Penjaga Budaya Tenun di Pelosok Flores

Dulu, pandangan orang mengenai batik sangat dianggap tua dan ketinggalan jaman. Batik hanya digunakan ketika pergi ke acara pernikahan, potong pita, sunatan dan juga akikahan. Agak aneh jika batik digunakan di acara non formal seperti ulang tahun. Selain itu Batik juga dianggap sebagai pakaian orang tua. Jangan heran jika seseorang yang memakai Batik di sebuah acara, akan dicemooh.
“Tua banget sih lo pake batik.”
“Kayak baju bokap gue, ih”.
Namun ternyata Batik mampu bangkit dan menjadi salah satu pakaian yang diminati. Sejak tahun 2008, ketika Batik diklaim oleh negara tetangga, secara serentak segenap masyarakat Indonesia menolak klaim tersebut. Langkah tegas pun diambil, Indonesia langsung mengajukan Batik sebagai budaya tak benda warisan manusia (Representative List of Intangible Cultural Heritage) ke UNESCO.

Dan per tanggal 2 Oktober 2009, Indonesia pun berhasil mengukuhkan batik sebagai warisan budaya. Dari sinilah lahir Hari Batik Nasional yang diperingati oleh banyak instansi pemerintah dan swasta di negeri ini. Hingga muncullah beragam motif batik di seluruh penjuru Indonesia, salah satunya Batik motif Maluku yang jarang sekali terdengar kiprahnya di dunia nasional. Motif buah khas Maluku, seperti cengkeh dan pala menjadi motif paling terkenal. Sehingga beberapa instansi di Maluku, menggunakan batik dengan motif ini sebagai seragam kantor.
Tapi sebenarnya kebudayaan kain Indonesia, bukan hanya berbicara mengenai Batik melulu. Ragam kain di Indonesia menunjukkan kekayaan budaya di negeri ini. Mulai Sabang hingga Merauke, tersebar jenis kain-kain yang indah dan cantik. Misalnya saja songket, kain tenun, kain sutra, dan ulos.
Tapi saya pernah mengalami pengalaman yang seru ketika melihat secara langsung pembuatan kain tenun di Flores. Tepatnya ketika saya datang ke Kampung Jong Dobo (ceritanya baca disini), sebuah desa adat yang terletak di dataran tinggi Maumere. Desa yang memiliki kearifan lokal berupa kapal mini yang dianggap salah satu kapal yang kena kutukan, sehingga terdampar di hutan Tuan Pireng, yang maknanya hutan sakti berupa hutan lindung yang digagas Pemerintah Hindia Belanda sejak tahun 1932.
ibu-ibu pengguna kain tenun
Untuk mendapatkan akses ke Kampung Jong Dobo, ada beberapa perkampungan mesti dilewati, yakni Kampung Habilopong, Apinggoot dan Wolomotong. Setibanya di Hutan Tuan Pireng, kami disambut dengan gapura dalam bahasa Sikka ”Uhet Dien Dat Hading” artinya, ”Selamat Datang, Pintu Terbuka”.
Terletak di ketinggian 500 meter di atas permukaan laut, kampung ini tidak memiliki jalan aspal. Hanya jalan setapak kecil, sehingga motor tidak bisa lewat. Untuk menuju perkampungan yang dihuni oleh 38 KK, kami hanya berjalan kaki. Pemandangan Kota Maumere terlihat dari atas sini.
Di kampung inilah saya bertemu Aurelia Wancelina (cerita baca disini), anak berumur 16 tahun yang memiliki cita-cita untuk bersekolah. Ia yang harus turun gunung untuk ke sekolah dan menempuh perjalanan sekitar 10 km. Namun cerita berubah ketika ibunya wafat, ia sebagai anak pertama ikut menanggung beban keluarga. Dengan kesadaran tinggi, ia pun menjadi penenun kain tradisional khas Maumere. Namun karena Wance masih sangat baru, ia pun didapuk untuk menenun kain yang lebih kecil atau biasa disebut dengan Sembar.  
Sedangkan kain-kain berukuran lebih besar disebut dengan Utan, dikerjakan oleh ibu-ibu yang sudah terampil. Untuk selembar kain sembar dibanderol harga 100 ribu, dengan waktu pengerjaan sekitar 10 -15 hari. Kalau kain Utan dibanderol dengan harga 400 – 500 ribu rupiah, dengan waktu pengerjaan sekitar 10 – 15 hari. Tergantung dari tingkat kesulitan pola dan warna.
Proses pembuatan kain tenun ini dilakukan secara manual, dari proses mengikat kapas menjadi benang-benang. Kemudian mereka mencari pewarna alami, seperti daun, batang, atau akar tanaman, kemudian dimasak untuk mendapatkan ekstrak warna yang diinginkan. Setelah itu benang-benang diikat dan ditenun menjadi sebuah kain. Uniknya, jenis tenun ini hanya ditemukan di Maumere. Untuk pembentukan motif, proses pencelupan warna yang dilakukan berulang-ulang karna satu warna saja butuh waktu selama 2-3 hari untuk pengeringan. Setelah selesai ditenun dan diberikan warna, kain ini siap dibawa ke pasar tradisional di Kabupaten Sikka.
seorang anak diantara kain tenun yang siap dipasarkan

Jangan dikira, uang sebanyak itu akan masuk ke kantong Wance. Uang penjualan Sembar ini kemudian dibagi lagi. Karena Wance tergabung dalam kelompok koperasi di Desa Dobo. Ia mendapatkan uang bagi keluarganya dari kegiatan menenun ini. Moral cerita ini adalah jangan biasakan menawar kain tradisional, ingat peluh dan usaha yang dikeluarkan si penenun untuk membuat benang-benang menjadi selembar lembar kain.

Di Flores, kain tenun merupakan andalan ekonomi utama keluarga di desa-desa. Banyak ibu-ibu rumah tangga yang menggantungkan hidupnya di profesi ini. Di saat kaum laki-laki pergi ke ladang atau ke kebun, para perempuan ini dengan telaten menenun di depan rumah
. Karena itulah, menenun menjadi simbol kedewasaan perempuan di Flores. Proses menenun yang membutuhkan kesabaran, ketelitian, kecekatan dan kepintaran dianggap sebagai sekolah yang menghantarkan perempuan menuju kedewasaan. Jika seorang pria datang meminang seorang perempuan, pihak dari perempuan akan memberikan kain hasil tenunannya dan makanan kepada pihak laki-laki.
Tradisi menenun bukan hanya berbicara soal selembar kain, namun lebih kepada budaya. Jika tradisi ini hilang, budaya akan lambat laun ditelan kemajuan dan arus zaman. Wance adalah salah satu penjaga tradisi, dan kita juga bisa menjadi salah satu penjaga budaya. Menjaga budaya bisa kita lakukan dengan cara-cara sederhana, misalnya ikut menuliskan mengenai budaya menenun ataupun membeli kain tenun dan mempromosikannya.
Selamat Hari Batik Nasional 2 Oktober 2015
ditulis di Kantor kak Agus, Pasar Minggu
Sabtu, 3 Oktober 2015 1:57 WIB

You may also like

4 Comments

  1. Batik memang menjadi ciri khas kita, dan harusnya kita berbangga dengan karya Indonesia ini.

    Pengen ikutan lomba ini juga, tapi kalau adlin sudah ikutan pasti juaranya sudah bisa ketebak. hehehhe

  2. Akbarrr,,, kamu gak usah merendah deh, tulisan kamu lebih kerennn. 😀

    ikutan aja, ak ikutan hanya untuk mengasah keterampilan menulis aja sih. menang atau kalah itu urusan belakang. 😀

  3. emang keren banget. ayooo, kk harus ke Flores. tambahkan di dalam daftar impian. simpan dan berusaha untuk bisa melakukannya. semangat!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *