Mengintip Kehidupan Nelayan di Pulau Buru


Nelayan musiman di Desa Waepure
Jika mendengar Pulau Buru, apa yang ada di dalam pikiran anda? Sebuah pulau yang digunakan untuk mengasingkan para tahanan politik. Orang-orang yang dianggap komunis dan dianggap melawan Negara. Nah, setelah puluhan tahun berlalu Pulau Buru menjadi pulau tujuan transmigrasi. Banyak orang dari berbagai daerah di Indonesia datang kesini untuk mencari penghidupan baru.
Saya tinggal di Desa Waepure, sebuah desa yang masuk dalam wilayah Kecamatan Air Buaya. Tinggal di desa nelayan selama seminggu membuat saya banyak berinteraksi dengan mereka. Selain karena pekerjaan untuk mewawancarai nelayan yang masuk dalam kelompok Fair Trade, saya juga tertarik dengan kehidupan para nelayan pencari tuna.
Saya bertemu dengan Pak Hayun, seorang nelayan yang berasal di Sulawesi Tenggara. Awalnya ia mencoba memancing ikan tuna bersama pamannya. Setelah mulai terbiasa memancing ikan tuna, ia pun berusaha membeli perahu sendiri. Menurutnya memancing ikan tuna sangat menyenangkan. Adrenalin terpacu ketika tali pancing sudah ditarik oleh ikan tuna.
Ketika musim ikan mati beliau sangat senang (ikan mati– cara masyarakat Waepure menunjukkan musim ikan). Karena ia bisa mendapatkan 2 – 5 ekor ikan tuna. Namun saat ini musim ikan tuna sedang tidak stabil. Padahal ia harus bisa mendapatkan 3 ekor  ikan tuna agar menutupi ongkos solar dan es. Dengan rincian Rp. 1.600.000 untuk setiap satu drum (200 liter). Harapannya 3 ekor ikan tuna dengan berat 40 kilogram. Harga ikan tuna per kilogram adalah Rp. 30.000.
Jika ia tidak mendapatkan ikan, biasanya beliau akan pergi ke ladang. Ada beberapa nelayan yang memiliki ladang kecil untuk ditanami tanaman-tanaman pangan, misalnya singkong, kelapa dan cokelat. Tak hanya itu, mereka juga berusaha mencari ikan-ikan kecil untuk sekedar memenuhi kebutuhan makan. Istrinya tak banyak mengeluh, ia hanya berharap kehidupan mereka semakin membaik…  
Nelayan Pendatang Musiman
Selain nelayan yang berada di Waepure, ada juga nelayan musiman yang datang setiap musim ikan mati. Nelayan yang datang dari berbagai daerah di Pulau Ambon dan Pulau Seram ini dikarenakan cuaca tidak memungkinkan untuk ke laut. Karena itu mereka bermigrasi sementara ke Pulau Buru untuk mencari ikan tuna.
anak-anak nelayan
Selama tinggal di Waepure, nelayan ini sangat bergantung dengan supplier. Ketika datang ke Waepure, mereka harus meminta izin dengan supplier yang akan menjadi bos mereka selama di Waepure. Karena supplier yang akan meminjamkan uang untuk solar, uang makan, uang listrik dan lain-lain. Sehingga nelayan memiliki ikatan kuat dan tak terpisahkan oleh supplier.
Nelayan pendatang tinggal di kemah-kemah sederhana yang terbuat dari bambu dan terpal. Listrik hanya 12 jam, mulai dari sore jam 6 dan akan menyala sampe jam 7 pagi. Air untuk memasak mereka ambil dari sumur yang disediakan oleh supplier. Sedangkan air untuk mandi cuci kakus berasal dari sungai.
Kawasan Peneluran Penyu
Jika datang di Desa Waepure ada spot tempat peneluran penyu di sepanjang bibir pantai. Karena Pulau Buru menjadi salah satu rute aktif migrasi penyu. Bukan hanya di Desa Waepure saja, namun di berbagai desa di Pulau Buru menjadi lokasi peneluran. Namun sayangnya tidak ada penangkaran yang memiliki visi untuk menjaga kelestarian penyu.
Telur penyu dari kulkas
Sedihnya adalah telur penyu dikonsumsi oleh nelayan. Ketika penyu mulai naik ke daratan untuk bertelur, nelayan sudah menunggu dan siap untuk mengambil telurnya. Terkadang ada juga nelayan yang membunuh penyu untuk dimakan. Hiks.
Mereka mengatakan bahwa telur penyu sangat enak dimakan. Namun mereka tidak mengetahui jika penyu sudah memasuki tahap terancam punah. Karena itulah pentingnya edukasi secara konsisten terhadap nelayan-nelayan ini.
Yang lucu adalah ketika saya dan Bang Wildan memberikan materi tentang terancamnya penyu, eh ada nelayan yang membawa telur penyu. “Telur penyu dari kulkas nih,” ujarnya malu-malu. Ia mengaku masih ada beberapa butir di dalam kulkasnya.
Nelayan hanya menggunakan tongkat kayu untuk mengetahui lokasi telur penyu. Karena penyu bertelur di bibir pantai, mereka hanya perlu mencolok-colok pasir. Jika pasir terperosok ke dalam dan ada lender di ujung tongkat, maka bisa dipastikan ada telur penyu di dalam lubang tersebut. Hiks.
Ditulis di Kantor MDPI di Site Asilulu
16 July 2014 11:22 PM

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *