Perjalanan, Sebuah Cita-cita

“Merantaulah. Gapailah setinggi-tingginya impianmu. Bepergianlah. Maka ada lima keutamaan untukmu : melipur duka dan memulai penghidupan baru, memperkaya budi pekerti, pergaulan yang terpuji, serta meluasakan ilmu” – Imam Syafii

Kesukaan saya dengan jalan-jalan atau biasa disebut jokka-jokka (Bahasa Makassar. red) dimulai sejak SD. Perjalanan paling jauh adalah ketika saya membolos sekolah. Jarak dari rumah di sebuah kampung hingga ke Kota Bogor. Perjalanan saya tempuh dengan jalan kaki. Berpura-pura sekolah padahal jalan entah kemana dan menunggu hingga petang menjelang. Terkadang bersembunyi di pos ronda, warung, atau di rumah seorang saudara jauh yang tak pusing dengan acara “bolos rutin”. Sebuah keasikan tersendiri ketika saya berjalan-jalan dan bertemu dengan orang banyak. Ini tidak patut ditiru.. 😛
Perjalanan itu membuat saya ketagihan dengan jalan-jalan. Hingga saya menginjak tahap sekolah SMP. Pada waktu SMP perjalanan yang paling saya suka adalah mengelilingi kampung sepulang sekolah. Berburu buaya ‘fiktif’, menangkap belut, berlarian di sawah belakang rumah, dan juga bertempur dengan lintah yang menghisap darah kerbau. Kadang juga menangkap ikan kecil yang tak dibutuhkan oleh pemilik empang (kolam ikan kecil). Saya menyadari bahwa saya mencintai sebuah perjalanan.
Ketika SMA pun kecintaan ini terus saya jalani. Tapi perjalanannya lebih luas lagi. Hingga ke Jakarta. Sebuah kota yang harus ditempuh dengan menggunakan kereta api. Saya baru belajar naik kereta api sendirian ketika kelas 3 SMP. Dan ketika SMA, kegilaanku pada jalan-jalan semakin bertambah. Saya bergerilya di museum-museum, pasar-pasar buku loak, dan juga melihat gedung-gedung tinggi. 
Hingga akhirnya saya harus menuntut ilmu di Kota Makassar. Merantau! Perjalanan pertama saya menggunakan sebuah pesawat terbang! Tanggal 29 September 2008, saya menjejakkan kaki di Makassar. Sebuah kota yang menyediakan ruang bagi saya untuk lebih mengeksplor keinginan untuk berjalan-jalan. Saya pun menjelajahi kota Daeng dan kulinernya. Tak luput saya mengelilingi akar sejarah dan budaya di kota ini. Saya jatuh cinta. Saya pun meneriakkan mimpi untuk bisa menapaki Indonesia. 😀

Dan Alhamdulillah, saya sedikit berhasil menapaki kaki saya di berbagai daerah Indonesia. Perjalanan yang saya lakukan entah gratis ataupun dengan uang sendiri membuat saya semakin jatuh cinta dengan sebuah perjalanan. Karena setiap perjalanan membuat saya menemukan sebuah makna hidup yang baru. Bagaimana melihat orang tidak dengan sebelah mata atau mencoba mensejajarkan sebuah paham kita dengan orang lain. Saya mempelajari banyak hal dari sebuah perjalanan. 

Saya mengejar makna hidup. Menyimak banyak hal. Dan mencoba mengerti cara pandang dan cara fikir seseorang. Tapi ini masih belum selesai. Masih banyak makna hidup yang harus saya kejar. . Karena saya semakin menyadari kekurangan saya setelah melakukan perjalanan.

Identitas, 12 November 2013

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *