlia 1, No. 182
Selasa, 5 Agustus 2014 18:48 PM

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *