Nelayan Pengembara di Pulau Buru

rumah semi permanen nelayan pengembara
Berbicara soal nelayan kita akan mengingat sebagai pekerja keras yang selalu melakukan invasi lokasi baru dalam sistem kerja mereka. Nelayan seringkali berpindah-pindah dalam kurun satu masa dan kondisi tertentu agar bisa mempertahankan kehidupannya. Perpindahan yang dilakukan nelayan tidak mencakup perpindahan lokasi penangkapan semata, malah ada jenis nelayan yang membawa serta keluarga dan kapalnya menetap di sebuah tempat baru dalam kurun waktu yang cukup lama untuk tidak kembali ke rumah. Nelayan jenis ini biasa disebut sebagai nelayan pengembara.
Istilah nelayan pengembara sendiri sudah dikenal sejak lama. Karena memang nelayan Nusantara sudah terbiasa mengembara. Misalnya saja suku Bajo ataupun suku Bugis yang sudah dikenal sebagai pelaut ulung nan handal di perairan dunia. Kebiasaan untuk berpindah-pindah atau nomaden menjadi jamak ditemui bagi suku Bajo.
Hingga akhirnya saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bahwa peranakan Suku Bajo memang senang berpindah-pindah. Ketika saya mengunjungi Pulau Buru, saya melihat sekelompok orang yang tinggal di pesisir Pantai Waepure. Mereka membawa istri serta anak mereka untuk tinggal di pesisir Pantai Waepure. Mereka adalah nelayan dari Pulau Ambon untuk mencari ikan di Pulau Buru. Ketika musim barat di Pulau Ambon, mereka segera berpindah ke Pulau Buru.
anak-anak nelayan yang sedang mencuci baju
salah satu nelayan pengembara yang datang bersama istrinya
Yang perlu diingat, untuk di wilayah Maluku, keadaan musim tidak homogen. Hal ini dikarenakan angin  Biasanya mereka berangkat dari Pulau Ambon sejak bulan Maret dan akan menetap hingga bulan Desember. Tapi setiap tahunnya mereka mempunyai jadwal yang berbeda-beda. Ini juga dipengaruhi oleh La Nina ataupun El Nino. Saya pernah dijelaskan oleh Kepala Stasiun BMKG Ambon, tapi bodohnya, saya lupa apa yang dia jelaskan. 🙁
Kebiasaan berpindah tempat ini baru terjadi sejak tahun 2012. Saat itu ada seseorang yang membawa para nelayan yang bermukim di Desa Assilulu, untuk datang ke Desa Waepure di Pulau Buru. Namun nelayan pendatang ini bukan hanya berasal dari satu desa, namun dari desa di sebelah Desa Assilulu. Para nelayan membawa serta istri dan anak-anaknya. Mereka membangun rumah semi permanen yang terbuat dari bambu dan terpal. Biasanya rumah tersebut terbagi dari ruang kumpul, kamar, dan dapur. Karena hanya sebagai rumah sementara, mereka tidak mengisi perabotan, namun hal-hal yang mereka rasa perlu saja. Tidak ada kasur, tidak ada kursi, tidak ada kompor minyak. 
Keseharian para nelayan sudah mulai menggeliat sejak subuh. Para bapak-bapak akan berangkat membawa perlengkapan memancing. Perlengkapan mereka terdiri dari layang-layang, umpan hidup, tali tassi, sarung tangan dan juga pemberat. Kenapa menggunakan layang-layang? Jadi ketika umpan dipasang di layang-layang, umpan seolah berenang seperti ikan terbang (salah satu makanan kesukaan ikan tuna). Karena itu ikan tuna akan mengejar umpan, setelah kail dimakan oleh ikan tuna, sang pemancing akan menarik ikan tuna tanpa alat pancing. Hanya dengan menggunakan tali yang bersinggungan langsung dengan tangan. Karena itu jangan heran jika pernah mendengar jari nelayan pemancing tuna yang putus terkena tali pancing. 🙁
rumah semi permanen

Selama tinggal di Pulau Buru, para nelayan pengembara ini memiliki bos yang akan membiayai hidup mereka. Jika tidak ada tangkapan, maka mereka meminjam uang dari bos. Selain biaya hidup, bensin dan oli juga ditanggung oleh bos. Ini adalah salah satu jenis patron-client yang ada di Maluku.
Saya melihat gotong-royong yang ditunjukkan oleh para nelayan pendatang. Karena mereka sadar bahwa rumah mereka jauh, sehingga mereka bahu membahu saling bantu. Hal ini bisa kita saksikan jika ada nelayan yang pulang dari melaut. Tanpa aba-aba, nelayan yang sudah lebih dulu tiba akan ikut membantu mendorong perahu hingga naik ke pantai.
para nelayan bahu membahu menarikkan perahu

ditulis di Kantor Kak Agus, Pasar Minggu
Jumat, 14 Agustus 2015 18:34 PM
sambil denger lagu Let Her Go berulang-ulang seperti merapal mantra penambah kekuatan. 🙁

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *