One Fine Day in ‘s-Hertogenbosch

Setelah berkutat dengan exam Periode 1, akhirnya masuk juga masa liburan. Karena boss besar sudah tiba di Belanda, ada satu hal penting yang harus dilakukan. Sebagai ‘Alien’ atau pendatang, dia harus mengambil kartu penduduk di sebuah kota bernama ‘s-Hertogenbosch. Kartu sakti ini bernama Verblijfstitel. Mirip KTP tapi untuk penduduk sementara yang tinggal di Belanda. Setiap orang yang tinggal sementara (1 tahun lebih) di Belanda wajib memiliki kartu ini.

Ketika Arif tiba di Belanda, saya sedang menghadapi masa-masa ujian Period 1. Karena itulah perjalanan kami ke ‘s-Hertogenbosch tertunda selama dua minggu. Padahal kartu ini sangat penting bagi pendatang. Saya sendiri sudah mendapatkan kartu ini ketika AID berlangsung.

Perjalanan Drama dimulai

Hari itu Jumat, kami berdua pun merencanakan perjalanan ke kota ‘s-Hertogenbosch. Di kota inilah kami harus mengambil Verblijfstitel milik Arif. Perjalanan ke S’Hertogenbosch penuh dengan drama. Karena kami salah membeli Group Ticket, harusnya pergi ke arah Maastricht tapi malah beli tiket ke Den Haag. Jadilah sepanjang perjalanan dari Utrech Centraal Station ke ‘s-Hertogenbosch saya deg-degan setengah mati. Saya takut kalau dikeluarkan dari kereta dan malah bikin malu negara.

pintu masuk stasiun

Tapi Alhamdulillah, gak ketauan sama petugas selama perjalanan pergi ke S’Hertogenbosch. Akhirnya kami memutuskan untuk membeli tiket one trip ke Utrecht. Karena dari Utrecht sudah ada Group Tiket ke Den Haag. Tapi kami kaget begitu mengetahui harga tiket keretanya. 10 Euro per person!! Itu bisa digunakan untuk 3 hari makan! Gils!

Mengambil Verblijfstitel di ‘s-Hertogenbosch

duduk di taman

Setelah selesai drama tiket, kami segera mencari kantor IND yang katanya berdekatan dengan stasiun kereta. Benar saja, kantor IND tak jauh dari lokasi stasiun. Hanya sekitar 700 meter dan kita sudah bisa menemukan kantor tersebut. Ada papan IND di depan pintu masuk.

Ketika masuk ke dalam kantor, kita diminta untuk tidak menggunakan HP. Walaupun tidak harus menitip tas, kami mengambil nomor antrian, kemudian menunggu hingga nomor antrian dipanggil.

pada saat itu hanya ada beberapa orang di dalam ruangan. Ada orang yang saya tebak dari Timur Tengah dan juga daratan Cina. Mereka juga mengantri untuk mengambil kartu kependudukan tersebut. Setelah menunggu sekitar 20 menit, akhirnya nomor kami dipanggil juga.

Arif diminta menyerahkan surat panggilan dari IND dan juga paspor yang digunakan. Sang petugas meminta juga Arif untuk melakukan pemindaian sidik jari. Dengan iseng saya bertanya ke petugas, bagaimana jika jari seseorang terluka dan tidak bisa melakukan scan finger.

“We will used the other fingers,” she replied.

Dan keisengan saya gak berhenti sampai disitu. Bagaimana jika semuanya terluka dan tidak bisa melakukan finger scan. Akhirnya mbaknya bilang kalau orang tua sering kali terjadi hal semacam itu. Karena orang tua semakin keriput, sidik jari mereka tidak bisa dibaca oleh alat scan. Sehingga para petugas pada akhirnya menyamakan foto si pemohon dengan wajah ketika datang. Padahal sih pengen iseng bertanya lagi, “bagaimana jika muka si pemohon pun rusak tak bersisa, bagaimana caranya mereka menentukan bahwa itu adalah orang yang benar?”. Tapi kami sudah menyita waktu lama si mbak-mbak tersebut, akhirnya kami pamit pulang.

Yeay! alhamdulillah Verblifjstitel sudah ada di tangan, sekarang Arif sudah bisa tenang dan merasa baik-baik saja.

Shalat Jumat di Masjid Utama

source : www.bd.nl

Setelah mengambil Verblifjstitel kami pun melanjutkan perjalanan. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 12.20 CET, kami pun mencari masjid terdekat. Namanya Masjid Ar-Rahma, salah satu masjid dari 3 masjid di kota ini. Dengan menempuh sekitar 10 menit, kami sudah menemukan masjid utama kota ‘s-Hertogenbosch. Karena kami datang di hari jumat, secara otomatis masjid ini cepat penuh.

Sama seperti hal yang saya alami di Amerika Serikat, banyak wanita yang ikut shalat Jumat bersama para lelaki. Kebanyakan mereka berasal dari Timur Tengah, tak ada saya temukan orang yang berwajah Indonesia disini. Masjid ini bisa menampung sekitar 200 jamaah dalam satu kali waktu. Tempat shalat bagi perempuan dan laki-laki dipisah bahkan pintu masuknya.

Shalat Jumat disini hampir sama dengan di Indonesia, bedanya khutbah dibacakan dalam bahasa Arab. Setelah itu ada resume dari khutbah tersebut dalam bahasa Inggris dan bahasa Belanda. Mungkin karena kebanyakan jamaah berasal dari Timur Tengah.

Bossche Bol khas S’Hertogenbosch

Karena saya mengupdate cerita saya di Media Sosial, Instagram. Salah satu teman yang berasal dari Belanda melihat postingan saya. Ia pun menyarankan agar saya mencicipi sebuah kudapan khas yang hanya ditemukan di ‘s-Hertogenbosch. Namanya Bossche Bol. 

Awalnya saya tak paham seperti apa bentuknya nanti. Tapi teman saya terus mengatakan bahwa toko yang menjual kudapan tersebut tak jauh dari stasiun kereta api. Sehingga memudahkan saya yang hanya tidak menggunakan kendaraan apapun untuk berkeliling.

Nama toko roti itu Banketbakkerij Jan de Groot yang memang tak jauh dari stasiun. Saya sudah melihat antrian panjang di pintu masuk toko. Dari luar jendela, saya melihat tumpukan kue-kue yang sangat menggoda iman. Warnanya pink, kuning dan coklat.

Toko Bakery yang menjual Bossche Bol
Bossche Bol
Isi dalam toko bakery

Setelah mengantri selama 10 menit, akhirnya sang petugasmenanyakan apa yang ingin kami pesan. Segera kami menunjuk untuk membeli tiga Bossche Bol untuk dimakan di kereta nanti selama perjalanan ke Den Haag. Harga Bossche Bol hanya 1.40 euro. Cukup murah untuk kue enak semacam itu. Semoga bisa beli lagi, suatu saat.

Perjalanan di ‘s-Hertogenbosch cukup menyenangkan walaupun mendebarkan. Tapi paling tidak saya sudah punya pengalaman untuk melihat secara langsung kantor IND di Belanda. 🙂

ditulis di Asserpark 44

22:51 CET 14 November 2017

sambil belajar tapi gak jadi belajar

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *