Menjajal Spearfishing di Pulau Haruku

spearfishing menggunakan speargun sederhana. 😀
Spearfishing? Pasti diantara kalian ada yang bertanya-tanya apa itu spearfishing. Saya juga awalnya tidak mengerti apa itu spearfishing, hingga seseorang menjelaskannya. Spear adalah tombak, sedangkan fishingadalah kegiatan mencari ikan. Jadi bisa diartikan secara bebas menombak untuk mencari ikan. Alat yang digunakan dinamakan speargun. Yah, begitulah… 
Saya sudah mengenal kegiatan ini ketika kuliah di Ilmu Kelautan, setiap kali pergi ke pulau, teman-teman biasanya membawa speargun untuk menangkap ikan. Sebut saja Haerul, Cikal, Sul, Raka adalah teman-teman yang biasa membawa ikan hasil tangkapan mereka untuk dibakar rame-rame. Seringkali kita hanya perlu membawa nasi untuk ke pulau, sisanya tinggal mengambil dari laut. Karena laut menyediakan apapun untuk dimakan, asalkan kita bisa menjaganya dan merawatnya.

Namun pada saat itu saya tidak pernah tertarik menggunakan speargun untuk menangkap ikan. Rasanya sedih jika harus menembak ikan yang terlihat menggemaskan dan berenang-renang di air. Namun pada bulan November yang lalu, saya memutuskan untuk mencoba kegiatan ini. Ditemani oleh seorang senior dan beberapa ahli spearfishing di Ambon saya ikut untuk pergi ke Batu Lompa. Sebuah gugusan terumbu karang yang terletak di wilayah administratif Negeri Tulehu.
Air jernih di salah satu bagian Pulau Haruku

Untuk menuju ke Tulehu dibutuhkan waktu sekitar 30 menit dari Kota Ambon. Sekedar informasi, nenek saya berasal dari sana loh.. 😀 Oke kembali ke tulisan awal, saya menumpang mobil bersama Pak Fery dan Pak Hari, bisa dikatakan mereka adalah salah satu sesepuh olahraga freediving sambil spearfishing di Kota Ambon. Mereka menawarkan saya untuk ikut bersama Kak Roy. Saya merasa canggung, jujur saja, saya sudah lama tidak bergelut dengan alat-alat snorkeling lagi. Terakhir kali saya menggunakan alat tersebut mungkin bulan Maret, ketika saya pergi ke Pantai Koka di Flores. Setelah itu, masker, snorkel dan fins hanya teronggok di sudut kamar. 
Karena itulah, sebelum berenang saya mulai melakukan pemanasan berat. Mulai dari lari di tempat dan peregangan otot-otot. Saya menghindari keram yang biasa terjadi bagi pemula. Ketika menggunakan kaki katak (fins), kaki akan cenderung bergerak lebih lambat, disitulah terkadang kaki yang tidak melakukan pemanasan akan mulai merasakan kram. Jangan pernah menganggap sepele kram pada bagian tubuh jika sedang berenang, akibatnya bisa fatal. Tubuh tak bisa digerakkan dan akhirnya kita bisa tenggelam. 
Setelah pemanasan dan persiapan alat, kami pun meluncur ke Batu Lompa menggunakan kapal pribadi milik Pak Hari. Saya diberikan satu tembak, milik anak Pak Hari yang sedang berkuliah di Jakarta. Oia, untuk sebuah speargun, terdiri dari tiga bagian penting, muzzle untuk tempat karet untuk tombak kecilnya (shaft), barrel untuk tempat pipa dan trigger untuk menarik pelatuk. 
Awalnya canggung untuk memilih ikan-ikan yang akan ditembak. Karena mereka semua lucu-lucu dan berwarna-warni. Saya hanya memegang speargun dan berkeliling melihat ikan-ikan yang ada. Hingga akhirnya saya melihat seekor ikan yang lumayan besar. Karena merasa bisa mengejar ikan tersebut, saya pun mulai melancarkan serangan. Namun ternyata meleset. Shaft malah mengenai gundukan pasir. Saya mengambil tombak yang jatuh, namun ternyata memasangkan tombak pada badan kayu sangat sulit. kita harus menarik karet yang ada pada badan kayu. Saya butuh bantuan orang kapal untuk menarik kayu tombaknya. Haha.
Hingga akhirnya kita pindah tempat di Pulau Haruku, disana kami mendapatkan banyak hasil tangkapan. Ketika turun kedua kalinya bersama Pak Hari, saya berhasil mendapatkan dua ikan karang yang bisa dimakan dengan nasi putih panas. Mungkin bagi orang lain itu hal biasa saja, tapi rasanya menyenangkan bisa menangkap ikan secara langsung. Senangnya.. 😀
Dapat ikan banyak, ak cuman dapat 2 ekor.
Menurut saya pribadi, jenis penangkapan ikan menggunakan speargun adalah yang sangat selektif dibandingkan alat tangkap lainnya. Karena si spearo (julukan pengguna speargun) bisa menentukan mana ikan yang akan ditangkap. Berbeda dengan pengguna jaring atau jala yang tidak selektif. Begitupun pengguna pancing yang terkadang menangkap ikan hiu bahkan penyu di alat tangkapnya.
Namun setelah saya melakukan spearfishing, ada beberapa poin penting yang harus diperhatikan ketika melakukan freediving sambil spearfishing.
 
1.     Lihat hukum adat yang berlaku di daerah tersebut, ada beberapa daerah yang melarang praktik penembakan terhadap ikan.
2.  Usahakan jangan me
nembak ke arah terumbu karang. Ketika menembak, usahakan posisi badan sejajar dengan ikan. Sehingga tombak meluncur ke kolom air, bukan ke terumbu karang
3.      Jangan menginjak terumbu karang, usahakan menginjak pasir ketika sudah mulai kelelahan.
4.      Usahakan menembak ikan yang sudah mencapai usia dewasa, jangan ambil yang kecil-kecil.
5.    Ambil ikan sesuai dengan kemampuan mu saja, usahakan dimakan. Jangan cuman ditembak kemudian dibuang begitu saja. 
Ditulis di Harta Samudra, Rabu 25 Februari 2015 5:31 PM
Menyelesaikan tulisan-tulisan lama di dalam laptop. 😀

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *