PPI Cerocok, Pelabuhan Perikanan di Pinggir Padang

Siang hari ketika saya tiba di Carocok, hujan turun dengan lebatnya. Tempat yang dituju tidak ada, jadi saya berinisiatif untuk mengunjungi Pak Jorong, Tua Kampuang Cerocok. Desa nelayan yang masuk dalam daerah Kecamatan Koto XI Tarusan. Daerah ini merupakan daerah paling utara dari Kabupaten Pesisir Selatan. Nagari Nanggalo merupakan Kenagarian yang mayoritas penduduknya bertopang pada sektor perikanan laut di Kecamatan Koto XI Tarusan, karena nagari tersebut berhubungan langsung dengan laut sehingga banyak penduduk yang berprofesi sebagai nelayan. Selain Cerocok masih ada lima kampung lainnya yaitu Pulau Karam, Mandeh, Kapuh, Pansur, dan Kampung Teluk Raya.
Menurut salah satu pegawai PPI Cerocok, Pak Agus, nama Cerocok berasal dari bentuk “Kerucut”. Karena bentuk daerah ini yang mengerucut ke luar. Penduduk Cerocok banyak yang bekerja sebagai nelayan, namun ada juga beberapa yang berprofesi sebagai pekebun dan peladang. 
Nelayan di daerah ini menggunakan enam jenis alat tangkap, bagan mesin, bagan talai, gill net, pancing tangan, payang dan pukat pantai. Hasil tangkapan ikannya sangat beragam. Namanya juga lucu-lucu. Sebut saja ikan Maco, Bondan, Ambu-ambu, Gambulu, Aso-aso dan lain sebagainya. 
Nelayan disini memiliki waktu tangkap yang cukup singkat. Sama seperti dengan pekerjaan nelayan yang ada di buku IPA zaman SD. Mereka berangkat pukul 5 sore dan datang jam 10 malam. Setelah itu mereka akan berangkat lagi jam 5 pagi dan datang jam 7 pagi. Ikan-ikan yang mereka dapatkan akan dijual di PPI Cerocok. 
Ikan biasa dijual basah (fresh) dan dikirim ke Padang. Namun menurut pak Agus, ada juga beberapa ikan yang diolah oleh ibu-ibu PKK Cerocok menjadi nilai tambah. Misalnya saja Rakik Maco khas Cerocok. Sayang, saya tidak mendapatkan cemilan jenis ini. 
Lotek

Ketan Durenn.. Gileee. enak
Di daerah ini ada beberapa makanan khas yang harus dicoba. Sebut saja Sate Padang di samping masjid. Setiap pagi, anda akan dihadapkan oleh orang-orang lapar dan berbahasa Minang. Hahaha. Saya sempat tidak dilayani, karena diam dan berdiri di belakang tukang satenya. Habisnya bingung mau ngomong apa. Semua orang berbahasa Minang. Harga seporsinya 10 ribu, udah dapat 6 tusuk sate. 
Belum lagi ketan durian yang enak banget. Harga seporsinya 8 ribu sudah berhasil merebut hati saya di pertama kali mencoba. Ketannya yang gak terlalu keras dan durian yang matang membuat ketan durian gag bisa dilupakan. Enak banget. 
Di sekitar Cerocok ada sebuah tempat wisata yang lumayan terkenal yaitu Mandeh, tapi saya tidak memiliki kesempatan kesana. Hikz. Yang pasti, saya sudah menginjakkan kaki di Padang. Kota kelahiran Datuk saya. 
Perahu Nelayan

Ikan Tete’
NB :
Thanks to Allah SWT yang sudah memberikan kesempatan ini. and also WWF yang sudah memilih saya untuk ikut kegiatan Volunteer Hasil Tangkapan Samping (Bycatch). Bang Tanjung, Bang Topan dan anak Diving Proklamator Univ Bung Hatta. Pak Jorong, ibu, Fina, Gama, Yoga dan Sera. :D

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *