Ragam Alat Pancing Suku Bajo di Wuring

Suku Bajo dikenal sebagai suku yang terkenal akan keberaniannya dalam menaklukan laut. Mereka mencari nafkah dan hidupnya sangat bergantung pada laut. Berikut adalah tulisan hasil wawancara saya dengan Suku Bajo yang hidup di Wuring, Maumere. Sebagian besar suku Bajo di Wuring berprofesi sebagai nelayan. Karena itu saya mencoba mencari tahu jenis-jenis alat tangkap yang mereka gunakan selama ini. Wawancara saya lakukan dengan Paman Rahman, salah seorang nelayan yang sudah mencari ikan sejak zaman Presiden Soekarno. Saya menuliskan berdasarkan urutan munculnya alat tangkap ini di Wuring. 
 
Pancing Sederhana
Penggunaan alat pancing ini mungkin sejak belum ada presiden di Indonesia. Awalnya mereka mengenal alat pancing sederhana yang menggunakan tali kapas. Karena pada saat itu belum dikenal senar, mereka masih membuat tali dari kapas yang dipilin. Tiga tali yang telah dipilin kemudian dilumasi oleh kulit pohon asam. Sehingga benang-benang yang tadinya berwarna putih menjadi hitam dan kaku. Hal ini dilakukan agar benang tidak cepat putus. Menurut Paman Rahman, jika saat ini metode pembuatan benang ini masih digunakan, mungkin ikan tidak akan memakan umpan. 
Umpan yang digunakan pun masih monoton, yaitu bulu ayam dan ikan kecil. Pada saat itu belum digunakan motor perahu seperti saat ini. Mereka masih mengandalkan kekuatan tangan untuk mendayung perahu. Menurut Paman Rahman, daerah tangkapan tidak terlalu jauh seperti saat ini. Mungkin sekitar 1 kilometer dari bibir pantai, para nelayan sudah bisa menangkap ikan. Yang perlu digarisbawahi adalah nelayan belum menjadikan ikan tuna sebagai target utama penangkapan. Mereka masih mencari ikan layang, terbang, pari, dan ikan-ikan demersal lainnya. 
Roger
roger dalam ilustrasi
Alat pancing jenis ini dibawa pertama kali dari daerah Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Alat pancing yang lebih rumit karena menggunakan beberapa mata pancing untuk mencari ikan. Alat pancing ini menjadi tren pada tahun-tahun awal ketika ikan tuna mulai menjadi target utama nelayan di Wuring. Sekitar tahun 2000-an, alat ini menjadi andalan para nelayan yang mencari ikan tuna. 
Tobor
plastik untuk umpan cincang
Alat pancing ini dibawa dari daerah Buton (Wanci), dimana alat tangkap ini lebih sering menggunakan umpan cumi-cumi. Umpan dicincang kemudian dimasukkan dalam plastic segitiga. Setelah itu plastik tersebut dikaitkan pada mata pancing. Mata kail yang terkait dengan umpan dilempar dan umpan cincang pun akan bertebaran di dekat mata pancing. Ikan-ikan yang memakan umpan cincang akan ikut menyambar mata kail. 
Layang-layang
Alat tangkap jenis ini sering kita temukan di daerah lain seperti di daerah Nusa Tenggara Barat (NTB), Pulau Sumbawa. Menurut Paman Rahman, alat tangkap ini dibawa oleh seseorang yang berasal dari Sumbawa dan memperkenalkannya pada masyarakat Wuring. Jadi layang-layang dipasang pada tali pancing dan kemudian diterbangkan. Karena tali pancing bergerak mengikuti arah layang-layang, ikan melihat umpan bergerak dan menyambarnya. Biasanya ikan tuna, layar dan lamadang tertarik oleh umpan yang bergerak aktif. 
pancing layang-layang dalam ilustrasi
Tapi alat tangkap jenis ini pernah memakan korban. Karena ketika angin kencang dan sedang tidak baik, tali bisa melilit leher nelayan dan akhirnya terputus. Pada tahun 2012, ada seorang nelayan dari Pulau Pemana yang terlilit tali senar dan akhirnya wafat. 
Rintas (Rinta’)
Alat tangkap jenis ini menyasar ikan-ikan kerapu, kakap, dan ikan batu lainnya. Selain itu nelayan biasa menggunakannya pada musim ikan cakalang. Alat tangkap jenis ini menggunakan banyak mata kail. Jadi mereka mempersiapkan batu yang lumayan besar, kemudian menggulung tali senar yang telah dipasang mata kail dan dikaitkan dengan umpan. Nelayan biasanya menggunakan 7 hingga 10 mata kail. Jadi ketika batu diturunkan, tali senar akan memanjang dan mata kail akan turun secara vertikal. 
Grandong
Alat tangkap ini berasal dari Gorontalo, dibawa oleh seorang nelayan dan mempopulerkannya. Saat ini grandong sudah mulai digunakan hingga di Larantuka. Mereka membeli grandong dari nelayan Wuring dengan harga 100 ribu per ekor. 
grandong
Namanya menyeramkan, tapi bentuknya tidak semenyeramkan namanya. Umpan yang terlihat seperti ikan tongkol muda dan menjadi sasaran empuk bagi ikan tuna. Nelayan Wuring menggunakan umpan ini untuk menggantikan umpan hidup yang sudah mulai sulit untuk didapatkan. Mereka membuat ikan yang terbuat dari kayu dan berisi timah. Nelayan menggunakan grandong hingga 5 grandong untuk memancing. 
Nelayan terbiasa untuk menggunakan semua alat tangkap ketika pergi memancing. Karena penggunaan alat pancing ini didasarkan pada musim. Jika musim ikan tuna sedang baik mereka tidak akan menggunakan rintas. Tapi mereka akan mengoptimalkan penggunaan grandong dan tobor. Hal ini membuat banyaknya ragam alat tangkap mereka. Selain itu mereka mengeluhkan sulitnya ikan tuna akhir-akhir ini. Dulunya mereka sering mengadakan Ladoh (ritual-ritual) sebelum berangkat memancing, namun saat ini sudah tidak ada lagi.
Tulisan ini ditulis di mess sambil denger lagu Sioen_Cruisin
Sabtu, 14 June 2014 11:43 PM
Gue kena insomniaaaa (>_<)

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *