Nikmatnya Ikan Tuna, Tak Sebanding dengan Faktanya

Pagi ini ketika saya sedang membaca presentasi mengenai tuna, saya tiba-tiba menemukan gambar diatas. Saya pun mengamati dengan seksama dengan menemukan fakta miris. Indonesia masuk dalam kategori Top 10 Tuna Catchers di dunia dengan tingkat 10.2%! Imagine, sebanyak apa ikan yang ditangkap setiap tahun?  

 

Jangan dulu bangga, liat diagram yang lainnya. Pada diagram tersebut menunjukkan bahwa tingkat konsumsi kita yang sangat rendah. Untuk tuna yang sudah dikalengkan (canned tuna), kita masuk dalam kategori Rest of World (negara lainnya) dengan tingkat 9,6%. Bayangkan untuk Amerika Serikat, ia bisa mengkonsumsi 24% ikan tuna kaleng yang ditangkap dari seluruh dunia! Padahal ia hanya bisa menghasilkan ikan tuna sebanyak 3.2% per tahun!
Untuk negara pengonsumsi ikan tuna yang fresh (fresh tuna) peringkat pertama adalah Jepang dengan presentase 81%. Negara ini terkenal dengan konsumsi ikan tuna mentah fresh, biasanya disebut dengan sashimi. Biasanya dicampur dengan sushi. Nah saya pernah nyoba ikan tuna yang baru diangkat dari laut. Pas pertama kali makan daging ikan tuna mentah bakalan enek, karena agak amis. Tapi lama kelamaan jadi enak dan terasa manis. Eheheh. Berasa jadi kanibal kalau makan ikan tuna mentah.. Apalagi disiram perasan air jeruk nipis, seger… 😀
real tuna! XD
Oke back to the topic, saat ini Indonesia menjadi negara yang dilirik sebagai penghasil tuna terbesar. Bagai bunga penuh madu, lebah-lebah pun datang menghampiri. Nah, seperti yang kita tahu, banyak perusahaan pemain yang ada di negara kita ini. Mereka berlomba-lomba untuk bisa mendapatkan ikan tuna sebanyak-banyaknya dari negara kita. Ikan-ikan yang siap dikonsumsi dalam tingkat global.
Tapi pernah ga kalian bertanya-tanya, bagaimana penangkapan ikan tuna yang dilakukan di Indonesia? Apakah ramah lingkungan dan berkelanjutan?? Atau jangan-jangan menangkap ikan tuna dengan bom, trawl, atau bahkan dengan solar?? Apakah perusahaan memperhatikan kesejahteraan nelayan?? Apakah nelayan atau kapal perusahaan tidak menangkap hewan yang dilindungi dan terancam punah?? Dan segudang pertanyaan lain….
Karena sejak tahun 2007, Food and Agriculture (FAO) mengeluarkan statement “75% perikanan di dunia sudah memasuki masa kritis, terancam bahkan habis”. Banyak scientistdi seluruh dunia yang memprediksikan bahwa dalam 50 tahun ke depan hasil tangkap perikanan (bukan budidaya)akan habis bahkan punah. Mungkin cucu kita tidak akan pernah melihat secara langsung bagaimana bentuknya ikan tuna. #hiks
Nah, karena itulah dibutuhkan sebuah sistem dalam mengawasi keberlanjutan perikanan di dunia, khususnya di Indonesia. Tingginya tingkat penangkapan yang tidak ramah lingkungan, harus menjadi perhatian kita semua. Banyak yang selalu bilang bahwa ini adalah salah nelayan, saya tidak setuju!!! Ini ternyata bukan hanya salah nelayan yang menangkap ikan tuna dengan cara tidak berkebelanjutan. Setelah ditelusuri ternyata yang paling penting dalam mendukung perikanan berkelanjutan adalah KONSUMEN!!!! Iya kamuuu.. kamuuuu…. #tibatibaalay
Kenapa konsumen menjadi mata rantai yang paling penting? Karena konsumen yang berhak menentukan pilihan barang yang akan dibelinya. Jika kalian dihadapkan pada dua pilihan ikan tuna, satu yang ditangkap menggunakan bom tapi harga murah dan satu yang ditangkap dengan pancing tapi harga sedikit mahal. Mana yang kalian pilih? Pasti tergantung dari keadaan kantong kan?? 😛
Padahal jika dipikir-pikir, konsumen yang mendorong nelayan untuk melakukan penangkapan tidak berkelanjutan. Karena konsumen hanya melihat ikan dari kesegarannya, besarnya, dan juga harga yang murah. Tapi tidak pernah berpikir mengenai cara penangkapannya.
“Apakah ini ditangkap dengan pancing atau jangan-jangan pakai trawl”
 “Jangan-jangan kapal ini juga nangkap penyu dan hiu dilaut”

Dan pertanyaan retoris lain ketika beli ikan…  Pernah gak? Pernah gak? Pernah gak? #maksananya

Karena itulah dibutuhkan sistem pelacakan mulai dari nelayan hingga sampai di tangan konsumen. Sebuah sistem yang mudah diakses oleh konsumen namun mudah juga dilacak oleh nelayan. Saat ini semua Negara pengonsumsi ikan tuna sedang gencar menjalankan sistem “Traceability” atau dalam bahasa Indonesia “Ketertelusuran”.
singkat cerita Traceability

Singkatnya, nelayan akan memberikan informasi melalui internet. Ia akan mengupload data-data yang disediakan oleh website. Data-data seperti dimana lokasi tangkap, bagaimana cara nangkapnya, dimana di proses, kapan landing, dan data sebagainya bisa diketahui oleh konsumen. Nah, terus gimana cara konsumen mengetahuinya? Di zaman serba canggih seperti ini, konsumen pun dipermudah dengan teknologi. Ikan akan diberikan barcode di plastiknya. Jadi konsumen dapat melakukan scan barcodeyang ada di ikan. Konsumen dapat mengetahui informasi tadi live di telepon genggam atau di PC, mereka pun bisa berinteraksi dengan nelayan secara langsung.

Pssttt, ini masih dilakukan di negara-negara maju. Indonesia mas
ih dalam tahap menuju kesana. Doakan yaaaa ini bisa berhasil di lima tahun mendatang.. 😀

ini adalah laman website ThisFish.info

Selain ketertelusuran, dibutuhkan juga sebuah sertifikasi keberlanjutan perikanan. Tapi jangan hanya sekedar sertifikat namun tidak ada pengawasan ketat. Saat ini Marine Stewardship Council (MSC) menjadi sertifikat yang diterima di seluruh dunia. Jadi konsumen mempunyai pilihan untuk memilih ikan yang ditangkap ramah lingkungan dan berkelanjutan atau secara tidak ramah lingkungan.

Dan seperti yang saya bilang “Selanjutnya terserah anda… “
9:56 AM Kamis, 24 July 2014
Ditulis di Kantor Harta Samudera, Ambon dan besok saya pulang kampung ke Jakarta… hahaha #abaikan

 

jenis-jenis Traceability di luar negeri

 

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *