Mimpi Ayah dan Bunda Memasuki Usia Senja

Manusia hidup seringkali dikendalikan oleh impiannya. Manusia banyak melakukan cara agar bisa mencapai apa yang diinginkannya.

Sama seperti Bunda, di umurnya yang mulai menua, keinginan Bunda agar bisa mengunjungi Tanah Suci semakin menggebu. Beberapa kali keinginannya itu diutarakan secara langsung. “Bunda ingin sekali bisa naik haji, atau minimal bisa umroh,” ujarnya. Mimpi itu semakin hidup akhir-akhir ini. Apalagi ketika beliau menyinggung mengenai sepetak tanah yang besarnya tak seberapa.

Beda lagi dengan Ayah, walaupun tak terlalu menampakkan citanya, tapi saya yakin ada yang berdesir di dadanya jika mendengar kata Haji. Sudah ratusan kali sepertinya Ayah dipanggil Pak Haji oleh orang-orang yang mengenal Ayah lewat tampilannya. Ayah gemar mengenakan gamis panjang dan terkadang melilitkan surban di atas kopiah putihnya. Panggilan ‘Pak Haji’ selalu beliau aminkan. Sambil tersenyum dan saya yakin, doa itu pasti menggema dalam hatinya.

Sejak Ayah dan Bunda menginjak umur 50 tahun di 3 tahun lalu, mereka berdua semakin menggebu menggemakan mimpi tersebut. sebuah mimpi yang mereka ikhtiarkan dan doakan agar terkabul suatu saat. Mungkin bagi sebagian orang mimpi ini terdengar sederhana, tapi tidak bagi mereka. Saat ini menghidupi keenam anaknya, berjuang tanpa lelah. Berharap suatu saat keajaiban datang menyapa mereka.

Banyak orang yang mengatakan bahwa pergi ke tanah suci merupakan sebuah panggilan. Banyak orang yang memiliki harta namun tak punya rasa untuk pergi kesana. Tapi orang-orang yang tak berpunya, mereka dengan senang hati akan mencapainya. Walaupun harus rela berjalan ratusan kilometer untuk mendapatkan kesempatan mengecup Hajar Aswad. Karenanya, pergi ke Tanah Suci Makkah menjadi sebuah hal teristimewa. Banyak orang yang berlomba mendapatkannya.

Ayah dan Bunda yang mulai memasuki usia senja semakin sering membicarakan mimpi mereka. Selain kesuksesan anaknya, mereka ingin pergi ke Makkah dan Madinah. Dua daerah yang sering disebutkan dalam Al-Quran.

Dan apa daya, anak pertama ini belum bisa mengabulkan permintaan mereka. Saya saja masih sering meminta kepada mereka. Padahal saya sudah mulai beranjak dewasa. Sedih dan malu rasanya belum bisa berbakti kepada kedua orang tua. Padahal waktu terus saja bergerak tanpa lelah. Mengambil detik demi detik tanpa terasa. Hingga satu saat, entah mereka atau saya yang kembali kepadaNya.

Dan di usia senjanya, mereka berdua saling menguatkan. Saling mencinta. Saling berdoa. Agar mereka berdua bisa pergi bersama menuju Rumah-Nya. Karena apapun yang terjadi, mereka akan terus memegang janji yang telah diucapkan di depan Tuhan-Nya.

Saya jadi ingat dengan sebuah adagium dari Andrea Hirata di dalam bukunya.

Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu

Rasanya, Ayah dan Bunda sedang mendekap erat mimpinya. Entah di dalam hidupnya ataupun tidurnya.

Semoga di Ramadhan ini, semakin banyak doa yang mengalir kepada mereka berdua untuk mewujudkan mimpinya. Entah kapan dan bagaimana, tapi saya berharap mereka mampu melaksanakan mimpinya. Menggenapkan apa yang sudah mereka bai’at.

Ditulis di kamar kost

1:24 WIB 18 Juni 2017

23 Ramadhan 1438

Sambil dengar lagu Raihan – Haji Menuju Allah

 

#15harimenulis Hari kesembilan : MIMPI

1. Andi Arifayani http://www.andiarifayani.com/merawat-mimpi/
2. Maruf M Noor https://sajakantigalau.wordpress.com/2017/06/18/mimpi-anak-anak-pulau/
3. Andi Citra Pratiwi http://www.acitrapratiwi.com/2017/06/cerita-tentang-mimpi.html?m=1

4. Atrasina Adlina http://adlienerz.com/mimpi-ayah-dan-bunda-memasuki-usia-senja/

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *