Mengunjungi Hewan Endemik Sulawesi di Tandurusa

salah satu elang di Taman Margasatwa Tandurusa
Siang itu (6/3), Kak Teguh mengajak saya dan Yostan untuk berkunjung ke Bitung. Sebuah kota yang memiliki banyak kenangan bagi Kak Teguh selama menjadi observer WWF disana. Menggunakan mobil rental seharga Rp. 250.000 per hari, kami pun berangkat bertiga. Butuh waktu sekitar 45 menit untuk tiba di Bitung jika ditempuh dari Kota Manado. 
Bitung dikenal sebagai salah satu kota pelabuhan perikanan terbesar di Indonesia. Terletak di ujung utara Pulau Sulawesi, Bitung merupakan kota pelabuhan yang menghidupi warganya. Disini banyak terdapat pabrik-pabrik ikan kaleng yang kemudian di eksport ke luar negeri. Ikan-ikan ini didapatkan dari kapal-kapal tangkap yang bersandar di pelabuhan Bitung. Jangan heran jika melihat banyaknya kapal yang bersandar di Pelabuhan Bitung. 
Tujuan utama kami sebenarnya adalah silaturahmi ke kolega dan seniornya kak Teguh. Tapi kami menyempatkan diri untuk singgah di sebuah taman margasatwa yang terkenal di Bitung. Taman Margasatwa Tandurusa yang terletak di kawasan Aertembaga dibangun sejak tahun 2007. Taman yang langsung menghadap Pulau Lembeh ini memiliki beberapa hewan endemik yang hanya ada di Pulau Sulawesi. 
Untuk masuk ke kawasan Taman Margasatwa pengunjung harus membayar Rp. 50.000 jika menggunakan mobil dan Rp. 10.000 untuk motor. Itu sudah termasuk biaya parkir dan biaya masuk. Jadi walaupun di dalam mobil ada 10 orang, pengunjung hanya dibebankan Rp. 50.000. cukup murah bukan? 
Pengunjung akan disuguhi beberapa kandang besi yang berisi hewan-hewan. Pertama kali memasuki kawasan Taman Margasatwa Tandurusa, kita akan melihat burung Kalkun dan Elang Bondol di dalam sangkar besar. Selain itu ada beberapa jenis burung lainnya seperti Kakaktua Raja, Kutilang, Merak, dan lain sebagainya. Sayangnya di setiap kandang tidak dilengkapi informasi yang memadai tentang hewan yang ada di dalam sangkar. Sehingga saya hanya bisa menebak-nebak jenis hewan yang ada di dalam kandang. 
Tarsiusnya lagi bobo. πŸ™‚
Selain burung, Taman Margasatwa Tandurusa juga memiliki β€˜artis’, yaitu Tarsius (Tarsius tersier). Hewan endemik Sulawesi ini didapuk sebagai hewan ikonik Sulawesi Utara. Beratnya yang hanya 80 gram dan panjang sekitar 10-15 cm, membuat hewan ini terlihat labil. sayangnya ketika kami datang, para Tarsius ini sedang tidur, karena hewan ini merupakan hewan Nocturnal (hewan yang aktif pada malam hari). Menurut informasi dari internet, Tarsius merupakan salah satu hewan yang paling setia atau disebut monogami. Jika pasangannya mati, maka ia tidak akan kawin lagi hingga ajal menjemputnya. So sweet.. 
Selain Tarsius, saya tertarik untuk melihat Monyet Yaki (Macaca nigra). Karena saya pernah mendengar rumor bahwa di Kampung Tomohon, monyet jenis ini dijadikan makanan. Namun saat ini monyet Yaki sudah mulai dilindungi karena populasi yang mulai merosot. Tersisa 5.000 ekor Yaki di alam bebas. Hewan yang memiliki bokong berwarna merah jambu ini dikenal sangat agresif terhadap pengunjung. Berhati-hati dengan ponsel anda jika sedang memotret, ada seorang pengunjung yang handphonenya ditarik ketika sedang berselfie dengan Yaki.
Kuskus beruang
Selain kedua hewan tersebut saya juga tertarik dengan hewan Kuskus Beruang (Ailurops ursinus). Hewan yang terlihat kalem dan tenang ini merupakan salah satu hewan endemik Sulawesi. Kuskus Sulawesi mengasuh anaknya di dalam kantong, mirip seperti Kangguru. Karena itu hewan ini masuk dalam kategori Marsupial atau mamalia yang memiliki kantung.  Tapi Kuskus ini terlihat lemah dan sayu. Hiks. Sedihnya.. 

Selain ketiga hewan tersebut menurut informasi di internet ada hewan-hewan seperti Burung Rangkong, Babi Rusa, Buaya air tawar, dan lain sebagainya. Namun ketika kami datang, tidak banyak hewan yang bisa kami temukan. Mungkin kami datang sudah terlalu sore. Tapi kami sangat puas bermain dengan salah satu Kakaktua jambul kuning di kandang. Ia dengan manja minta dielus-elus. Lucu sekali. 
Sedikit saran untuk pengelola Taman Margasatwa Tandurusa, hewannya harus lebih diurus. Ada beberapa spesies burung yang terlihat ketakutan dan monyet yang terus kelaparan.
Dibalik itu, saya berharap semoga Taman Margasatwa Tandurusa bisa menjadi sekolah alam dan media belajar bagi anak-anak agar lebih mencintai fauna endemik di Indonesia. 
Ditulis di Tahuna Hotel, Pulau Sangihe, Sulut sambil menunggu pengumuman beasiswa LPDP
22:19 WITA 10 Maret 2016
Bismillah!

You may also like

2 Comments

  1. Ohw, seperti itu ternyata aslinya Tarsius.
    Saya punya teman Mapala dari Manado, nama KPA nya Tarsius.

    Nanti kalau main ke Manado, sempatkan berkunjung kesini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *