Pesona Ende, Tempat Buangan Soekarno

Rumah Pengasingan Presiden Soekarno
Pasti banyak yang tidak mengetahui jika selain di Pulau Buru, ternyata Ende di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur pernah dijadikan sebagai tempat buangan Presiden Soekarno. Saya adalah salah satu orang yang kaget bahwa di Ende, Soekarno pernah dibuang oleh Belanda. Rumah pengasingan ini terletak di Jl Perwira, Ende. Pada tahun 1934, Bung Karno bersama Inggit sang istri, anak angkat dan mertua diungsikan oleh Belanda ke Ende. Hal ini dilakukan Belanda untuk mencegah gerakan dan pemikiran Soekarno yang dianggap berbahaya.
Sayangnya, saya tak bisa memasuki rumah ini, karena kami datang ketika pemegang kunci sedang ada acara keluarga. Sehingga pengunjung hanya bisa melihat rumah pengasingan dari luar saja. Hiks. Padahal rumah ini menyimpang barang-barang milik presiden pertama Republik Indonesia. Jadi kami hanya bisa memandangi rumah yang didominasi oleh kayu ini dari luar saja. Hiks.
Taman Renungan Soekarno

Banyak keindahan yang dimiliki oleh Ende, sehingga tidak salah jika Soekarno menemukan inspirasinya untuk bisa merumuskan Pancasila di tempat ini. Sebuah konsep yang dijadikan acuan bagi bangsa kita. Soekarno mendapatkan ide untuk membuat Pancasila di Ende. Saat ini tempat renungan beliau telah menjelma menjadi sebuah taman cantik. Disana ada patung Soekarno muda yang sedang duduk sambil menyilangkan kakinya. 
Ende adalah sebuah kota keren, Belanda ga tau kalau Ende itu keren gile dan akhirnya Soekarno dapat inspirasi untuk buat Pancasila. Hahaha. Intinya adalah : Hal-hal yang kamu anggap buruk, belum tentu buruk buat kamu. Ini yang bisa saya ambil hikmahnya dengan cerita pengasingan Soekarno. 😀
Tak hanya itu saja, Ende juga menyimpan keindahan di berbagai sudut kotanya. Sebut saja Pelabuhan Ende menuju Nangakeo. Pelabuhan yang saat ini tidak digunakan, menjadi sebuah objek wisata yang menarik. Tebing yang terbentuk dari batuan kapur membuat tebing berwarna putih kecokelatan. Pasirnya berwarna hitam, seakan menyeimbangkan diri dengan tebing yang berwarna putih. 
Pelabuhan Nangakeo
Belum lagi aliran sungai yang mengalir di gerbang kota Ende, menjadi sebuah pemandangan yang indah. Pakaian yang bertebaran di batu-batu besar, membuat keindahan sungai semakin marak.Saya paling suka menikmati sunset di Pantai Ria. Kami menghabiskan malam disana. Soalnya di Maumere tidak ada tempat hangout yang seru seperti ini. Mendengarkan musik sambil menikmati segelas kopi khas Ende (pakai jahe Ende) atau teh hangat. Apalagi bercengkrama sama teman-teman sambil menikmati angin sepoi-sepoi dari arah pantai. 
Selain itu, Ende juga punya cemilan khas. Terbuat dari singkong yang telah direbus kemudian airnya diperas. Sehingga rasanya seperti talas. Atau memang lidah saya yang agak aneh, makanya ga bisa bedain talas dan singkong. Hahaha. Kemudian diberikan potongan ikan dan kuahnya. Enakkk. 😀 Makanan ini bisa kita temukan di pinggir jalan-jalan kota Ende ketika sore hari. 

ditulis seminggu setelah pergi ke Ende, hehe. 
Senin, 7 April 2014 11:11 Wita
Kamar Kost Wuring
at Pantai Ria
makanan khas

my travel team



You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *