Menyusuri Keindahan di Rammang-rammang

Dermaga Rammang-rammang
Pagi itu saya sibuk. Mengurus keberangkatan kami ke Rammang-rammang. “Kami” itu terdiri dari Benjo, Ara, Alin, Atri, Ragel dan Siang. Kami mendapat tambahan personel, Fahri, temannya Alin. Ia bertugas menjadi nahkoda kami. 
Pukul 12.20 Wita kami berkumpul di Pusat Kegiatan Penelitian (PKP). Menunggu Farid, akan menjemput kami. Hingga pukul 13.00 Wita kami berkumpul di dalam sebuah mobil kijang antik. Alin dan Farid duduk di depan. Atri dan Benjo duduk di belakang. Saya, Siang, Ragel dan Ara berkumpul di tengah mobil. Entah kenapa formasinya sangat unik. #eh
Kami menembus jalanan Makassar – Maros dengan kecepatan sedang. Selama perjalanan kami membahas banyak hal. Absurditas. Acak. Tapi itu yang membuat seru dan lucu. Hingga tak terasa kami tiba di pertigaan pabrik semen Tonasa yang akan menghantarkan kami di Rammang-rammang. Sebelum menaiki kapal, kami makan siang dulu. Saya, Ara dan Ragel memesan mie ayam, sedangkan Alin, Siang dan Farid memesan bakso. Benjo dan Atri? Mereka hanya makan angin. Hahah. 
Perjalanan pun dimulai. Kami berhenti di jembatan pertama. Disana kami menuruni tangga curam untuk dapat mencapai dermaga Rammang-rammang. Rinai hujan mulai membasahi kami, payung warna warni kami buka untuk melindungi. Setelah tawar menawar dalam bahasa Bugis, kami sepakat membayar 100 ribu untuk satu kapal besar. Satu jam, kapal besar yang dijanjikan mengangkut kami tak jua datang. Akhirnya untuk membunuh jemu, kami berfoto tak jelas di pinggir dermaga. 
Ketika hujan semakin deras, kapal kami datang. Panjangnya sekitar 5 meter dengan lebar 1,5 meter, dengan mesin tempel di sebelah kiri. Saya duduk di bagian tengah. Awalnya saya hanya menikmati gambaran Nypa fruticans di kanan kiri. Tak ada yang menarik kecuali batu-batuan di tengah sungai kecil. Sesekali ular menyebrang sungai, Ara tak jadi mencelupkan tangan di sungai. Hingga kami disuguhi oleh pemandangan indah. Zamrud hijau yang tersingkap. Ah…
Pegunungan karst di pinggir kiri saya menyejukkan. Saya serasa berperahu di sebuah tempat yang jauh, tak dekat dari keramaian kota. Tak terdengar hingar bingar kendaraan dan lain sebagainya. Hanya rintik hujan yang membasahi payung kami. Semuanya senyap karena menikmati pemandangan indah. Saya tak lepas memuji keindahan yang diberikan oleh Allah SWT. 
Karst tinggi di kedua sisi membuat kita merasakan sensasi lain. Belum lagi ketika perahu kecil yang kami tumpangi melewati gua kecil di pinggir sungai. Menurut penduduk, pernah ada manusia yang melihat keberadaan buaya muara di tempat tersebut. Tapi kami tak beruntung untuk melihat species tersebut kali itu. Mata saya tak berhenti takjub dengan lukisan indah di depan mata. Seakan ada surga tersembunyi di balik jalan beton menuju pabrik Tonasa. 
Hingga akhirnya kami tiba di sebuah desa. Ketika perahu menepi, kami melihat sebuah tempat hunian indah. Desa kecil yang dihuni oleh lima belas kepala keluarga. Dikeliling tebing dan sawah hijau menghampar. Listrik belum menyentuh desa ini. Jika malam, warga ditemani cahaya dari lampu tempel. 
Di dekat hamparan sawah ada sebuah Leang (Goa) bernama Leang Pasuang. Konon, di depan gua tersebut sering diadakan sabung ayam. Jadilah nama goa itu Pasuang. Tapi kami tak menyambangi goa tersebut. Hujan membuat jalanan sangat licin. 
bersantai di lego-lego
Kami menikmati sore ditemani cemilan-cemilan yang dibeli oleh Benjo. Saya juga bertukar cerita dengan istrinya Daeng Beta, beliau menceritakan tentang anaknya yang saat ini sedang bertugas di Papua. Anak yang tak pernah pulang selama lebih dari empat tahun. Ia dengan semangat menceritakan anak-anaknya. Saya pun mendengarkan dan sekaligus berkeluh kesah mengenai kecintaanku pada Makassar, tanah surga. 
Ah, entah kenapa saya jadi galau kepada ibu ini. Rumah Daeng Beta sudah pernah disinggahi oleh beberapa artis ibukota dan pencari β€œsurga”. Sebut saja Riri Riza, pernah datang menyambangi rumah Daeng Beta dan membubuhkan namanya di dalam buku tamu. Ara pun tak mau ketinggalan, ia menuliskan Laskar Sebatik pernah mendatangi tempat ini. πŸ˜€
Add caption

Tak terasa, arloji menunjukkan pukul
17.45 Wita, kami harus kembali ke peraduan masing-masing. Menikmati malam ditemani mimpi indah mengenai keindahan Rammang-rammang. Saya bersyukur dapat menikmati Rammang-rammang sebelum pindah dari Makassar. Thanks temans Laskar. πŸ˜€
Ditulis keesokan harinya setelah mengunjungi Rammang-rammang
Jumat, 10 Januari 2013

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *