Proses Munculnya Tragedi Kepemilikan Bersama


Tulisan ini muncul setelah dilakukan permainan di atas piring yang diandaikan sebagai laut yang berisi ikan-ikan. 
Pagi ini, saya mendapatkan materi mengenai input data ikan yang telah datang dari kapal. Untuk memasukkannya ke dalam sebuah program penginputan data dibutuhkan waktu yang cukup lama. Setelah puas berpusing-pusing ria dengan data dan angka, kami pun diberikan game. 
Saya tidak tau apa nama permainannya, yang pasti membuat saya tersadar bahwa manusia diciptakan untuk serakah. Awalnya Bang Wildan menuang pilus rasa rumput laut ke atas piring lebar berwarna hijau. Kemudian ia mulai memasukkan coklat bundar warna-warni di atas piring. Saya awalnya tidak mengerti, apa yang ingin Bang Wildan lakukan. Saya terus mencomot pilus yang disajikan. Hahah. 
Kemudian Bang Wildan memerintahkan kami untuk memegang sedotan. “Sedotan itu adalah alat tangkap kalian yang sederhana, anggap saja itu Hand Line. Piring ini adalah lautan, pilus dan cokelat adalah ikannya. Kalian adalah nelayan dan kalian harus mengambil ikan-ikan di laut tersebut,” ujarnya sambil menjelaskan alur permainan. 
Saya pun memilih sedotan warna biru, Bang Ma’aruf, Bang Firman dan Bang Lalu menjadi nelayan saingan saya. Ketika waktu mulai dihitung, kami pun berebutan mengambil pilus di atas piring. Sulit, karena tangan tak boleh menyentuh sedotan. Kami hanya bertumpu pada sedotan dan mulai mengambil pilus satu per satu. 
Awalnya saya mengambil cokelat-cokelat besar tapi ketika dianggap sulit didapatkan, saya mulai mengambil pilus-pilus kecil. Saya mengambil pilus-pilus kecil karena melihat orang lain juga melakukan hal yang sama. Kemudian, hasilnya dihitung, saya mendapatkan hasil yang cukup namun tak banyak.
Kemudian permainan diulang kembali, kali ini kami diberikan tambahan teknologi. Sedotan bisa kami pegang untuk membantu mengambil ikan. Karena teknologi ini, saya bisa mendapatkan ikan yang lebih banyak. Nelayan yang lain pun juga mendapatkan hasil yang sama. Tapi saya mendapatkan yang paling banyak. 
Karena itulah, saya dianggap membeli teknologi baru, kali ini dengan menggunakan garpu untuk menangkap ikan. Sedangkan,nelayan yang lain masih menggunakan alat yang lama. Anggap saja garpu ini adalah Purse Seine. Ketika permainan dimulai saya mendapatkan banyak ikan kecil. bayangkan saja, sekitar 60 pilus saya dapatkan. Padahal sebelumnya hanya 10 dan 20. Jadi, teknologi yang lebih canggih membuat nelayan menangkap lebih banyak. 
Permainan diulang kembali. Kali ini nelayan yang lain juga mendapatkan teknologi yang canggih juga. Akhirnya kami pun mulai berebutan pilus-pilus yang ada di piring. Semua alat tangkap bergerak mencari ikan yang besar. Hingga beberapa pilus keluar dari piring secara brutal. Dan ketika waktu habis, saya menyadari bahwa pilus di atas piring nyaris habis. Karena keserakahan kita untuk terus mengambil pilus. 
Pelajaran pentingnya adalah : Kami lupa pelajaran mengenai Suistanable Fisheries (Perikanan Berkelanjutan)! Karena tanpa kita sadari, keinginan untuk memiliki ikan yang lebih banyak dan lebih besar tanpa mementingkan keberlanjutan perikanan. 
Seharusnya, nelayan harus bisa mengontrol tangkapan mereka. Misalnya tidak menangkap ikan yang masih kecil (babyfish), tangkap ikan yang sudah memasuki tahap dewasa. Tidak menggunakan alat yang tidak ramah lingkungan (destructive fishing gear). Hal-hal yang bisa membuat perikanan Indonesia lebih lestari. Namun seperti yang sudah dijelaskan di atas tadi, ada naluri kebutuhan untuk memenuhi target tangkapan per hari. 
Permainan di atas telah menunjukkan bahwa perikanan bisa menjadi ladang tragedi, karena perbedaan alat tangkap dan hasil tangkapan. Semakin bagus teknologi yang digunakan semakin banyak ikan yang didapatkan, namun semakin sedikit ikan di laut. Akhirnya nelayan bisa saling bertengkar mencari daerah tangkapan. Karena ketika hasil permainan tadi diumumkan setiap nelayan mencari kesalahan nelayan lain. Jadi sudah ada bibit permusuhan diantara nelayan. 
Dari permainan ini saya mulai menyadari menjadi seorang nelayan adalah sebuah hal yang sangat sulit dijalani. Jika mereka melaksanakan gerakan Suistanable Fisheries, mereka terancam tidak memiliki makanan. Hmmmm. Diperlukan sebuah rumusan yang bisa memperbaiki keberlanjutan perikanan tanpa merugikan hidup nelayan. 
Karena laut milik bersama dan seharusnya dijaga bersama. Demi perikanan yang berkelanjutan!
Ditulis di Kantor Fishing and Living, Lombok Timur setelah dapat game aneh yang menyadarkan saya tentang keserakahan manusia
Handline sederhana (sedotan only)

Handline dengan teknologi yang lebih canggih (sedotan dan tangan)
Teknologi Penangkapan canggih (Garpu dan Sendok)
Kamis, 16 Januari 2014 19:10 Wita

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *