Nostalgia Biru Putih di Suaka Elang Loji

Reuni bagi sebagian orang merupakan ajang untuk silaturahmi, bercerita dan nostalgia. dan kali ini saya berkesempatan untuk mengikuti acara silaturahmi bersama teman-teman alumni SMPN 01 Bojonggede. Menurut percakapan via Whatsapp, ada sekitar 13 orang yang akan menghabiskan malam minggu bersama di Camp Ground Suaka Elang Loji. Saya, Rahayu, Awank, Liska dan Januar berjanji untuk bertemu di depan sekolah sebelum kami bersama-sama berangkat menuju lokasi kamping. Menurut Rahayu, sudah ada beberapa teman yang mendirikan tenda terlebih dahulu disana.

Perjalanan kami tempuh dengan menggunakan sepeda motor. Lokasi Suaka Elang Loji ditempuh dalam waktu kurang lebih dua jam perjalanan. Kebetulan didalam grup kami sudah ada Rahayu yang menjadi penunjuk jalan, karena ada kemungkinan tersesat bagi orang yang pertama kali datang kesini. Jika datang dari arah Bogor, jadikan stasiun Batutulis sebagai patokan. Setelah itu akan menemui pertigaan, ambil ke arah Cijeruk. Ikuti terus jalan hingga menemukan plang hijau kecil bertuliskan Loji di sebelah kanan.
camping ground
Camping Ground ini terletak di kaki Gunung Salak daerah Cigombong. Perjalanan dengan menggunakan motor sangat saya sarankan dibandingkan menggunakan mobil. Lokasi camping ground agak sulit ditempuh jika menggunakan mobil, karena ada bagian jalan menuju camping ground yang masih berbatu dan mengandung tanah. Jika ternyata menggunakan mobil, lebih baik mobil disimpan di halaman SD. Kemudian berjalan kaki ke daerah camping ground.
Suaka Elang (Raptor Sanctuary) ini didirikan pada tahun 2008 dari hasil kerjasama berbagai pihak yaitu pemerintah, LSM, dan korporasi untuk mendukung pelestarian hewan endemik, Elang Jawa (Spizaetus bartelsi). Awalnya Suaka Elang yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) ini tidak dibuka untuk umum, hanya terbatas pada kalangan tertentu. Karena Suaka Elang diperuntukkan agar spesies Elang Jawa bisa kembali ke habitat asalnya. Lokasi Suaka Elang diharapkan bisa menjadi jembatan antara kegiatan rehabilitasi dan pelepasliaran spesies elang. Hingga akhirnya pada tahun 2012, lokasi ini dibuka untuk umum. Hal ini diharapkan agar pengetahuan masyarakat tentang Elang Jawa semakin banyak. Jika ingin mengetahui lebih banyak tentang rehabilitas Elang Jawa bisa langsung menghubungi Pak Joni. πŸ™‚
Kami tiba di Suaka Elang ketika matahari sudah mengundurkan diri dari peredarannya. Langit sudah mulai gelap. Kami bergerak cepat, agar bisa mencapai daerah camping ground secepatnya. Butuh waktu sekitar 20 menit dari tempat parkir ke pos jaga. Kami bertemu dengan Pak Joni, staff Polhut Resort Salak 1. Untuk biaya retribusi masuk ke camping ground dikenakan Rp. 20.000 per orang. Jika ingin melihat lokasi rehabilitasi elang hanya membayar Rp. 10.000 ketika weekend dan Rp. 7.000 ketika weekdays.

Dari penuturan Pak Joni saya jadi mendapatkan informasi tentang Elang Jawa. Saat ini spesies ini masuk dalam kategori Appendix I, yaitu terancam punah. Sehingga effort untuk melepasliarkan Elang Jawa semakin tinggi. Karena itulah di dalam Suaka Elang ini ada tiga kandang untuk melepasliarkan Elang Jawa. Pertama-tama jika ada spesies Elang Jawa yang ditemukan oleh warga ataupun oknum-oknum dan dikembalikan ke pihak TNGHS, maka Elang tersebut akan masuk dalam kandang transit. Disini Elang akan diperlakukan layaknya Elang di alam bebas, mereka akan diberi makan setiap 5 hari dalam seminggu. Ada jeda bagi Elang selama dua hari tidak makan. Kenapa? Karena di alam bebas, Elang tidak akan mendapatkan makanan setiap hari. Setelah itu Elang akan direhabilitasi Β sebelum dilepasliarkan. Jika Elang sudah terlalu tua ataupun cacat maka akan masuk ke dalam kandang display. Kandang ini yang sering digunakan oleh pihak TNGHS untuk mengedukasi masyarakat mengenai spesies Elang Jawa.

api unggun dan ayam bakar
sarapan pagi ya guys. πŸ™‚
sarapan lagi. gila. gue kurus banget. Alhamdulillah.

Dari pos Pak Joni ke camping ground hanya membutuhkan waktu sekitar 5 menit. Tenda kami sudah berdiri berkat Mambul, Ruben, dan Juang. Kami segera menyiapkan makan malam yaitu ayam bakar. Saya bertugas untuk mengumpulkan daun-daun pinus kering untuk menyalakan api unggun. Keseruan ini ditambah dengan nostalgia gila masa-masa remaja. Entah tentang terlambat masuk sekolah, makanan di kantin, keseruan dihukum oleh guru, keributan antar sekolah bahkan cerita kasih yang tak dianggap. Hal inilah yang mengulang memori tentang kisah putih biru. Tak terasa sudah 11 tahun berlalu sejak kami menyandang predikat alumni. Sehingga satu malam dirasa tak cukup untuk mengenang
kisah selama 3 tahun bersekolah. Hingga tak terasa waktupun menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Kami mulai memasuki tenda masing-masing. Sedangkan saya memilih untuk tidur di hammock dan menggunakan sleeping bag. Namun ternyata udara dingin sangat menusuk tulang. Saya pun memutuskan menggunakan double kaos kaki untuk meredamnya.

Pagi pun datang, sayangnya saya tidak bangun untuk menyaksikan matahari terbit. Menurut salah satu pengunjung yang saya temui, ada spot untuk melihat matahari terbit di daerah Sukhoi. Entahlah, saya tidak bertanya lebih jauh. Mungkin ada seseorang yang mau mengajak saya kesana. hehe.
Setelah membuat sarapan mewah seperti roti bakar, spaghetti dan susu coklat, enam dari kami bergegas menuju air terjun Cibadak. Di dalam kawasan Suaka Elang terdapat air terjun (ehmm.. air jatuh lebih tepatnya). Perjalanan menuju air terjun dari lokasi camping ground sekitar 30 menit. Treknya lumayan bagi orang yang jarang berolahraga seperti saya. Lututkuuuu.. haha. Sedangkan anak-anak pecinta alam terlihat berlari-lari kecil ketika melewati trek ini. Jadi inget seseorang di Ambon yang biasa ajak naik gunung. haha.
Lokasi camping ground termasuk dalam kategori hutan primer, sedangkan di sekitaran air terjun sudah termasuk hutan heterogen. Menurut Pak Joni, Elang Jawa sangat suka hidup di hutan heterogen dibandingkan hutan homogen. Karena itu hutan di TNGHS sangat dijaga agar menjadi habitat yang cocok bagi Elang Jawa.
take a picture di depan air jatuh. πŸ™‚
I love it!

Setelah puas bermain air di bawah air terjun, kami pun segera kembali ke tenda. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB, rencananya kami akan menunggu pasukan tambahan dan pulang sore hari. Namun ternyata cuaca tak mendukung, langit berubah kelabu. Setelah makan siang nasi liwet gagal bikinan Mambul ditambah sayur sop ekstra pedas, kami mulai berbenah. Biasakan membawa kantong sampah agar sampah-sampah tidak dibuang sembarang. Leave nothing!

Sayangnya, kami tak sempat melihat lokasi Elang Jawa yang diperlihatkan ke pengunjung, karena siang hari tiba-tiba hujan turun dengan deras. Kami memilih untuk menembus hujan meninggalkan camping ground. Setelah pamit dengan Pak Joni, beliau malah menunjukkan video-video Elang Jawa miliknya. Selama ini Pak Joni aktif menjadi bird watcher untuk spesies Elang Jawa. Sudah puluhan video Elang Jawa yang beliau koleksi. Hebat! Semoga Elang Jawa masih terus lestari hingga ratusan tahun mendatang. Amin ya rabb.
Terima kasih kepada tim reuni Rahayu, Ruben, Evi, Agung, Mambul, Acong, Juang, Januar, Liska, Awang, Endu, Tupel yang sudah ajak anak pendiam ini camping. Heheh. Bravo Belcram 117! πŸ™‚
ditulis di Kebun Apple, Universitas Indonesia
Senin, 22 Agustus 2016 16:51 WIB
be careful with your step
kelas 5 dan 6 tanpa pendamping! hidup Indonesia!

You may also like

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *