Menjelajah Pulau Terdepan Indonesia, Sangihe

menikmati senja di pelabuhan terapung Sangihe
Mendengar kata Sangihe, ingatan saya segera terlempar di sebuah gugusan pulau di ujung utara Indonesia. Berbatasan langsung dengan Filipina, membuat pulau ini termasuk dalam deretan pulau-pulau terdepan Nusantara. Sangihe (namun biasa dibaca sebagai Sanger) merupakan pulau yang dihuni oleh sekitar 129.609 jiwa tersebar di 76 pulau. Sedangkan 79 pulau lainnya masih berupa daratan kosong. 
mercusuar di kota Tahuna

Sangihe merupakan sebuah kerajaan yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Ternate di masa lampau sebelum akhirnya diserahkan ke VOC pada tahun 1677. Dalam beberapa catatan lain, Sangihe disebut sebagai Nusa Utara. Menurut sejarah, Sangihe dan Talaud pernah menjadi konsentrasi wilayah bagi pasukan Majapahit sekitar tahun 1350 hingga 1365. (budayaindonesia.org)

Namun beberapa ratus tahun sebelumnya, diyakini sudah ada nenek moyang masyarakat Sangihe. Hal ini dibuktikan dengan adanya penggalian taring, gading hewan purba, gerabah bermotif, serta kerangka manusia purba. Benda-benda ini ditemukan di dalam Goa Bowoleba, Manalu. Menurut pihak arkeolog, temuan ini menunjukkan adanya aktivitas manusia sejak 5000 tahun silam.
Saya sempat bertemu dengan beberapa sesepuh di desa Kendahe (dibaca Kendar). Beliau mengatakan Sangihe merupakan kerajaan tua, namun bekas-bekas historisnya tidak bisa terlacak. Karena sangat sulit ditemukan bangunan-bangunan bersejarah bekas kerajaan. Namun yang unik, mereka percaya bahwa di Pulau Sangihe sendiri ada beberapa kerajaan kecil. Salah satunya Kerajaan Kendahe, hal ini dibuktikan dengan adanya makam raja Kendahe yang terakhir, Solomon Pontoh. Selain Kendahe masih ada beberapa kerajaan kecil lain seperti Kerajaan Manganitu, Kerajaan Sangihe dan Kerajaan Tabukan. 
salah satu raja yang paling terkenal di Kerajaan Manganitu
salah satu kuburan kuno milik Penginjil yang datang ke Sangihe
Menurut Pak Christomus, masyarakat di Pulau Sangihe adalah para penganut kepercayaan. Namun karena kerajaan ini bekerjasama dengan Kerajaan Ternate, banyak dari warga pulau Sangihe yang tersebar di beberapa kerajaan memeluk agama Islam. Hingga pada tahun 1570, biarawan dari Portugis mulai menyebar cepat di daerah-daerah setelah tiba di Ternate pada tahun 1522. Hal ini dibuktikan dengan adanya makam-makan para penginjil di beberapa daerah di Sangihe. Saya sempat menemukan kuburan para penginjil di daerah Tamako, yaitu Amanda dan Martin Kelling. 
Sangihe di masa kini terlihat sangat modern. Dengan ibukota Kota Tahuna, wajah pulau ini sangat ramah dan terlihat mengagumkan. Lanskap pegunungan dan lautan Pasifik merupakan perpaduan yang sangat indah. Selama beberapa hari di Sangihe, saya menemukan banyak hal menarik selain wisata sejarah. Di beberapa daerah di Sangihe ada lokasi tempat feeding ground dan nursery ground bagi salah satu hewan langka di Indonesia, Dugong ( Dugong dugon). 
Hewan yang bisa mencapai bobot hingga puluhan kilogram ini sering ditemukan oleh penduduk disekitar utara pulau Sangihe besar. Beberapa orang malah sudah membuat video mengenai hewan elegan ini. Salah satunya milik kak Faishal Umar, bisa dicheck disini. Hewan ini dipercaya jelmaan seorang perempuan yang marah kemudian ia membawa topi dan sebilah pisau. Perempuan ini berubah menjadi dugong, sedangkan topi menjelma sebagai penyu (puikang) dan pisau berubah menjadi seekor lobster (mimi mintuno). Namun di beberapa desa, dugong menjadi konsumsi warga. Hal ini dikarenakan kepercayaan setiap desa berbeda-beda. Ada yang menganggap dugong sakral ada yang menganggapnya sebagai salah satu lauk pauk. 
senja dari Kota Tahuna
Selain hewan dugong, ada b
eberapa hewan endemik yang hanya hidup di Pulau Sangihe, misalnya burung Udang merah (Ceyx sangirensis). Hewan yang hanya ditemukan di daratan Pulau Sangihe, ini sudah masuk dalam kategori terancam punah (critically endangered). Sebarannya di alam sekitar 250 ekor saja, itupun dengan penampakan terakhir pada tahun 1997. Ada beberapa spesies burung lainnya yang masuk dalam daftar hewan endemik Sangihe, yaitu burung kacamata, burung seriwang dan burung serindit. Ketiga jenis burung ini juga sudah masuk dalam kategori yang dilindungi. 
Selain hewan-hewan endemik, Sangihe memiliki keindahan yang memanjakan mata. Beberapa tempat bisa dijadikan tempat menghabiskan waktu bersama keluarga. Sebut saja Puncak Pusunge’, yang terletak di Desa Lenganeng. Ketinggian Puncak Pusunge sekitar 521 mdpl, sehingga mobil pun bisa menempuh hingga di puncak. Setibanya di puncak kita akan disuguhi pemandangan Sangihe 360 derajat. Saya paling suka dengan pemandangan ke arah Teluk Tahuna. Kota Tahuna terlihat jelas dari atas sini. Pengunjung bisa menikmati pisang goreng dan teh hangat sembari menyesap kabut dingin yang mulai muncul sejak pukul 4 sore. Menyegarkan. 
perempuan yang bekerja di ladang.
Pemandangan Kota Tahuna dari Puncak Pusunge
Selain Puncak Pusunge, Sangihe juga dikenal dengan beberapa pantai berpasir putih. Kami sempat mengunjungi Pantai Embuhanga yang terletak di daerah Tabukan Utara. Hamparan pasir putih dan pemandangan langsung ke arah Samudera Pasifik. Kontur pantai yang landai membuat tempat ini menjadi salah satu andalan pariwisata Pulau Sangihe. Saya juga sempat menemukan jejak lamun Enhalus sp. , setelah saya konfirmasi dengan penduduk, lokasi tersebut merupakan salah satu jalur feeding groundbagi Dugong.    
Tak cukup dengan pemandangan pantai, para pengunjung juga bisa menikmati keindahan bawah laut Pulau Sangihe. Daerah Sangihe menjadi salah satu jalur Ring of Fire, Gunung Mangahetang yang terletak di bawah laut membuat kondisi terumbu karang yang cukup subur. Sebut saja titik dive di Pulau Ruang yang disebut Old Lava. Tumpahan lava panas yang akhirnya menjadi penyubur daerah tersebut dan menjadikannya salah satu spot selam yang paling menarik. Selain itu ada juga kapal karam di Teluk Tahuna yang menjadi salah best spot diving di Sangihe. 
Pantai Embuhanga dengan pasir putih
 

Air terjun Pampanikian

Selain itu Sangihe memiliki air terjun yang lumayan menegangkan. Hape dan kamera saya sempat tercebur di kubangan menuju air terjun. Hape Asus tidak bisa diselamatkan, namun kamera masih selamat. Lokasi air terjun Pampanikian yang terletak di Desa Kendahe, memiliki kontur tertutup yang sangat eksotis. Hati-hati dengan kubangan yang harus dilewati untuk mencapai air terjun, harus siap basah pokoknya. Air terjun yang memiliki ketinggian sekitar 15 meter ini bisa menjadi lokasi foto pra-wedding. Hahaha #abaikan. 
Kebetulan ketika kami kesana, sedang ada Gerhana Matahari yang melewati wilayah Sangihe. Walaupun tidak sepenuhnya gelap, namun kami bisa menikmati fenomena langka yang hanya terjadi sekitar 30 tahun sekali. Betapa beruntungnya. 
gak punya item yang tepat untuk motret gerhana matahari. haha
Sangihe menorehkan cerita indah. Di pulau ini saya mendapatkan kabar bahagia untuk melangkah lebih jauh mengejar mimpi ke Kanada. Alhamdulillah. J
NB : Perjalanan ini dilaksanakan dalam rangka Rapid Assessment Bycacth dengan WWF Indonesia dari tanggal 1 – 13 April #WWFBycacth
Ditulis di Rasuna Tower 6 20D
17:32 WIB 22 Maret 2016
Sambil denger lagu Sara Barailles Gonna Get Over You

You may also like

7 Comments

  1. Saya kepengen kayak panjenengan loh Mbak, bisa menjelajah pulau-pulau gini. Basicnya sih anak pertanian, tapi boleh kan belajar punya jiwa lautan 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *