Perdagangan Hiu di Sulawesi Selatan (part : PPI Paotere)

Pagi-pagi di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Paotere sangat ramai (22/11). Orang mencari ikan segar. Ada yang menjualnya kembali ada juga yang untuk konsumsi pribadi (rumah tangga). Suasana riuh rendah mewarnai PPI ini. Aroma ikan, udang, cumi dan telur ikan terbang menguar di udara. Pembeli berusaha menawar harga yang terendah, penjual berusaha memberikan harga  terbaik. Saya senang melihat transaksi seperti ini. Rasanya ingin terjun dalam transaksi seperti ini dan mendapatkan ikan atau cumi segar di tangan dengan harga murah.

Saya dan Neni mencari ikan yang saat ini menjadi topik penelitian kami. Ikan hiu. Kami menjelajahi isi pelelangan ikan untuk mencari nelayan ikan hiu. Betapa terkejutnya kami ketika di pinggir belakang PPI, ada penjual ikan hiu dalam skala yang cukup besar. Sekitar 24 ikan hiu terbujur kaku, dan sebagian dari mereka sudah tidak bersirip lagi. 
Kami pun berusaha menghimpun informasi dari para nelayan mengenai penangkapan ikan hiu. Beberapa nelayan kami wawancarai mengenai hiu yang mereka dapatkan. Dari tiga penjual, dua nelayan mengatakan bahwa hiu yang mereka dapatkan hanya satu ekor dan bukan hiu yang mereka cari. Hiu yang mereka dapatkan karena tersangkut di jaring (bycacth). Sedangkan nelayan yang menjual banyak ikan hiu mengatakan bahwa ia menggunakan Rawe untuk menangkap ikan hiu tersebut. Jadi ikan hiu memang terjerat mata pancing. 
Hiu biasanya banyak ditangkap pada awal bulan (bukan pada terang bulan). Setiap harinya ada sekitar 40 ekor hiu diangkat di pendaratan ikan Paotere. Hiu yang ditangkap dari nelayan sangat beragam mulai dari hiu yang paling besar hingga hiu yang paling kecil. 
Ditangkap menggunakan Rawe’ (pemancing dengan kurang lebih 500 mata pancing) atau dengan gillnet (jaring insang). Nelayan mengambil hiu yang kecil (baby shark) dari beberapa pulau di sekitar Makassar. Sedangkan ikan hiu yang besar mereka dapatkan dari laut lepas, misalnya laut Sulawesi menjorok ke Kalimantan. 
Para nelayan menjual ikan hiu dengan harga yang beragam. Untuk hiu yang ukuran kecil bisa dihargai sekitar 15-25 ribu per ekor. Itu harga tanpa sirip. Jika ingin membeli ikan hiu menggunakan sirip, anda akan diberi harga sekitar 30-35 ribu. 
Untuk hiu ukuran besar, satu ekornya akan dihargai sekitar 500 ribu. Itu tanpa sirip. Karena sirip ikan hiu dewasa sudah lebih dulu dipotong dan dijual ke pengepul. Biasanya pengepul akan menjual kembali hingga ke luar negeri. Daerah tujuan penjualan yaitu di Malaysia dan Singapura. Sirip hiu dikumpulkan kemudian dikirim ke Surabaya. Disanalah sirip hiu dari berbagai tempat diekspor ke kedua negara tersebut.
Menurut Bapak Ahmadi salah seorang juragan nelayan, dulu sirip hiu bisa dihargai hingga 1 juta per kilo. Namun setelah ada pelarangan konsumsi sirip hiu, harga sirip sempat jatuh. Per ekor hanya dihargai 300 ribu. Karena itu banyak nelayan yang sudah tidak mengejar hiu untuk mendapatkan siripnya. 

Sedangkan ikan hiu kecil biasa dijual di daerah sekitar Makassar. Menurut Basri, hiu yang kecil dibeli oleh pedagang yang akan membawanya ke daerah-daerah. “Biasanya orang yang tinggal di pegunungan suka dengan daging ikan hiu, dipotong-potong kecil kemudian dibakar,” jelas pria yang bekerja sebagai nelayan. Ikan hiu yang sudah dibakar, akan dimakan bersamaan dengan Ballo’ (sejenis tuak/arak khas Sulawesi Selatan). Daerah penjualan meliputi Maros, Bantaeng, Sinjai, Sidrap dan Gowa. 

Selain itu, hati ikan hiu dipercaya sebagai obat bagi penderita asma akut. Jadi ikan hiu tanpa sirip dibeli oleh pembeli konsumsi (rumah tangga). Tapi sirip dijual untuk diekspor ke negara lain. Hiu setelah dikeringkan harganya lebih mahal lagi. Karena melewati beragam proses setelah dipotong dari ikan hiu. 
Jenis hiu yang diangkat di PPI sangat beragam. Dari pengamatan kami, ada beberapa jenis ikan hiu yang didaratkan disini. Sebut saja ikan hiu tinumbu (graceful shark), hiu pangkulu (winghead shark), dan beberapa jenis lainnya. 
Oh no,yang paling parah pas saya tanya, “Pak, apakah kita merasakan kekurangan ikan hiu selama ini?” dan eng-ing-eng.. jawabannya seperti yang sudah sering kita temukan. “Ikan itu ada ratusan ribu ga akan pernah habis,”… >_<
Laboratorium Toksik dan Mikrobiologi. 22 November 2013, 21:26 Wita

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *