Perjalanan Tiga Jam di Tanah Lot


di depan Pura Tanah Lod

Petualangan saya kali ini ditemani oleh seorang kakak, Mas Teguh namanya. Kami sudah berpetualang sebelumnya di Pulau Serangan (baca disini). Setelah pagi di hari minggu kami berolahraga bersama di Lapangan Renon, kami pun berencana untuk pergi ke Tanah Lot. Niatnya sekalian mencari tanah jualan temannya Mas Teguh. Perjalanan pun diatur, pukul 11.30 Wita, kami berangkat dari perempatan Benoa. 
Mas Teguh. He is from WWF-Indonesia
Sepanjang perjalanan, Mas Teguh mencari jalan-jalan baru. Ia tidak mengikuti jalan yang biasanya ia lewati. Namun ternyata jalan tersebut lebih cepat dibandingkan jalan yang biasa ia gunakan. Sedangkan saya hanya menikmati perjalanan yang dihiasi oleh sawah-sawah padi yang masih hijau. Keren.. 
Akhirnya kami tiba di Tanah Lot dengan selamat. Membayar tiket masuk sebesar 10.000 per orang dan karcis parkir sebesar 2.000. Kami pun memarkirkan kendaraan di lahan parkir yang telah disediakan. Di sepanjang perjalanan menuju pura, banyak penjaja makanan dan souvenir. Tapi untungnya masih tertata rapih jadi tidak mengurangi keindahan. 
Memasuki pintu utama Pura di Tanah Lot membuat saya berdecak kagum. Bagaimana tidak, sebuah pura dikelilingi oleh ombak besar yang seakan-akan menggambarkan kedigdayaan pura tersebut. Sebuah pemandangan yang sakral. Saya pun berfoto di dekat pura tersebut. Tak jauh dari sana ada sebuah lubang yang konon katanya dihuni oleh ular sakti nan sakral. Untuk melihat ular tersebut, kita diharuskan membayar. Hmm. Saya memilih untuk foto-foto di depan pura saja. Walaupun mata tak lepas dari kerumunan orang yang mencoba melihat ular sakti tersebut. Saya penasaran. 
Pura Batu Bolong
Menurut sejarah, pura tersebut terjadi ketika Dang Hyang Nirartha (seorang pembawa ajaran Hindu di Bali) membuat benteng pertahanan dari serangan Bendesa Beraban. Ia memindahkan batukarang besar ke tengah lautan serta menciptakan ular sakti disekelilingnya. Sehingga tanah tersebut dinamakan Tanah Lod yang berarti Tanah di Tengah Lautan. 
Setelah itu kami pun menaiki jalan untuk menuju Pura Batu Bolong. Salah satu pura yang berada dalam kawasan ini. Dinamakan Pura Batu Bolong karena ditempat berdirinya, karang tersebut ada lubang besar. Pura ini dibangun untuk memuja dan memohon kesucian. Karena bentuknya yang unik, pura ini menjadi salah satu daya tarik wisatawan. 
Di dalam kawasan Pura Tanah Lot masih ada beberapa pura yang harus disinggahi sebelum pulang. Pura Batu Mejan, pura yang dikenal dengan nama “Beji” untuk memohon dan mendapatkan air suci untuk upacara agama hindu. Selain itu ada Pura Jro Kandang yang dibangun untuk memuja dewa penguasa berbagai jenis hama dan penyakit, agar ternak dan tanaman terhindar dari hama dan penyakit. Tak lupa Pura Pekendungan yang merupakan salah satu Pura Dang Khayangan. 
Saya dan Mas Teguh banyak menghabiskan waktu di dekat salah satu pura sambil membicarakan masalah kelautan di Indonesia. Misalnya saja penyu dan paus yang menjadi salah satu hewan langka di Indonesia. ini senangnya punya kenalan yang concern terhadap masalah kelautan, bisa saling menambah wawasan dan minat untuk memajukan dunia kelautan Indonesia. akhirnya kami pun harus pulang, merujuk pada waktu yang mulai memasuki sore. Karena masih ada tugas lain yang harus dituntaskan, mencari tanah.. hahaha. 
Perjalanan selama tiga jam ini membuat saya semakin yakin bahwa budaya Indonesia sangat beragam dan tak tergantikan di tempat lain. Semoga kita, para muda bisa mengubah negara ini menjadi lebih baik. Karena itu, berjalan dan berpetualanglah untuk mendapatkan hal baru yang bisa dipelajari untuk Indonesia yang lebih baik. 
Ditulis di Kamar Kost, Wuring, Kab. Maumere, NTT
29 Januari 2014 23 : 44 Wita
 

I’m at Pura Batu Bolong

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *