Prosedur Donor Darah di Belanda

Tiga minggu lalu saya iseng-iseng mencari informasi tentang donor darah di Belanda. Akhirnya saya mendapatkan website Sanquin, sebuah organisasi khusus untuk donor darah. Hampir mirip dengan PMI di Indonesia.

Jadi Pendonor

Saya pun memasukkan informasi basic ke dalam website Sanquin. Ada beberapa pertanyaan yang ditanyakan, mulai dari umur, berat badan, apakah pernah pakai drugs, punya diabetes, dan beberapa pertanyaan lainnya. Jika itu telah diisi, maka kita akan diminta mengisi biodata diri. Semua informasi harus diisi dengan benar. Jika ada ternyata ada informasi yang tidak benar nanti akan ada verifikasi lagi.

Setelah semua terisi dengan baik dan benar, kita akan menerima email dari pihak Sanquin yang berisi bahwa kita terdaftar sebagai pendonor. Kita akan dihubungi oleh pihak Sanquin kurang lebih 2 minggu.

Dihubungi via Telepon

Tiba-tiba hape saya berdering ketika kereta saya dari Antwerp menuju ke Arnhem. Suara dari ujung telpon mengatakan bahwa saya telah diketahui mendaftar untuk menjadi pendonor. Sheingga ia harus menanyakan informasi-informasi dasar yang telah saya masukkan ke dalam website. Ia beberapa kali mengkonfirmasi jawaban yang saya berikan. Mulai dari tanggal lahir, tempat lahir, alamat tinggal, pernah sakit apa dalam kurun beberapa tahun, dan lain sebagainya.

Setelah itu ia menyebutkan tanggal yang kosong untuk saya. Jadi di Belanda ini sangat berbeda dari Indonesia. Mereka selalu menyediakan jadwal yang sudah ditentukan melalui telpon. Gak bisa tuh kita ujug-ujug datang ke tempat donor tiba-tiba mau donor darah. Prosesnya panjang booo..

Ia menyebutkan lokasi terdekat dari tempat tinggal saya adalah Sanquin yang ada di Ede. Nah setelah kami sepakat tanggal 27 Juli adalah waktu yang tepat bagi saya untuk donor, katanya saya akan mendapatkan sepucuk surat yang berisi informasi dari Sanquin mengenai jadwal pertemuan kami.

Selesai itu ia menutup teleponnya. Di akhir percakapan ia berterima kasih dan sampai bertemu di hari Jumat dua minggu depan.

Pergi ke Sanquin

pintu masuk Sanquin (sumber : Google maps)
ruangan di Sanquin (umber : Google maps)

Akhirnya tanggal 27 Juli pun tiba. Saya pun menggunakan Google Maps untuk bisa tiba di Sanquin Ede. Lokasinya gak terlalu jauh dari pusat kota Ede. tapi saya memang tidak familiar dengan kondisi di Ede. maklum, anak Bennekom yang setiap hari kampus-rumah-kampus.

Untuk Google Maps disini sudah sangat akurat. Hingga saya pun bisa terhindar dari yang namanya kesasar. Lokasi Sanquin di Ede ini terletak di jalan Klaphekweg 40, 6713 HN Ede.

Saya pun masuk ke dalam gedung ini. Kantornya terletak di lantai 2. Saya mengantri di depan meja resepsionis. Ada tiga orang di depan saya yang kesemuanya menyerahkan surat yang datang dari Sanquin.

Setelah 5 menit berlalu, akhirnya saya pun dipanggil dan diminta untuk menyerahkan ID dan paspor. Setelah itu saya diminta untuk mengisi formulir yang isinya menegaskan kembali bahwa saya tidak memiliki riwayat penyakit.

Donor Darahnya Masih Nunggu Waktu Lain

Setelah itu saya pun bertemu dengan dokter. Ia mencatat apa saja riwayat penyakit yang saya derita. Misalnya apakah saya pernah punya penyakit malaria? mengingat saya tinggal di tempat tropis dan merupakan daerah yang rawan. Saya pun menjawab sesuai dengan yang saya telah isi. Alhamdulillah hingga saat ini saya masih sehat wal afiat.

Sang dokter mengatakan bahwa setelah proses pemeriksaan ini, tidak serta merta darah saya diambil pada hari ini juga. Menurutnya akan ada proses rangkaian yang lumayan panjang. pertama-tama sample darah saya akan diambil. Setelah itu sample darah akan diperiksa secara menyeluruh oleh pegawai laboratorium. Sample darah akan melalui uji HIV, malaria, dan lainnya.

Setelah hasil uji darah keluar dan darah saya dinyatakan sehat, mereka akan memanggil saya melalui telpon dan membuat jadwal donor darah. jadi prosesnya bisa memakan waktu sekitar 1 bulan. gak sembarangan banget yaa. hahah.

Saya pun dianjurkan untuk tidak bepergian selama masa tunggu. Ketika saya bilang, saya akan travel ke Italia. Ia pun kaget dan segera menunjukkan sebuah peta yang berisi daerah-daerah rawan malaria. ternyata Italia juga salah satu negara rawan yang terkena malaria. Saya kaget. hahah. Kupikir malaria hanya di daerah tropis.

Pengambilan Sample Darah

sumber : FB nya Sastrin
peralatan pengambilan darah (sumber : FB nya Sastrin)

Setelah serangkaian examinasi oleh Pak Dokter, saya pun digiring ke kursi yang biasa digunakan untuk donor darah. Seorang pendonor di samping saya kagum melihat darahnya. “this is my first time donating my blood,” katanya. Dan dengan sok nya saya bilang, “ini adalah donor saya yang ketujuh,”. Mungkin karena sombong, saya kena tulahnya.

Sang suster menggunakan bahasa inggris yang terbata-bata. Ia lebih banyak menggunakan bahasa Belanda, dan saya sering menjawab dengan ja atau nee. hahah.

Ketika suster akhirnya menuju ke kursi saya dan melihat hasil pemeriksaan dokter, ia pun segera mempersiapkan alat-alat. Saya yang sudah duduk tenang dan merasa semua akan baik-baik saja, tiba-tiba merasa khawatir ketika sang suster terus mencari jalur nadi saya di lengan sebelah kanan.  Ia pun mencoba lagi di lengan sebelah kiri. Ekspresi mukanya mengatakan ada sesuatu yang salah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Saya mencoba mencari jalur darah di lenganmu, tapi saya tak bisa menemukan apapun. Kalau saya tidak menemukannya, kemungkinan besar kamu tidak bisa melakukan donor darah,”ujarnya dengan wajah sedih. Saya langsung pias. “What?? Ini kali pertama saya gagal donor darah. Masa tidak ada jalur darahnya, ini kali ketujuh loh sus,” ujarku seakan tak percaya.

“Let me call my friend, if she can’t find either we can’t perform the blood donor,”katanya. Ia pun memanggil temannya. Suster kedua berusaha mencari jalur darah di lengan sebelah kanan. Dia menggunakan bahasa Belanda dan suster yang pertama menerjemahkannya. “Teman saya menemukannya, tapi jalur darahnya sangat keciiiil, sedangkan jarum yang kami gunakan sangat besar. Kalau pun kami paksa masuk, darahmu yang keluar akan sangat lama sekali. Sedangkan kami hanya mau menggunakan darah yang diambil dalam waktu maksimal 15 menit,” katanya menjelaskan.

Seakan tak percaya, saya pun meminta izin untuk melihat jarum yang mereka gunakan. Dan emang sih, kayaknya diameter lubang jarumnya terlihat lebih besar. Saya pun mengalah. Mereka dengan baik menawarkan saya minuman dan kue di pojok ruangan. Tapi karena saya merasa tak membantu apa-apa, tak lama saya segera pergi ke luar.

Ternyata saya Kegemukan

Sesampainya di rumah, saya menceritakan dengan detail kepada Arif. Ia mendiagnosa dengan sotoynya bahwa saya kegemukan dan jarang olahraga. “Kamu jarang olahraga lagi, dulu kamu selalu jalan kaki ataupun lari, sekarang kebanyakan duduk. Pantes lah kalau jalur darahmu ketutupan sama lemak,”ceramahnya panjang lebar. Dan voila saya menemukan artikel berita yang mengatakan bahwa jalur darah yang menyempit besar kemungkinan karena obesitas. haha.

kalau mau donor darah di Belanda, harus periksa fisik dengan baik. Ada beberapa teman yang berhasil mendonorkan darahnya di Belanda. Katanya sih dapat gantungan kunci, makanan dan kue-kue. Heheh. 🙂 Kalian bisa langsung ke website Sanquin, disana informasinya sangat lengkap dibandingkan di website ini. Hahah.

 

ditulis di Forum

8:25 PM Wednesday 8 August 2018

setelah ujian Environmental Policy Analysis dan besok ujian marine resource management. wish me luck

You may also like

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.