Menikmati Keindahan Situs Budaya di Pulau Penyengat

Senja Pulau Penyengat dari Dermaga
Jika kalian datang ke Kepulauan Riau (Kepri) dan belum menginjakkan kaki di Pulau Penyengat, belum bisa disebut datang ke Kepri. Hal inilah yang membuat saya berkeras untuk datang ke pulau ini. Pulau yang sering dikatakan sebagai induk bangsa Melayu. 
bentor
Perjalanan dimulai dari Dermaga Penyebrangan ke Pulau Penyengat di dekat pasar. Kami berempat (saya, bang Fadri, bang Taufik dan bang Ade) menunggu kapal penangkut yang biasa disebut dengan perahu Pompong. Entah kenapa harus dinamakan pompong, mungkin bentuknya yang seperti kepompong. #sok tahu tingkat dewa
Oke, untuk satu kali mengangkut ke seberang, kami harus membayar 6 ribu rupiah per kepala. Perjalanan dari kota ke pulau memakan waktu sekitar 15 menit. Tak terlalu lama, tapi terkadang ada sapuan ombak dari perahu ferry besar sehingga kapal pompong agak terombang-ambing. #mual
Sesampainya di Dermaga Pulau Penyengat, kami ditawari untuk naik becak yang ditarik menggunakan motor. Kalau di Makassar disebut bentor, disini disebut juga disebut Bentor. hahah. Cukup merogoh kocek 30 ribu, kita akan diajak berkeliling Pulau Penyengat. Menurut sejarah yang dituliskan di papan pengumuman, pulau ini dinamakan penyengat karena ketika ada khafilah pedagang singgah di pulau ini untuk mengambil air minum, ia diserang oleh serangga sejenis lebah. Karena itulah pulau ini dinamakan penyengat. 😀
Pertama-tama kami menginjakkan kaki di Masjid Raya Sultan Riau untuk menunaikan apa yang sudah menjadi kewajiban. Masjid yang berukuran 18 x 19,8 meter ini berwarna kuning cerah. Konon, Sultan memerintahkan untuk memakai putih telur sebagai perekat dinding masjid sementara warna kuning cerah didapatkan dari kuning telur. Namun kuning cerah yang saya saksikan saat ini adalah cat tembok. 🙁
Kompleks Makam Raja Ali Haji
Tak lame, kami tuh pusing-pusing di sekitar situ naik bentor. Kami nak tengok  Kompleks Pemakaman Keluarga Kesultanan Johor-Riau di daerah Dalam Besar. Di kompleks pemakaman ini terdapat makam Engku Puteri Permaisuri Sultan Mahmud yang wafat pada 1812, makam Raja Ahmad, Raja Abdullah, Raja Aisyah Permaisuri, dan Raja Ali Haji yang merupakan seorang pahlawan nasional.
Disini anda akan dimanjakan oleh nasihat indah gurindam dua belas, syair melayu yang bercerita tentang nasihat-nasihat baik. Saya suka dengan beberapa gurindam. Misalnya saja :

Barang siapa tiada memegang agama,
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Tahu pekerjaan tak baik, tetapi dikerjakan,
Bukannya manusia yaituiah syaitan.
Setelah itu, kami juga mengunjungi Balai  Adat yang bergaya Melayu. Bangunan besar yang ibuat dari kayu ini berfungsi sebagai  pusat kegiatan masyarakat Pulau Penyengat mulai dari musyawarah hingga penyelenggaraan hajatan pernikahan.
Balai Adat
Setelah puas berfoto dan membeli souvenir, kami pun melanjutkan perjalanan ke Bukit Kursi. Disini anda akan melihat gedung yang dahulu digunakan sebagai tempat penyimpanan persenjataan  dan mesiu. Dan berjalan kaki sedeikit lagi, voila kami berada di atas benteng pertahanan. Padahal objek wisata ini sangat indah, namun tidak terurus. Sedih banget. 🙁
Semoga kelestarian budaya bisa tetap terjaga dan terwarisi untuk anak cucu kita. Karena dari budaya, kita bisa mengenal asal usul diri kita. 😀

Bandara Soekarno Hatta, Gate B7
Menunggu pesawat pulang ke Makassar
Rabu, 11-12-13 , 09:57 WIB

 

Kantor

meriam

Keadaan Bukit KUrsi yang tak terurus

You may also like

2 Comments

  1. Pulau ini hanya selemparan batu ketika waktu itu dapat tugas dari kantor.. beberapa orang menyarankan agar kami menyempatkan singgah ke Pulau Penyengat. Tp karena tugas saya ke tanjung pinang dibiayai negara, rasanya kurang elok kalau sedikit menikmati..walau kaki ini sudah saat ingin menginjak pulau tsb.

    Tp kata orang sono. siapa yang pernah minum air tanjung pinang, suatu saat bakal kembali lagi…hehe

    kalau buat travelling ke sana boleh lah

  2. aaaaminn ya rabbal alamin. semoga bisa kesana lagi. soalnya tempatnya keren sih. hehehe. 😀 sayang banget sih gak sempet. semoga bisa kesana ya kak. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *