Petualang Tahu Kapan Ia Harus Pulang

Akhir-akhir ini saya semakin kesepian. Sepertinya saya semakin letih dengan kesendirian. Sepi yang menyiksa setiap malam. Dikarenakan kesemuan yang ada di semua media sosial. Rasanya mereka yang mengunggah “kebahagiaan semu” di dunia maya juga kesepian. Namun saya lebih legowo untuk mengakuinya.
Perenungan lama mengenai pilihan saya untuk kembali pulang selalu menjadi mimpi buruk setiap malam. Apakah ini pilihan yang benar untuk kembali ke kampung? Apakah saya cuman hanya lelah dan butuh istirahat? Perdebatan batin ini terus menerus saya lakoni hingga akhirnya sebuah kabar duka menghampiri saya.
Nenek saya tercinta, meninggal dunia, dan saya tidak ada saat beliau dimakamkan. Perasaan hancur saat itu mendera saya. Tangis saya berderai selama satu malam.
Kemudian saya pun merenungi kembali dan memulai kilas balik kehidupan saya selama ini. Rasanya 6.5 tahun sudah hampir mencukupi masa petualangan saya. Pengembaraan saya ke Makassar, Flores dan kini Ambon rasanya sudah cukup untuk saat ini.
Bukannya saya menyerah, tapi saya membutuhkan pelukan hangat ibunda saat ini. Bercanda ceria setiap malam sambil mengerung di dekatnya. Merasakan masakan hangatnya. Dibangunkan ketika ingin sahur bersama, walaupun harus dengan siraman air di wajah saya berkali-kali. Atau bertengkar dengan adik-adik karena secuil kue kering.
Bukannya saya tidak mendapatkan kehangatan di tempat yang saya singgahi. Sekali lagi bukan.
Saya hanya butuh kehangatan rumah yang memang saya rindukan. Meniti jalan kedepan sambil kembali bergandengan tangan dengan keluarga. Selagi masih ada Mbah dan Datuk di rumah, mereka orang yang masih bisa saya dekap, dan saya tidak ingin kembali terlambat.
Karena saya tak tahu kapan kematian datang, dan saya takut kematian mengunjungi saya dalam kesepian
Dan kali ini petualang harus pulang……
Ambon, 4 Mei 2015
Let me go home…

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *