Peluh Keringat Pencari Daun Kayu Putih

Pulau Buru identik dengan minyak kayu putih. Sejarah minyak kayu putih sudah dimulai sejak zaman penjajahan Belanda disini. Saya mengunjungi sebuah ketel, sebutan untuk tempat penyulingan daun kayu putih untuk menjadi minyak kayu putih. Lokasi ketel tersebut di Desa Wamlana, sebuah desa yang jaraknya kurang lebih 100 kilometer dari Kota Namlea.

Setiap pagi para pekerja pencari daun kaun putih sudah siap dengan keranjang besar yang terbuat dari anyaman bambu. Di saat subuh mereka suda menyiapkan tongkat untuk menarik batang kayu putih yang dirasa tinggi. Ada dua cara bagi mereka untuk mendapatkan daun kayu putih. Cara pertama dengan menarik daun dari ujung batang. Cara kedua adalah memotong batang kayu putih yang dirasa sudah tinggi dan daun ditarik seperti cara pertama. Tapi cara kedua ini bisa dikatakan tidak ramah lingkungan karena harus mematahkan ranting. Selain itu para pencari juga tidak selalu bergerak ke tempat yang sama. Ada jeda waktu hingga daun kayu putih bisa dipanen. 
Biasanya dalam waktu sehari para pemetik daun kayu putih bisa mendapatkan sekitar 100 kilogram. Hasil tersebut bisa didapat jika mencari daun kayu putih dari pagi hari hingga pukul 1 siang. Biasanya para pekerja tersebut sudah memiliki lokasi pemetikan sendiri-sendiri. Dan lokasi tersebut biasanya terletak di daerah perbukitan. Saya membayangkan betapa letihnya mereka harus mengangkut daun kayu putih yang sudah sarat di punggung. Mereka akan membawanya ke tempat penyulingan kayu putih. 
Pekerjaan mereka belum selesai disana. Setelah membawa daun kayu putih ke ketel, mereka harus menimbangnya terlebih dahulu. Setiap siang akan ada bos atau juragan yang memberikan upah kepada setiap pekerja. Setiap 1 kilogram daun kayu putih dihargai Rp. 1.000. Satu keranjang penuh anyaman bambu bisa menampung sekitar 50 kilogram. Setelah penimbangan selesai dilakukan, daun kayu putih dimasukkan ke dalam tempat penampungan daun. 
 
Proses pertama adalah memasukkan daun kayu putih ke dalam tempat masak yang sudah diletakkan diatas tungku. Daun kayu putih dimasak bersama air hingga tempat masak penuh. Setelah itu tempat masak ditutup dengan ketel. Menurut Pak Ide, ketel sudah ada sejak jaman Belanda. Mungkin dulu banyak orang-orang di Buru yang dipaksa menjadi buruh di tempat penyulingan dan mempelajari mengenai pembuatan minyak kayu putih. Karena ketika saya tanya bagaimana cara orang-orang dulu membuat minyak atsiri dari kayu putih, para pekerja tak ada yang bisa menjawab dengan jelas. 
Ketika daun kayu putih dan air mulai memanas, uapnya masuk ke dalam ketel yang dialirkan ke kolam penampungan minyak atsiri tersebut. Para pekerja membuat kondensor untuk pendinginan sehingga membuat uap menjadi minyak atsiri. Biasanya proses ini disebut dengan proses distilasi. Biasanya proses pengerjaan untuk mendapatkan satu botol 600 ml membutuhkan waktu sekitar 6 jam.
daun kayu putih yang dikumpulkan dalam satu tempat besar
Setiap hari ketel terus bekerja tanpa letih. Para pekerja hanya mendapatkan jatah libur di hari minggu. Sisanya mereka tetap bekerja keras. Hebat! Badan mereka terlihat kurus tapi tegap dan berisi. Kulitnya berwarna legam terbakar matahari. Saya sempat berbincang dengan salah satu dari mereka. Namanya Pak Hasan, ia memiliki 3 anak dan 1 diantara anaknya sudah memasuki bangku kuliah sekarang. Ketika saya tanya mereka apakah 1.000 per kilogram sudah cukup untuk menghidupi keluarga? “Sekarang semua Alhamdulillah dicukupkan oleh Allah SWT, yang pasti bersyukur,” ujarnya kepada saya. Dan saya pun belajar banyak dari para pencari daun kayu putih. Semoga bisa terus bersyukur.. 
 
Ditulis di Penginapan Delta, Kota Namlea, Pulau Buru
11:26 WIT 12 January 2017
Sambil denger lagu Thinking of You – Katy Perry

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *