Mengenal Manusia Purba di Leang-leang

Perjalanan kali ini saya lakukan berdua bersama M. Arifuddin. Menyusuri jalanan dengan landscape gunung-gunung karst di Maros. Sebuah maha karya indah yang telah diciptakan oleh Allah SWT. Dipinggir jalan itu tak luput terus bermunajat padaNya.
Pemandangan yang tak mungkin ditemukan di tempat lain. Karst (gunung kapur) di Maros adalah salah satu gunung karst terbesar di dunia. Setelah South China Karst di Yunnan, China gugusan karst Maros adalah yang terindah kedua di dunia. Bayangkan! Kedua di dunia!. sebuah anugerah yang tak terkira. Jikalau anugerah ini dikelola secara optimal, pastinya bisa menambah penghasilan para penduduk tapi jangan sampai kehilangan keindahan.

Kembali ke topik, saya mencari tahu tentang Leang-leang. Sebuah daerah yang menjadi salah situs bersejarah terkenal di Sulawesi Selatan. Awalnya saya pikir hanya ada satu goa di Leang-leang. Ternyata saya salah, Leang-leang bukan tak memiliki arti. Dalam bahasa Makassar, “Leang” berarti “Goa”. Karena memang banyak goa di daerah tersebut.
Sebelum memasuki kawasan yang dikelola oleh Dinas Pariwisata, anda bisa melihat Leang Burung di sisi kanan. Namun goa ini terlihat tak terawat. Banyak coretan-coretan di dinding gua. Manusia yang tak mengerti arti sebuah sejarah. Maklum saja, di Leang burung tak ada pagar atau pembatas. Sehingga orang-orang sekitar bisa leluasa memasuki kawasan purbakala ini tanpa pengawasan.
Kemudian saya pergi lebih jauh lagi, hingga akhirnya berhenti disebuah gapura bertuliskan “Selamat Datang di Situs Purbakala Leang-leang”. Saya pun segera membeli tiket yang disediakan oleh petugas di pintu masuk. Donasi untuk sebuah situs purbakala sudah seharusnya dilakukan agar situs tersebut bisa tetap terjaga. 😀
Saya dan Arif terkagum-kagum dengan lukisan alam yang disuguhkan oleh Allah SWT. Hamparan batu-batu hitam yang seperti dipahat membuat saya semakin larut dalam keindahan. Menurut Rahmat, guide yang menemani kami, batu-batu di Maros ada juga yang berasal dari laut. Hal itu bisa dibuktikan dengan adanya tiram dan remis kecil di sela-sela batu.
Menurut salah seorang guide, goa di Leang-Leang ini ditemukan oleh Van Heekeren dan Heeren Palm. Dua arkeolog Belanda ini menemukan gambar-gambar pada dinding goa (rock painting) di Goa Pettae dan Petta Kere, dua goa di Leang-leang, pada tahun 1950. Sedangkan, usia lukisan-lukisan purba di Leang-Leang diperkirakan 5.000 tahun. Beberapa arkeolog bahkan berpendapat bahwa beberapa di antara goa tersebut telah didiami sejak 8.000-3.000 sebelum masehi.
Goa Pettae menghadap ke barat. Gambar yang ditemukan pada goa ini adalah lima gambar telapak tangan dan satu gambar babi rusa meloncat dengan anak panah di dadanya.Selain gambar, ditemukan pula artefak serpih, bilah, serta kulit kerang yang terdeposit pada mulut goa. Untuk mencapai goa ini wisatawan harus menaiki 26 anak tangga.
Goa Petta Kere berada 300 meter di sebelah Gua Pettae. Peninggalan yang ditemukan pada goa ini adalah dua gambar babi rusa, 27 gambar telapak tangan, alat serpih bilah, dan mata panah.
  Leang-leang adalah sebuah bukti adanya jejak manusia purba di Maros. Peninggalan yang sangat berharga bagi dunia sains manusia. Apalagi setelah adanya situs megalitik di Gunung Padang memungkinkan adanya sebuah koloni besar manusia purba di Indonesia. We still dont know.. Karenanya kita harus terus menjaga dan melestarikan tempat-tempat bersejarah agar kita bisa mengenal manusia purba nantinya. 😀
Tugas kita sebagai generasi muda untuk terus menjaga tempat bersejarah.. Jangan mencoret-coret situs atau memindahtangankan barang-barang tersebut. Hidup generasi muda pecinta sejarah!! 😀

 Tajurhalang, 16 September 2013

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *