Menyusuri Sungai Air Besar, Ambon

live a life you will remember ๐Ÿ˜€
Ketika di Ambon, saya memiliki hobi baru, yaitu menjelajahi sungai untuk mencari air terjun. Karena saya percaya bahwa Ambon memiliki sungai serta air terjun yang memukau. Air disini masih sangat jernih, tidak seperti di kota besar yang berwarna cokelat bahkan hitam. Di Ambon, air masih bening, sampah yang ditemukan hanyalah daun-daun jatuh berwarna kuning. 
Karena itu jika kalian datang kesini, usahakan agar tidak membuang sampah plastik yang kalian bawa. Masukkan ke dalam tas masing-masing dan buang di tempat sampah di dekat rumah. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menjaga keindahan ini?? Be a responsible traveler. ๐Ÿ˜€
Kembali ke cerita, saya bersama kak Erna dan Risyan menjelajahi Sungai Air Besar atau yang biasa disingkat dengan Arbes. Terletak di daerah Kebun Cengkeh, sungai ini mengalir melewati kota Ambon. Pintu masuk tertulis โ€œSelamat Datang Di Obyek Wisata Pemandian Alam Ulima Indah Arbes Negeri Batumerahโ€. Di sebelah kanan jalan kita akan menemukan warung-warung yang menjajakan pisang goreng. 
Pengunjung akan disuguhkan dengan riuhnya masyarakat yang sedang mencuci baju. Ada juga anak kecil yang bermain. Ibu-ibu membuang deterjen di sungai. Bapak-bapak yang membuang puntung rokok. Ah. Menyedihkan.. 
jeram ketiga
Tapi kami tetap meneruskan perjalanan ke atas. Karena Sungai Air Besar ini memiliki tujuh jeram. Kami baru mencapai jeram pertama, masih ada enam jeram lainnya yang harus dieksplore. Kami pun memanjat beberapa tebing yang lumayan curam. 
Di jeram ketiga, kami harus berbasahan untuk tiba di atas. Ini adalah jeram yang paling sulit untuk kami panjat. Saya takut jatuh. Tapi melihat kak Erna yang bisa tiba diatas, saya pun juga memanjat tebing. Tapi melalui jalan yang lebih mudah, tidak terlalu terjal dan harus basah. Hehe. 
minum kopi sambil lihat langit luas seperti ini. siapa yang tidak betah?

sungai jernih
sukak!
Setelah itu, kami masih melanjutkan perjalanan. Kami bertemu dengan sekelompok anak muda yang mencari batu-batuan sungai. Menurut mereka, batu-batu ini digunakan sebagai alat praktikum. Kalau tidak salah, mereka dari jurusan Geologi.  
Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, kami tak segera melanjutkan perjalanan. Kami memilih untuk duduk di pinggir sungai. Risyan memasak air dan kemudian menyeduh kopi sachet. Kami bercerita banyak tentang kehidupan. Tertawa dan cerita adalah agenda kami hari itu. Hingga tak terasa gelas sudah kosong, semua cemilan sudah dimakan. 
Pukul 16.30 WIT, kami memutuskan untuk pergi dan kembali ke rumah masing-masing. Kami segera merencanakan perjalanan berikutnya. Entah kapan. ๐Ÿ˜€ 
Semoga saya bisa kembali ke Ambon lagi. Aminn ya rabbal alamin..

Ditulis di Kantor Kak Agus,
21:38 WIB Kamis 15 Oktober 2015
Sehabis dari Rumah Sakit Fatmawati, buat surat keterangan bebas TBC

You may also like

4 Comments

  1. Aduhai segarnyaa Mbak, musim kemarau begini pengen nyebur-nyebur, mandi sampai puas kayak di sungai ini hahaha. Waktu itu berarti tidak sampai seluruh jeram ya Mbak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *