Pesan Mbah Rayi untuk Keluarga Harmonis

Keharmonisan atau keserasian dalam rumah tangga perlu dijaga atau dipelihara. Mengapa? Karena Bapak-Ibu harus dapat diteladani oleh putra-putrinya. Karena keluarga merupakan unsur terkecil dari negara.

Tulisan ini saya dapatkan dari pidato Mbah Rayi, Alm Larasati Djojowinarso yang dibacakan saat mengisi Majelis Taklim Sakinah pada tanggal 9 Juni 2007 di Basement MUI, Depok. Tema yang dibawakan oleh Mbah Rayi saat itu adalah tentang Memelihara Keharmonisan Keluarga Besar.

Menjaga Keharmonisan Keluarga Besar

Keharmonisan atau keserasian dalam rumah tangga perlu dijaga atau dipelihara. Mengapa? Karena Bapak-Ibu harus dapat diteladani oleh putra-putrinya. Karena keluarga merupakan unsur terkecil dari negara. Maka bila masing-masing keluarga sudah baik, akhirnya terbentuklah masyarakat yang baik. Jika masing-masing masyarakat baik, akhirnya terbentuklah negara yang baik (tentram, adil, makmur, sejahtera).

Suatu keluarga akan harmonis, apabila telah ada kesepakatan dan kebersamaan untuk mencapai / melaksanakan masa depan keluarga yang dicita-citakan, tanpa adanya benturan-benturan yang tidak dapat diselesaikan bersama.

Hal ini akan terlaksana apabila didasari oleh P.L.T.6K . yang bermakna

P = Profesionalisme

L = Loyalitas

T = Tawakal kepada Allah SWT

Didukung oleh 6 K yang bermakna

K1 – K6 = Ketaqwaan, Ketertiban, Kebersamaan, Keterbukaan, Keikhlasan, Keridhoan Allah SWT.

Insya Allah dengan PLT6K tujuan atau keberhasilan masa depan keluarga tercapai.

Profesionalisme Loyalitas dan Tawakal

Dalam keluarga, suami istri harus memiliki rasa P L T. Apa P L T itu?

P = Profesionalisme,

Artinya suami-istri harus memahami akan kewajiban dan hak-haknya. Sehingga tidak akan terjadi masalah yang berarti. Kewajiban suami istri yang berbeda, namun selalu dikerjakan bersama-sama dengan tulus ikhlas. Sehingga semua ugas dirasakan ringan, tidak ada yang dirasakan berat, akhirnya membawa keberhasilan yang gemilang, berarti terwujudlan profesionalisme dalam keluarga

L = Loyalitas ; kesetiaan / ketaatan / kepatuhan

Dengan kesetiaan atas segala janji antara suami-istri, insya Allah, terbentuklah ketentraman dalam rumah tangga. Tidak pernah terjadi penyelewengan, perselingkuhan, sehingga kapanpun, dimanapun suami/istri dapat dipercaya. Suami istri masing-masing berkomitmen dengan segala sesuatu yang telah disepakati bersama

T = Tawakal kepada Allah SWT

Berserah diri kepada Allah SWT. Setelah suami istri dapat melaksanakan / membentuk rumah tangga secara profesional dan loyalitas tinggi, maka janganlah khawatir / sedih apalagi stress. Tapi serahkan, percayakan semuanya kepada Allah SWT, berserah diri kepada Allah SWT.

Insya Allah, Allah SWT yang Maha Pengasih dan Penyayang akan mengabulkan permohonan kita.

Semua cita-cita kita akan tercapai apabila didukung oleh 6K :

Uraian 6 K (K1, K2, K3, K4, K5, K6)

K1 = Ketakwaan

Kita saat dirumah / berkumpul seyogyanya melaksanakan sholat wajib 5 waktu berjamaah, kecuali suami dan anak laki-laki di masjid. Karena keutamaan shalat berjamaah akan bertambah 27 derajat pahala kita. Juga melaksanakan shalat Dhuha / Shalat Rizki 2 rakaat atau lebih. Keutamaan shalat Dhuha, insya Allah rizki kita akan lancar.

Begitu juga melaksanakan shalat malam / shalat Tahajud. Keutamaan shalat Tahajud meningkatkan derajat atau martabat kita. Memang shalat tahajud ini berat, namun bila sudah kita niatkan dengan baik agar dapat berdialog langsung dengan Allah, insya Allah, Allah akan mengabulkan permohonan kita, termasuk memohon kesembuhan penyakit kita.

Selain itu berpuasa / shaum, keutamaannya dapat mengangkat penyakit, menambah kesehatan kita.

Berpuasa wajib di bulan Ramadhan

Keutamaan puasa wajib di bulan Ramadhan. Hal ini bisa menambah ketakwaan dan kesehatan kita.

Berpuasa Sunnah di hari senin dan kamis

keutamaan melaksanakan puasa senin dan kamis keciali meningkatkan kesehatan kita akan dikabulkan permohonan kita. Allah SWT mengutamakan doa orang tua untuk anaknya, serta umatNya yang berpuasa senin dan kamis. Terlebih lagi orang tua yang berpuasa senin/kamis untuk anaknya, Allah SWT akan mengutamakan hal yang satu ini.

Berpuasa Sunnah pada tanggal 13,14,15 Hijriah

Keutamannya sama dengan berpuasa 1 tahun. Nabi Muhammad SAW selalu melaksanakan shaum-shaum tersebut diatas.

K2 (Ketertiban)

Ketertiban dalam rumah tangga kita jaga sebaik-baiknya. Antara lain ketertiban dalam :

a. Keuangan = dengan rincian sebagai berikut : 5% untuk infaq (minimal 2,5%), tabungan pendidikan anak, tabungan, asuransi, biaya hidup, orang tua (bila masih ada), air, listrik, surat kabar, telepon, dan juga anak asuh.

b. Membina anak = manajemen waktu 24 jam diatur dengan baik sehingga berimbang untuk membaca Al-Quran, belajar, shalat, istirahat/tidur, bermain, membantu orang tua, makan, dan lain sebagainya.

Sehingga terbentuk anak sholeh-sholeha yang menyejukkan hati.

c. Bekerja giat, penuh dedikasi, berangkat, pulang tepat waktu

d. Konsumsi / menu makanan (sauran akan menambah kecerdasan)

e. Membereskan rumah, sehingga rumah menjadi surga bagi keluarga

f. Rekreasi, melepaskan lelah

g. Silaturahmi, murah rezeki dan panjang umur

Keutamaan ketertiban akan mengakibatkan semua tugas terlaksana dengan teratur.

K3 (Kebersamaan)

Suami isteri harus ada rasa kebersamaan menjalankan kegiatan rumah tangga. Walaupun suami yang menjadi Kepala Rumah Tangga, isteri yang diserahi untuk mengatur keuangan, namun bukan berarti program suami istri seluruhnya terletak pada suami atau istri saja. Semua hendaknya dikerjakan bersama-sama. Dengan demikian kebersamaan terbentuk, maka terbentuklah keluarga yang harmonis.

K4 (Keterbukaan)

Semua rezeki besar atau kecil harus selalu kita syukuri. Istri yang mendapat kepercayaan dari suami untuk mengatur keuangan keluarga, hendaknya membukukan dengan rapi segala pemasukkan dan pengeluaran sesuai dengan program yang telah disusun bersama.

Bila ada untuk orang tua atau mertua kita, hendaknya adil. Istri yang menyerahkan kepada orang tua suami, sebaliknya suami yang menyerahkan kepada orang tua istri. Disini tampak keterbukaan berjalan, juga tampak bahwa suami istri hormat dan sayang kepada mertunya. Akhirnya mertua akan timbul sayang kepada menantunya. Keharmonisan keluarga besar terpelihara.

K5 (Keikhlasan)

Suami istri dalam melaksanakan tugas / kewajibannya harus didasari oleh rasa ikhlas. Sebagai contoh istri bekerja juga untuk membantu suami mencari nafkah agar terpenuhi keperluan rumah tangganya. Maka istri harus dengan ikhlas, suami pun dengan ikhlas melepas istri untuk melaksanakan tugasnya dengan baik agar Allah SWT mengalirkan pahala atau keberhasilan yang kita harapkan.

Bermurahlah kita kepada siapapun, insya Allah, Allah SWT akan bermurah kepada kita.

K6 (Keridhoan dari Allah SWT)

Apabila kita (suami-istri) sudah berusaha sekuat tenaga dan berdoa terus menerus, agar amal perbuatan kita (suami istri) diridhoi oleh Allah SWT. Karena bila keridhoan Allah SWT ada, insya Allah apa yang kita harapkan bisa terkabul.

Terbentuklah keluarga yang sakinah, bahagia, sejahtera dan kekal atas izin dan ridha Allah SWT. Hal yang kita (suami istri) terapkan, diturunkan kepada anak menantu kita, disebarkan kepada ipar, adik, cucu dan seterusnya. Sehingga terjadi kesinambungan informasi. Maka kondisi rumah tangga yang baik (harmonis) menular kepada rumah tangga yang lain, hingga akhirnya keharmonisan keluarga besar terbentuk.

Memelihara Keharmonisan Rumah Tangga

Saling Mengunjungi (silaturahmi)

Dalam firman Allah SWT pada QS An Nisa : 1 yang artinya “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.  Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (4:1). 

Dari Anas r.a : “Sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda : Barang siapa ingin dilapangkan rizkinya, dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi atau tali persaudaraan” (HR Bukhari – Muslim).

Macam-macam Silaturahmi

  • Silaturahmi tak langsung. Silaturahmi jenis ini banyak dilakukan yaitu melalui telpon atau handphone. Atau surat menyurat.
  • Silaturahmi secara langsung dengan keluarga besar sebulan atau dua bulan sekali, tanpa menggunakan arisan.
  • Silaturahmi secara langsung dengan keluarga besar berjangka 2 bulan sekali dengan program tertentu (arisan). Contoh : keluarga besar berjumlah 30 orang kurang lebih 80 orang. Membentuk arisan bersama @Rp. 60.000 / keluarga. Dimana arisan ini berguna untuk kas keluarga, konsumsi dan kegiatan sosial lainnya.

Mbah Rayi memberikan rincian penggunaan dana kas sebesar 60.000 sebagai berikut :

  1. Arisan           20.000
  2. Kas keluarga 10.000
  3. konsumsi       10.000
  4. sosial              20.000 (dimana digunakan untuk pendidikan anak 5.000, ekonomi lemah 5.000, hajatan 5.000, renovasi rumah 5.000).

Dimana uang ini akan dikelola oleh panitia yang dibentuk yaitu ketua, sekretaris, dan bendahara. Akan ada 2 keluarga yang menerima tiap periode melalui proses pengocokan.

Hasil dari Penerapan Arisan Keluarga

Insya Allah dengan adanya pertemuan keluarga besar 2 bulan sekali dan tiap pertemuan 30 keluarga tersebut diharapkan tiap keluarga secara terbuka melaporkan keadaan keluarganya, mungkin saja keluarganya sedang dalam senang atau bahgia, maka keluarga besar ikut bahagia.

Sebaliknya bila dari laporan keluarga ada yang dalam kesulitan, maka keluarga besar ikut membantu secara gotong royong, sehingga tidak terasa berta, namun keperluan keluarga yang dalam kesulitan tertolong oleh adanya kas keluarga besar.

Contoh : Kesulitan dalam menyekolahkan anak/ kuliah anaknya. Tidak perlu meminjamkan uang di bank dengan membayar bunga.

Dengan program bersilaturahmi + arisan, bukan hanya rizki yang kita peroleh, lebih dari itu adalah ilmu/ pendidikan anak-anak kita yang dapat menolong masa depan anak-anak kita / saudara-saudara kita.

Karena kalau sampai putus sekolah, maka putuslah harapan meraih masa depan anak kita, apalagi dalam masa krisis sekarang ini. Begitu juga bagi keluarga yang ingin merenovasi rumahnya, punya hajat, dapat kita bantu dengan dana arisan secara bergantian sesuai dengan posisinya. Bila ada dari pos yang tidak terpakai, dapat dipakai oleh keluarga yang membutuhkan.

Dengan niat baik untuk memelihara keharmonisan keluarga besar, secara bertahap tercapailah keluarga besar yang rukun, berkecukupan dan saling bahu membahu, tentram serta bahagia.

Aamin ya rabbal alamin.

 

ditulis oleh Hj Larasati Mohadi

ditulis ulang di Bennekom, Netherlands

1:57AM, Sunday, 2 December 2018

 

Semoga tulisan ini bisa jadi salah satu bacaan bagi para keluarga muda yang akan membangun keluarga. Mohon doanya untuk Mbah Rayi yang telah menyampaikan petuah ini. Al-Fatihah. .

 

You may also like

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.