Paralayang Gunung Banyak Malang (yang Tak Jadi)

Perjalanan saya ke Malang di tahun 2015 sangat membekas dalam ingatan. Saat itu saya bersama salah seorang teman, Faisal, menjelajah Malang dengan sangat ringkas. Kami menyewa motor dan dengan segera berangkat ke Malang dari Kediri. Saat itu tidak banyak destinasi yang ingin kami tuju, karena pada dasarnya kami hanya ingin bertemu dengan salah seorang senior, Kak Icha, yang baru saja menikah.

Karena pertemuan dengan kak Icha baru bisa dilakukan di sore hari, kami pun memutuskan untuk mengeliling beberapa sudut Kota Malang. Tujuan kami jatuh ke Coban Rondo, sebuah tempat wisata air terjun. Air terjun yang dipercayai sebagai tempat persembunyian Dewi Anjarwati ketika suaminya Raden Baron bertempur dengan Joko Lelono. Hingga akhirnya Raden Baron meninggal, sedangkan Dewi Anjarwati menjadi Rondo (janda dalam bahasa Jawa). Dan nama Coban Rondo (air terjun janda) pun tenar hingga saat ini.

Welcome to Malang

Setelah puas dengan Coban Rondo, kami bergerak ke Gunung Banyak. Disinilah saya pertama kalinya melihat dengan jarak dekat olahraga paralayang. Beberapa kali saya melihat parasut berwarna-warni mengudara. Suara teriakan dari para pelancong yang mencoba paralayang kali pertama. Saat itu angin tergolong bersahabat. Sehingga banyak pelancong yang memilih untuk terbang bersama guide. Bahasa kerennya ‘tandem’ .

Saya hanya melongo berkali-kali. Membayangkan saya ada di parasut tersebut, terbang mengikuti arah angin menuju lembah Gunung Banyak. Dibawah ada kebun-kebun kecil yang sepertinya ditanami sayuran. Ada jeda sekitar 5 menit sebelum parasut diterbangkan. Sepertinya agar langit tidak terlalu padat. Ada seseorang yang berteriak dan enggan untuk terbang. Padahal ia sudah berada di dalam parasut siap untuk berangkat.

Beberapa kali saya menghitung uang di dompet. Rasanya ingin sekali mencoba terbang dengan parasut besar. Tapi apa lacur, uang di dompet tersisa dua lembar berwarna hijau. Sepertinya hanya cukup untuk patungan uang bensin. Kantong memang sangat cekak. Uang yang ada di tabungan, hanya cukup untuk membayar IELTS yang akan saya lakukan bulan depan. Sepertinya memang tak ada jalan bagi saya untuk mencoba terbang saat itu. Padahal harganya tergolong masuk akal menurutku, 15 menit dengan harga Rp 300.000. Perasaan saya antara ingin sekali mencoba tapi merasa uang tak cukup. Pikiran saya bermain berkali-kali.

Belum tercapai!

Dan akhirnya keputusan jatuh untuk membuat sebuah janji. Di atas Gunung Banyak, berdekatan dengan bendera merah putih. Saya berikrar harus mendapatkan nilai IELTS 7.5 jika ingin mencoba naik paralayang. Pikiran gila! Saya saja tak pernah mencoba IELTS dan tiba-tiba punya pikiran senekat itu.

Setelah puas melihat para pengunjung yang terbang berkali-kali, kami pun meninggalkan Gunung Banyak. Kembali ke Pare dan belajar semakin giat. Saya tempel tulisan di dinding “dapat IELTS 7.5 kamu naik Paralayang!!”. Tulisan ini terus mengingatkan saya untuk belajar dengan baik.

Tekad saya masih membara saat itu untuk mendapatkan angka IELTS 7.5. Namun ternyata tes IELTS pertama saya masih bertengger dibawah angka 7.5. IELTS kedua pun gagal memenuhi target untuk mencicipi paralayang. Dan mimpi itu tak bisa saya selesaikan, hingga akhirnya saya menikah dengan seseorang. Tapi ternyata saya masih mencoba tes IELTS untuk ketiga kalinya. Saya sudah sangat senang waktu itu, karena merasa nilai akan sesuai dengan target. Namun ternyata lagi-lagi saya kalah. Hasilnya masih tak sesuai dengan keinginan. Sedih rasanya..

Dan sekarang tiba-tiba impian untuk naik paralayang kembali menggebu. Kemarin ketika pergi ke Puncak Bogor ada beberapa spot yang menawarkan olahraga paralayang disana. Pikiran saya sudah mengawang ingin mencobanya sebelum berangkat berkuliah. Tapi sayangnya suami tak mengijinkan, ada target yang harus saya selesaikan katanya.

Kalau bisa berat badanmu turun 10 kilogram, kamu boleh naik paralayang,,” ujarnya mantap. Hhhhh. Apakah saya bisa mencapai target itu sebelum berangkat ke Belanda ?

#15harimenulis

 

Ditulis di kamar kost Depok

19:21 WIB Minggu 11 Juni 2017

Sambil dengar lagi Raihan – Iman Mutiara

Hari Kedua #15harimenulis : YANG BELUM SEMPAT SAYA LAKUKAN

1. Atrasina Adlina http://adlienerz.com/paralayang-gunung-banyak-malang-yang-tak-jadi/
2. Maruf M Noor https://sajakantigalau.wordpress.com/2017/06/11/pulau-pulau-sebelah-yang-belum-saya-datangi/
3. Cecein https://cecein.wordpress.com/2017/06/11/daftar-sempat-yang-tertunda/
4. Acitra Pratiwi http://www.acitrapratiwi.com/2017/06/hal-yang-belum-bisa-saya-lakukan.html?m=1
5. Mujahid Zulfadli https://mujahidzulfadli.wordpress.com/2017/06/11/ajari-saya-memasak/
6. Hasymi http://matamatamakna.blogspot.co.id/2017/06/rumah-kertas-dan-obsesi-yang-belum.html?m=1
7. Andi Arifayani http://www.andiarifayani.com/cheklist-kehidupan/
8. MUhammad Sultan Arief https://muhammadsultanariefmunandars.wordpress.com/2017/06/11/semuanya-hanya-tampak-indah-di-televisi/
9. Helmiyaningsi https://helmiyaningsi.wordpress.com/2017/06/11/penyesalan-selalu-datang-belakangan/

You may also like

6 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *