Perjalanan Bersama Mobil Tua ke Pantai Tulungagung

The most wasted all of day is one without laughter – C.C. Cummings

 

Mazda tua sarat kenangan

 

Pagi itu (23/01) kami mencari mobil rental. Syafni menghubungi rental yang biasa dia gunakan. Dollah pun begitu. Faisal harus pergi mencari rental dengan sepeda kuningnya. Lisa juga mencari nomor telepon pemilik rental yang lain. Kami semua sibuk untuk mencari mobil rental. Karena jam sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB. Jika tidak dapat mobil hingga siang nanti, rencana untuk pergi ke pantai akan batal. 
Saya pun berusaha menghubungi semua nomor rental yang saya miliki. Hingga akhirnya saya pun ‘curhat’ dengan suaminya Ibu Erna, pemilik kost yang saya tempati selama tinggal di Pare. Bapak menyarankan untuk menemui Pak Hakim. Beliau memiliki mobil Mazda Bongo di garasinya yang jarang digunakan. Seingat Pak Erna (saya lupa namanya.. hiks), mobil tersebut jarang direntalkan kepada orang lain. Karena itu adalah mobil keluarga dan tergolong mobil tua, sehingga Pak Hakim sangat hati-hati dalam memilih customer. Saya pun memohon Pak Erna untuk meminjamkan mobil kepada Pak Hakim. 

Pucuk dicinta ulam tiba, Pak Hakim menyetujuinya. Saya dan Faisal pun segera menuju rumah Pak Hakim untuk melihat kondisi mobilnya. Terlihat mobil van yang sering saya lihat di tv pada saat kecil. Van yang biasa digunakan oleh penculik saat menyekap korbannya. Tapi bayangan itu segera pupus dan tergantikan dengan pemandangan yang indah jika mobil ini jadi digunakan. Mazda Bongo keluaran tahun 1980 berwarna hijau tua metalik terlihat apik. Sound systemnya masih sangat baik. Setelah kami menyepakati harga, jadilah Mazda ini kami bawa menuju TEST English School. Disanalah titik kumpul kami. 
Setelah pesan berantai tentang perjalanan ini tersebar, terkumpulah 13 orang yang ingin merasakan keindahan Tulungagung. Kami pun segera bergegas memasuki mobil dan mencari tempat duduk yang sesuai. Saya memilih tempat duduk di dekat jendela, karena pendingin udara di dalam mobil tak berfungsi. Faisal didapuk sebagai supir pertama dan saya diminta untuk menunjukkan jalan. Dalam ingatan saya, arah Tulungagung nyaris sama dengan arah ke Blitar. Karena saya pernah menggunakan motor ke Blitar. 
Drama pun dimulai disini. Ketika kami mulai jalan ke arah Blitar, tiba-tiba mobil kami dikejar oleh motor polisi. Kami pun mulai panik. Tapi Faisal tetap terlihat tenang. Kami semua jadi bingung, apa salah kami? Apakah karena kami menaiki mobil dengan 13 orang? Atau karena plat yang sudah usang? Atau? Atau? Atau? 
Simpang Lima Gumul jadi tujuan pertama
pose!
Ternyata kami salah masuk jalan. Jalan yang kami lewati hanya satu arah pada jam-jam tertentu. Hanya motor yang bisa lewat setiap jam, sedangkan mobil memiliki waktu terbatas. Karena itu kami ditahan. Belum lagi SIM Faisal sudah kadaluarsa, sehingga Pak Polisi membuat kami semakin tersudut. Tapi dasar anak-anak ini sudah terbiasa disudutkan, mereka kembali menyudutkan Pak Polisi dan meminta keringanan dalam melakukan pembayaran. Hasil negoisasi panjang dengan alasan perantau dan mahasiswa, kami diwajibkan membayar Rp. 75.000 untuk kesalahan kami. Alhamdulillah. 
Mobil pun kembali melaju. Tapi waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 WIB.  Perjalanan ke Tulungagung ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam. Kali ini Kokoh didaulat sebagai kapten mobil. Husni sebagai co-driver yang menemani Kokoh menuju Tulungagung. Selama perjalanan, banyak yang mengantuk dan tertidur.. Kami sempat singgah di Arc de Triomphe milik Kabupaten Kediri karena ada beberapa anggota yang belum pernah foto di tempat tersebut. heheh.
“Werewolf” di Pantai Pasir Putih Prigi
banyak sampah di laut. liat deh..
Hingga kami pun tiba di Pantai Pasir Putih Prigi, Trenggalek. Bulan sedang menunjukkan kecantikannya, jam tangan sudah menunjukkan pukul 00.15 WIB. Diantara kami tidak ada yang membawa tenda ataupun persiapan menginap lainnya. Sehingga kami pun memutuskan untuk bermain di pinggir pantai. “Werewolf” nama permainannya. Awalnya saya tidak bisa mengikuti jalan ceritanya, namun lama-kelamaan, saya keasikan bahkan larut dalam melakukan negoisasi. Haha. Permainan ini menguji kepiawaian kita dalam mempengaruhi orang. Apakah orang tersebut percaya kepada kita atau tidak. Saya beberapa kali dibunuh oleh orang yang saya percaya. Ckckc. 
Tak terasa air laut semakin menjauhi bibir pantai. Saya memilih tidur di atas pasir dengan berselimutkan jaket. Sudah lama rasanya tidak menikmati angin pantai yang sepoi-sepoi seperti ini. Tujuh bulan saya tidak pernah mencicipi air laut lagi, karena itu jangan heran saya seperti ini. Haha. Semua orang mencari spot terbaiknya masing-masing. Ada yang tidur di mobil, tidur di musholla, bahkan tidur di bangku jualan orang. haha. Banyak orang yang memasang tenda di pantai ini. Sepertinya asik untuk bawa tenda kalau kesini lagi. 😀
Pukul 06.00 matahari mulai menyingsing.  Segera setelahnya kami menuju dermaga di ujung pantai. Sampah melayang di air yang berwarna hijau turqoise. Hiks. Sedih banget liatnya. Sampah plastik mengambang dimana-mana, mengurangi keindahan pantai. Males banget nyebur kalau pantainya kotor kayak gini. Akhirnya kami foto-foto dan memutuskan untuk mencari lokasi pantai lainnya. 
teman adalah bumbu perjalanan yang paling penting. 😀
Perjalanan pun dilanjutkan dengan bantuan Mbah Google Maps, kami sempat mencari makan di pinggir jalan. Sebuah rumah makan yang menyajikan Lodho Ayam membuat kami penasaran. Mobil pun dihentikan, semua orang langsung keluar untuk membeli sarapan pagi. Lodho adalah makanan khas Tulungagung dan Trenggalek. Ayam kampung yang dilumuri bumbu berwarna orange layu dan rasanya endesss banget. Pengen nambah rasanya, tapi perut sudah tidak memungkinkan. Harga seporsinya hanya 10 ribu. Benar-benar nikmat. 
Bermain Pasir Putih Tanpa Sampah di Pantai Kedung Tumpang
our captain! hail to the captain!
Kami pun melanjutkan perjalanan mencari Pantai Kedung Tumpang. Kali ini Kokoh jadi supir kami. Jalanan yang ditunjukkan oleh Mbah Google Maps mengarahkan kami menuju jalan berbatu dan licin. Beberapa kali dashboard mobil harus terbentur batu karena muatan mobil yang sangat sarat. Beberapa kali kami harus turun agar mobil bisa melaju dengan sempurna. Hingga akhirnya Faisal mengambil alih kemudi. Disaat kami merasa tidak mungkin untuk melanjutkan perjalanan karena bensin yang mau habis dan jalanan yang semakin curam, ia dengan sigap berpikir positif. “Tenang, sampe ji ini,” ujarnya berkali-kali menenangkan. 

 

jalan kaki harus kami alami berkali-kali demi pantai bersih..

 

Setelah bertanya kepada pemuda dan pemudi desa, kami pun dengan mudah menemukan jalan menuju Pantai Kedung Tumpang. Tak sia-sia perjalanan hampir 3 jam untuk menemukan pantai yang tersembunyi ini. Alhamdulillah. Kami melihat plang Kedung Tumpang, namun ternyata dari plang tersebut masih dibutuhkan waktu sekitar 40 menit untuk tiba di pantai. Jalan yang curam dan licin membuat kami terpaksa keluar dari mobil untuk mendorong mobil. Hahah. Perjalanan yang tidak akan terlupakan, karena seringnya kami keluar agar mobil bisa melaju dengan normal. 
Setelah melewati ladang jagung di kanan kiri, kami pun tiba di Pantai Kedung Tumpang. Segera setelahnya kami turun menuju pantai. Pasir pantai putih tanpa sampah! Akhirnya! Pantai yang baru dibuka sejak November 2015 ini masih sangat minim pengunjung. Sehingga sampah manusia masih sangat jarang. Saya segera mengambil gambar. Nelayan disini tidak menggunakan kapal untuk menangkap ikan, namun hanya mengandalkan kail untuk mendapatkan ikan. Menarik! Mereka berkali-kali melemparkan kail ke arah ombak besar nan ganas! Tapi karena keterbatasan saya berbahasa Jawa Timur, saya tidak mendapatkan informasi lebih mengenai fenomena memancing ini. Hiks. 
yuhuuuuu… we are in. 😀 Lihat di sebelah kiri, ada bapak2 yang sedang atur kail untuk mancing
Fokus saya hanya satu, pantai pasir putih tanpa sampah. Walaupun ombak ganas yang bisa menerjang siapa saja, tapi who cares? Pokoknya liburan dan main air. Haha. Saya benar-benar menikmatinya. Karena esok, saya akan meningga
lkan Pare bersama setumpuk kenangan disana. Dan pintaku, biarlah hari ini masuk dalam kenangan indah yang tak terlupa tentang Pare dan isinya. 😀 Mobil Mazda hijau metalik tidak akan pernah saya lupakan jasanya untuk membawa kami bertiga belas sekaligus. Perjalanan yang mengesankan dan penuh dengan kenangan. 
Terimakasih guys, Lisana, Syafni, Faisal, Dollah, Nuha, Husni, Kokoh, Jamil, Imam, Nana, Helmy, Anindya. You guys Rock!

 

 

Ditulis di Rumah Mbah, Depok
23:08 WIB Wednesday, 24 Februari 2016 (Sebulan setelah perjalanan ini)
Sambil denger lagu The Man Who Can’t Be Moved. Ckckc.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *