Pengalaman Tak Terlupa di Saparua (part 1)

anak Haria yang senang dapat foto bareng seleb blogger. πŸ˜€
Perjalanan saya ke Pulau Saparua lebih kepada perjalanan yang tidak terduga. Kedatangan seorang travel blogger terkenal Firsta Yunida bersama kedua temannya, membuat saya segera meminta ikut bergabung. Mereka akan pergi ke Saparua, Banda Neira dan jika memungkinkan ke Sawai. Tapi saya hanya mampu mengikuti perjalanan mereka ke Sawai. Hiks. Mereka jalan-jalan ketika masih masuk kantor euy. 
Akhirnya pada tanggal 9 Mei, saya pun bertemu pertama kalinya dengan kak Firsta, kak Vindhya dan kak Mumun dari Indohoy di Pelabuhan Tulehu. Perkenalan kami di kapal dibuka dengan tiga bungkus nasi kelapa. Perjalanan ke Pulau Saparua ditempuh dengan waktu 40 menit. Harga tiket kapal cepat 75 ribu.
 
 
Desa Haria menjadi tempat pelabuhan kapal cepat dari Ambon. Kami langsung disambut oleh anak-anak kecil yang lucu-lucu. Kak Mumun memotret mereka menggunakan kamera polaroid. Actually that my second time to see that camera. #norak
Jenis sagu ternyata ada macam-macam
Setelah menunggu sekitar 20 menit, akhirnya sebuah angkot datang menghampiri kami. Mama Mery namanya. Beliau sudah mengontak kak Firsta sebelumnya dan kami akan menginap di tempatnya. Kak Firsta mendapatkan kontak Mama Marlena di internet, tak banyak orang Indonesia yang menginap di tempatnya. Lihat saja buku tamu penginapan ini, nyaris semuanya adalah nama-nama bule dari luar Indonesia. 
Kami singgah di Pasar Saparua untuk membeli durian dan mama membeli beberapa bahan makanan. Saya melihat sagu yang bentuknya bermacam-macam. Ada yang berwarna pink pudar dan juga warna putih. Kok bisa? Ternyata yang berwarna putih bukan terbuat dari sagu, tapi terbuat dari kasbi atau singkong.
Setelah membawa durian asli Saparua ke penginapan, kami pun disuguhi makan siang. Penginapan kami terletak di Desa Ihamahu, berdekatan dengan gereja. Makan siang kali ini terasa nikmat, ikan segar dan colo-colo (sambal asli Maluku) yang sangat segar. Mama Marlena dan saudaranya Mama Mery, sangat jago memasak. Setelah makan siang, durian pun disantap. Rasa durian yang legit dan tidak asam, membuat saya memasukkan durian Sirisori dalam daftar durian terenak. πŸ˜€ Apalagi pemandangan penginapan yang langsung mengarah ke laut. 
Sore menjelang, kami pun bersantai di dermaga Desa Ihamahu. Saya dan Kak Firsta memutuskan untuk mencoba paddling dan snorkeling. Sampan milik om John menjadi kendaraan kami. Driving canoe like a boss. πŸ˜€ Setelah itu kami mencoba snorkeling di sekitar dermaga. Visibility tidak terlalu baik, banyak sedimen di daerah ini. Terumbu karangnya lumayan bagus, tapi warnanya memudar. Sepertinya zooxanthella tidak banyak mendapatkan nutrisi yang cukup di daerah ini. Selain itu banyak plastik yang beterbangan di mana-mana. Saya sempat melihat popok yang mengapung. πŸ˜›
menikmati sunset. πŸ˜€
Setelah puas, saya hanya menyaksikan matahari perlahan-lahan tenggelam. Menikmati momen seperti ini harusnya dilewati bersama orang kesayangan. #uhuk #emangada? Apalagi tiga kakak gokil ini membawa kursi pantai milik Mama ke dermaga. Padahal esok harinya saya baru melihat pengumuman di pintu masuk dermaga bahwa tidak boleh ada aktivitas berenang disana. πŸ˜€
Negeri yang Hilang
Keesokan harinya kami mencoba mengeksplore negeri sebelah. Sebuah negeri yang saat ini hanya menyisakan puing-puing. Saya menuliskan ini bukan untuk mengorek luka lama, tapi mencoba mengabadikan sebuah cerita. Cerita lama yang pahit atas nama agama. 
Desa tersebut bernama Iha, saat ini kita hanya bisa menyaksikan puing-puing bangunan. Menurut cerita Om John, dulu di desa ini bermukim penduduk yang beragama islam. Namun ketika kerusuhan besar-besaran di Maluku pada rentang waktu 1999 – 2004 membuat desa ini dibakar. Letaknya yang berada di antara
dua desa kristen, membuat desa ini habis dalam semalam. Tapi bukan hanya Iha saja yang terbakar. Masih ada beberapa desa lain yang terbakar karena kerusuhan. 
Saya membayangkan teriakan, tangisan dan darah yang tertumpah pada saat itu. Ketika saya melewati jalan setapak di desa ini, rasanya seperti ada yang mengatakan untuk tidak mengulang kisah yang sama. Kisah sedih yang hanya menghasilkan luka dan nanah. Semoga anak muda saat ini lebih berpikir jernih dalam mengambil keputusan. Sehingga Indonesia rukun dan damai dalam keberagamannya. Aamin ya rabbal alamin.. 
Reruntuhan Desa Iha
Dari penuturan Om John, masyarakat desa ini menyelamatkan diri ke pulau-pulau terdekat. Seperti Pulau Nusa Laut dan Pulau Seram. Dan saat ini tidak ada yang membangun di desa ini. Dibiarkan kosong dan puing-puing sebagai saksi tetap ada, seakan menjadi pengingat bahwa pernah ada luka disini.
Desa Ouw, pembuat tembikar
sepasang suami istri perajin tembikar Desa Ouw
Setelah itu, kami pun berjalan-jalan menggunakan angkot yang sudah disewa mengelilingi Saparua. Jujur, agak sulit untuk mendapatkan angkutan umum disini. Karena desa satu dan yang lain hanya jalan kecil. Jika ingin mengeliling Saparua, saya sarankan untuk menyewa motor di desa Haria. Mungkin bisa lebih murah dibandingkan menyewa angkot. πŸ˜€
Tujuan kami adalah Desa Ouw untuk melihat pengrajin tembikar. Menurut Mama Mery, di desa ini ada sebuah tempat yang digunakan sebagai tempat kerajinan tembikar. Para pelancong membiasakan untuk ke tempat ini dan melihat kerajinan dari tanah liat. Tempat ini dimiliki oleh sepasang suami istri. Mereka berdua mengelola tempat ini dan menjadikan salah satu tempat yang wajib dikunjungi. 
hiasan tembikar seukuran jari. πŸ˜€
Jika ingin melihat proses membuat tembikar dari tanah liat, jangan datang ketika hari minggu. Karena tidak akan mendapatkan proses apa-apa. Hari minggu digunakan oleh bapak dan mama untuk pergi ke gereja.
Kami melihat-lihat hasil tembikar yang ada. Ada cetakan sagu mini, alu, celengan, hingga pot besar. Harganya setiap barang bervariasi. Tergantung tingkat kesulitan dan jenis barang. Jika mau, anda bisa memberikan warna pada temikar buatan anda.

tulisan ini saya bagi ke dalam dua tulisan, maaf agak panjang ya. :D. πŸ˜€

Ditulis di Kantor kak Agus, Pejaten, Pasar Minggu
1 Agustus 2015 12:45

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *