Pengalaman Gila Direct Assesment X Makassar

Bareng Pak Anies Baswedan. πŸ˜€

Alhamdulillah saya bersyukur karena bisa masuk ke tahap ini. Karena saya tidak memiliki ekspektasi lebih untuk bisa masuk menjadi salah satu pengajar muda. Selain karena sya sudah suka dengan pekerjaan saat ini dan saya juga ingin melanjutkan studi di Negeri Kincir Angin. Inshaa Allah.  

Seingat saya pada 28 Maret 2011, Anies Baswedan yang saat itu menjadi motor penggerak Indonesia Mengajar datang dan melakukan roadshow di Universitas Hasanuddin. Saya yang benar-benar terpana dengan kata-katanya, “Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan”. Saat itu saya berjanji pada diri saya sendiri untuk ikut seleksi Indonesia Mengajar jika sudah lulus nanti. Saya sempat berjabat tangan dengan Pak Anies dan bilang “Saya akan ikut seleksi jika sudah lulus nanti, karena saya sekarang masih mahasiswa baru,”. Tapi janji itu menguap seiring dengan aktivitas dan saya nyaris melupakan janji itu. Tapi karena dibujuk-bujuk oleh kak Mujahid yang saat ini sedang mengabdi di daerah Papua. Akhirnya sya mulai mengisi formulir yang tersedia dalam website Indonesia Mengajar.  Hehehe. Thanks kak. πŸ˜€

Desember lalu, saya mulai mengisi esai yang diwajibkan sebagai tahap pertama untuk menjadi pengajar muda. Setiap pertanyaan saya jawab dengan hati-hati. Ada pertanyaan mengenai apa motivasi terbesar menjadi Pengajar Muda. Saya hanya menjelaskan bagaimana peran seorang guru yang mengubah saya dari seseorang pendiam dan bersedia dibully menjadi pribadi yang lebih terbuka dan aktif. Keinginan untuk menjadi seorang guru yang mampu memberikan inspirasi bagi murid-muridnya. Itu adalah motivasi terbesar saya menjadi pengajar muda. Saya berani untuk menerima pengalaman apapun yang akan saya dapatkan nanti. 
Hingga akhirnya pada tanggal 31 Desember 2014, email sakti itu masuk dan menyatakan bahwa saya lolos untuk mengikuti tahap 2, yaitu Direct Assesment bagi angkatan X. Waahh, saat itu saya sedang di dalam commuter line menuju Depok. Ekspresi pertama adalah bingung, karena saya belum memiliki ijazah dan transkrip. Karena walaupun saya sudah lulus sejak Desember 2013, saya belum mengurus ijazah dan transkrip hingga tahun 2015. Hahah. Thanks buat Rizka dan Janu yang sudah susah-susah ngurus ini dan itu. Thanks guys. πŸ˜€

Demi Direct Assesment ini saya berangkat dari Ambon menuju Makassar. Karena lokasi seleksi hanya berada di lima kota, yaitu Jakarta, Medan, Surabaya, Yogyakarta, dan Makassar. Untuk DA Makassar dilaksanakan tanggal 29 Januari 2015. Ada beberapa teman yang datang dari Papua dan Kendari untuk ikut DA ini. 
namaku urutan 53. πŸ˜€ #Alhamdulillah

Hujan mengguyur Makassar sejak semalam. Saya menginap di kamar Benjo dan Siang. Benjo sampe masakkin sarapan untuk kami berdua. Tapi karena waktu sudah menunjukkan pukul 6.40 Wita, kami pun buru-buru. Kami berdua basah-basahan menuju Rektorat Universitas Hasanuddin dan menjadi peserta yang datang pertama kali. Hahah. Acara Direct Assesment diadakan di Lantai 4, sebelahnya Ruang Kerjasama Internasional. 

Untuk proses seleksinya dimulai pukul 7.30 Wita, setelah itu perkenalan dengan tim assesor. Kak Rizky PM angkatan II menjelaskan tata tertib Direct Assesment X ini. Peserta yang berjumlah 17 orang pun dipisah menjadi dua kelompok. Saya masuk dalam kelompok kedua bareng Siang. Selain kami ada 6 orang yang berasal dari kampus berbeda.

Kami saling memperkenalkan diri karena diberikan waktu 7 menit bagi setiap peserta. Kita diminta untuk memperkenalkan diri sendiri bukan memperkenalkan orang lain. haha. ya iyalah. di ruang kami, kak Susilo yang menjadi tim penilai. Saya memperkenalkan diri terlebih dahulu, haha. Kebiasaan angkat tangan duluan. setelah itu teman-teman yang lain mulai menyusul satu-satu. Kami berusaha mengenal satu dan yang lainnya. Ada Aldilla alumnus IPB, Siang yang anak pendaki guung, Musa yang pernah jadi kahim di jurusan, Sutrisno yang pernah jadi ketua BEM, Adit yang punya buku novel, Sakka yang pernah mengajar di Papua dan Awie dengan segudang prestasinya. Aku mah apa atuh…  #nyanyilagu

gaya pertama kali tiba di ruang seleksi. satria baja hitam!!

Setelah perkenalan, kami pun diminta untuk mengerjakan soal psikotest. Kita diminta untuk menggambar pohon selain pohon beringin, perdu, randu, palmia, pinus dan bambu. Pohonnya harus berkayu, jadi pohon pisang ga boleh. Saya gambar pohon rambutan, untuk menunjukkan bahwa itu rambutan, saya buat rambutan yang berserakan di tanah. hahah. Sehabis itu menggambar orang dengan profesinya. haha. Seperti yang bisa ditebak, saya menggambar nelayan yang sedang mendapatkan ikan.

Setelah psikotest, kami diminta untuk mengisi soal untuk forum group discussion (FGD). Dimana ada sebuah kasus yang pernah dialami oleh guru bantu di sebuah daerah. permasalahan ini akan kita bahas di sesi kedua DA. Setelah selesai kami disuguhkan soal yang lebih sulit, tahap Problem Solving. Kita dihadapkan pada masalah sebagai tim asesor yang memberikan nilai untuk proses rekrutmen guru di sebuah kabupaten. Harus pintar membaca situasi dan menganalisa masalah. Dan rasanya saya paling bodoh dalam hal-hal seperti ini. Soalnya agak sulit, sulit banget malah. Hahah. Tapi kalau anak-anak yang selalu masuk organisasi dan selalu berusaha menyelesaikan masalah pelik, saya rasa bisa mengerjakannya. Aku mah apa atuh #nyanyilagi

Setelah itu masuk dalam tahap wawancara. Saya ketemu Kak Susilo lagi, Pertanyaannya sekitar esai yang kita isi ketika mengisi formulir. Selain itu Kak Susilo mengejar bagaimana pemecahan masalah yang biasa kita lakukan ketika dihadapkan pada situasi sulit dan bagaimana kita mengendalikannya. Sekitar 40 menit di dalam, tapi mungkin lebih sedikit. Karena kayaknya kak Susilo bisa langsung membaca apa yang ingin saya sampaikan. Hahah.

AC sudah sangat dingin dan perut saya lapar. Akhirnya jam makan siang diberlakukan. K
ami dapat makan siang, namun Benjo membawakan kami berdua makan siang juga. Terima kasih Benjo. Kamu baik sekali. πŸ˜€ Enak pula masakanmu. πŸ˜€

masakannya Benjo!

Setelah makan siang, peserta kembali dibagi dua kelompok. Kami memasuki tahap untuk FGD untuk membicarakan masalah yang pernah ditemui oleh pengajar muda dilapangan. Setiaporang sudah memiliki usulan masing-masing yang kemudian di jabarkan kenapa kami memilih usulan tersebut. Tidak ada yang bertindak sebagai moderator, semua orang memiliki hak yang sama untuk berbicara. Dan akhirnya setelah melalui diskusi selama 30 menit, kami pun memilih 3 usulan final untuk menjadi rekomendasi.

Nah, sesi selanjutnya adalah yang paling seru. Hahaha. Micro teaching. Kak Tery bantu panitia untuk menjadi pengarah simulasi kelas. Kami memilih kertas yang akan digunakan sebagai nomor urut untuk maju. Bagusnya, saya dapat urutan nomor 2. Hahah, Saya beruntung! yeah! Karena menurut beberapa blog, yang paling parah kalau yang nomor terakhir. Hahah. Kak Terry pun memulai sesi micro teaching.

Aldilla maju pertama kali dan mendapatkan simulasi kelas yang terkena gempa. Si Musa total sekali jadi anak yang terkena lemari jatuh. Hahah. Pas giliran kedua datang, saya masuk ke kelas yang isinya anak-anak yang ga bisa berbahasa Indonesia. Hahaha. Untungnya saya bawa kartu bergambar jadi ikutin aja alurnya anak-anak tersebut. Setiap mereka sebutkan nama hewan yang saya tunjukkan, langsung saya tuliskan. Hahah. Gokil! Saya doain mereka beneran ga bisa bahasa Indonesia. Hahaha

Yang gokil pas si Sakka yang ngajar. Saya dapat kesempatan jadi anak autis yang hiperaktif dan ga bisa diam. Selalu ngerjain teman-teman di kelasnya. Haha. Saya keliling kelas sambil teriak-teriak dan gangguin anak-anak yang lain. si Awie disuruh jadi anak autis yang fokus sama satu benda. Jadi di dalam kelas ada dua anak autis sekaligus. Seru banget. Saya sih memang mengeluarkan semua effort untuk terlihat seperti autis. Hahah.

Habis itu disusul simulasi anak-anak yang berubah pasif karena guru mengajinya meninggal, ada juga yang dapat anak muridnya manja sekali sama gurunya sampe semua teman-temannya marah-marah, ada juga anak-anak kelas keluar semua karena mau pipis, ada juga yang anak-anaknya berantem. Hahaha. Saya dapat peran berantem sama Awie, tapi timpuk-timpukan kertas dan botol betulan. Hahah. Paling parah pas si Musa jadi guru, Sakka berperan sebagai mace-mace Papua yang suruh anaknya, Luna untuk ikut bantu panen. Haha. Sakka bener-bener menghayati perannya sebagai mace-mace Papua. Salut banget! Bahasanya bener-bener seperti orang Papua. Haha.

Ajang gila-gilaan banget lah pokoknya. Gag ada malu-malunya, lumayan untuk berekspresi setelah saya diem-diem selama beberapa bulan. Gag pernah lepas kayak gini lagi. Hahah. Saya dapat peran yang buat rusuh. Maaf ya teman-teman, saya memang perusuh. πŸ˜€

Setelah sesi microteaching berakhir, kita pun berfoto bersama. Sayangnya foto belum masuk ke emailku. Hiks. Padahal mau banget taro foto-foto disini. πŸ™ Saya mendapatkan teman-teman baru lagi. Senangnya bisa seruseruan. πŸ˜€

cowok2!

cewek2!

Saran untuk yang ikut DA, siapkan mentalmu dan kesehatan, jangan lupa sarapan, biar ga lemes. Siapkan apa yang diwajibkan, seperti ijazah dan transkrip. Bawa alat tulis seperti pulpen, penghapus, dan pensil. Untuk sesi microteaching, kalau memang dibutuhkan, bawa alat peraga. Karena kita tidak tahu apa yang akan kita temukan pada sesi microteaching. Siap bertempur layaknya guru-guru beneran. Hahah.

Menurut Kak Rizky, pengumuman akan dilaksanakan bulan Maret. Wish me luck. Kalau memang ini jalanku, saya akan istiqamah! Karena menurut kak Rizky, ada juga calon pengajar muda yang gugur saat tahap pelatihan. Walaupun ga lulus, paling tidak saya sudah berusaha sampe tahap ini. πŸ˜€

Sesuai dengan motto hidup : Don’t worry about failures, worry about the chances you miss when you don’t even try. 

Waktunya banyak berdoa, guys! Semangat!!

ditulis di rumah kecil Identitas tercinta, 30 Januari 2015
sambil nostalgia lagu-lagu lama sama Ria di ruang redaksi berdua saja. 

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *