Mengenali Potongan Sejarah Ambon di Museum Siwa Lima

suku Tanimbar
Sebagai daerah yang menjadi pintu masuk kolonialisme, Maluku memiliki catatan sejarah yang sangat menarik. Kolonial seperti Portugis, Inggris dan Belanda berebutan daerah jajahan di Maluku, karena daerahnya yang kaya rempah-rempah.  Sebut saja cengkeh dan pala yang sangat dicari-cari. Banyak sejarah yang mengatakan bahwa Christopher Colombus mencari rempah-rempah ke Nusantara, namun malah menemukan Benua Amerika. 
Untuk mengenal sejarah Ambon, ada satu tempat yang bisa dijadikan rujukan. Terletak di kawasan Taman Makmur dekat dengan Amahusu, Museum Siwa Lima bisa menjadi pilihan untuk mempelajari sejarah Maluku. Saya datang kesini bersama seorang teman dari Makassar, kak Adhit. Sore itu sebelum museum tutup, kami berdua menuju museum. 
Untuk memasuki museum, kami diwajibkan membayar tiket masuk. Sama dengan situs-situs budaya di daerah lain, kami hanya merogoh kocek sekitar 4000 rupiah untuk sekali masuk. Rasanya tak cukup untuk biaya perawatan dan lain-lain. Terkadang saya miris, tiket masuk bioskop bisa sangat mahal dibandingkan dengan biaya masuk museum. Padahal ketika saya pergi mengunjungi museum World War II di Hawai’i, saya dibebankan biaya masuk hingga 150 dollar US. Bayangkan jika dikonversi ke dalam mata uang rupiah. Oke balik lagi…
Para pegawai sudah siap-siap ingin pulang, tapi kedatangan kami membuat kepulangan mereka tertunda. Kami segera menyimpan helm dan memasukkan nama di dalam buku tamu yang telah disediakan di pintu masuk. Dua ibu-ibu muda kemudian menanyakan jenis kamera apa yang kami pakai. Untuk kamera handphone dan kamera poket dibebankan biaya sebesar 2000 rupiah, sedangkan kamera DSLR dibebankan biaya 20.000 rupiah. Hal ini dikarenakan biaya perawatan benda-benda budaya di dalam lebih mahal jika terkena blitz dari kamera DSLR. Kami pun memilih untuk membayar untuk kamera handphone, karena kami tak ingin merusak benda-benda yang ada di dalam museum. 😀
Kesan masuk pertama kali adalah kita ingin diajarkan mengenai Maluku lebih dekat. Ada sebuah peta besar yang memberikan gambaran tentang Maluku. Saya pun dengan sok tau mengajari Kak Adhit mengenai Ambon. “disini loh letak Pantai Namalatu, disini loh letak Pantai Liang, disini loh letak Pintu Kota,” hahah. Berasa seperti tour guide gadungan. 😀
Saya pun memasuki ruangan yang disetting dengan lampu yang tidak terlalu terang. Hal ini dilakukan agar benda-benda disini tidak rusak. Karena banyak benda-benda yang sudah sangat tua. Misalnya saja kain-kain tenun tradisional khas Maluku Tenggara, benda-benda pra sejarah dan lain-lain. Saya benar-benar terpukau dengan foto-foto orang Maluku jaman dahulu. Ternyata banyak suku-suku pedalaman dengan bahasa sendiri yang masih ada hingga tahun 1900-an. Selain itu mereka juga berburu bukan bercocok tanam seperti saat ini.
kain tenun khas Maluku Tenggara
Menurut sejarah, Maluku sudah dikenal sebagai penghasil rempah-rempah. Saat itu Kekaisaran Romawi telah mengenal Maluku sebagai Supercillium Mundi. Pada abad ke 5, para penulis China mengabarkan bahwa cengkeh sudah popular di Maluku. Hingga kemudian datanglah para pedagang Arab, China, Eropa, India dan lain sebagainya. 
Banyak benda-benda sejarah yang bisa kita saksikan disini. Namun banyak yang tidak tahu sejarah Museum Siwa Lima itu sendiri. Saya berkesempatan mengikuti kelas sejarah yang diadakan oleh #AmbonBergerak. Pematerinya adalah Bapak Frans Rijoly, beliau adalah curator di Museum Siwa Lima. Ia pun mulai menjelaskan asal mula Museum Siwa Lima. 
Pendirian museum ini berawal dari UU Belanda untuk melakukan pengembalian barang-barang bersejarah ke Maluku pada tahun 1970. Barang-barang bersejarah tersebut ditampung di ruang sekolah di Karang Panjang. Kemudian setelah dicari untuk tempat museum, didapatkanlah gedung di daerah Air Salobar. Dulunya gedung ini digunakan sebagai Head Quarters bagi pemerintah untuk perjuangan pembebasan Irian Barat. Namun setelah itu tidak digunakan dan ada dua gedung yang digunakan sebagai ruang kuliah Universitas Pattimura.
Akhirnya pada tahun 1978 Museum ini didirikan oleh Yayasan Maluku Irian Barat Makmur, karena itu daerah di sekitar museum disebut Taman Makmur. Barang-barang budaya pun klimatisasi patung-patung kayu. Namun menurut Bapak, masih banyak patung-patung kayu yang tersimpan dengan rapih di Belanda dan Austria. Karena ketika masa penjajahan, banyak benda-benda budaya yang dijual oleh kolektor ke luar negeri. Hiks. 
Add caption
Namun saat ini Museum Siwa Lima memiliki sekitar 5000 koleksi. Namun saya benar-benar terpukau dengan foto-foto yang tertempel di dinding. Saya bisa membayangkan bagaimana keaslian suku Maluku pada zaman dahulu. Ternyata wanita dengan lubang telinga seperti suku di daerah lain terdapat di Maluku. Selain itu saya tidak habis piker ternyata di Pulau Seram terdapat gajah dengan gading yang sangat besar. Karena kita bisa melihat gading gajah terdapat di dalam museum ini. Selain itu ada juga fossil buaya besar yang ditangkap di Pulau Buru. 😀
Berkunjung ke Ambon rasanya belum lengkap jika tidak mempelajari sejarahnya. Ayo ke Museum!
Tulisan ini ditulis di Kantor Harta Samudra saat makan siang sambil dengar lagu I Miss You dari Blink 182
12:37 PM, Selasa 28 April 2015

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *