Reklamasi Teluk Jakarta di Mata Nelayan Muara Kamal


Selama menunggu kapal untuk menuju Pulau Sebira saya menyusuri kanal Muara Kamal. Saat itu sudah senja. Langit berwarna jingga. Deretan kapal nelayan sudah mulai mempersiapkan diri untuk melaut. Bau amis menguar di udara. Laut tak berwarna biru, lebih mengarah kecoklatan bahkan hitam. Pesawat komersil lalu lalang di langit. Menurut warga, Muara Kamal menjadi salah satu jalur pesawat terbang yang akan mendarat di Terminal 2 dan Terminal 3
Bandara Soekarno Hatta
Saya berdiri di sebuah pelelangan ikan. Setiap pagi, sejak pukul 3 pagi, tempat ini ramai dengan para penjual dan pembeli yang siap melakukan transaksi. Tapi di saat senja seperti ini para nelayan baru bersiap untuk memancing ikan. Ketika pagi menjelang mereka siap dengan ikan yang siap dijualuntuk memenuhi kebutuhan sehari-hari

Saya bertemu dengan Pak Firdaus. Seorang nelayan yang berprofesi mencari kerang hijau dan udang. Ia merupakan orang keturunan Bugis yang mengadu nasib di Ibukota. Datang dari sebuah desa kecil di Wajo, Sulawesi Selatan. Pindah dengan bantuan kedua kakaknya yang sudah menjadi pekerja dua tahun sebelumnya di Jakarta. Pekerjaan ini sudah ia lakoni sejak tahun 1980-an. 
kapal nelayan di Muara Kamal
Perbincangan berhenti sejenak ketika saya melihat gundukan tanah di dekat alur masuk Muara Kamal. Ada beberapa excavator disana, diterangi oleh lampu sorot.  Pak Firdaus seperti paham dengan pandanganku. Ia pun mulai menjelaskan tentang reklamasi Pulau G berdampak pada mata pencahariannya. Sebelumnya ada sekitar 80% nelayan yang menggantungkan hidupnya menjadi pembudidaya kerang hijau. Awal mula kerang hijau dimulai pada tahun 1975. Ada investor yang memperkenalkan peluang kerang hijau pada nelayan sebagai mata pencaharian alternatif selain mencari ikan. Kemudian pada tahun 1980 para nelayan mulai menjual kerang hijau hasil budidaya ke Pasar Induk. Sejak itulah banyak nelayan mulai ‘banting setir’ menjadi pembudidaya kerang hijau hingga saat ini. 
Pendapatan nelayan pembudidaya kerang hijau sangat tinggi. Di tahun 2004 – 2010 menjadi tahun keemasan bagi nelayan pembudidaya kerang hijau. Menurut Pak Firdaus di tahun itu sangat banyak pembudidaya yang menunaikan ibadah haji. Di tahun 2010 ada sekitar 40 pasang suami istri yang pergi ke Makkah. Padahal jika kita melongok lebih dalam, para nelayan tinggal di rumah panggung terbuat dari kayu. Tapi itu hanya masa lalu ketika reklamasi Pulau G belum seagresif saat ini. 
banyak nelayan yang naik haji berkat budidaya kerang hijau
Beliau juga menjelaskan mengenai pembangunan Pantai Indah Kapuk (PIK) berdampak pada nelayan Muara Kamal. Sejak tahun 2004 sudah ada penggusuran. Lahan kerang hijau sebanyak 700 unit ditimbun oleh tanah. 400 unit menyusul di tahun kemudian. Tahun 2014 ada 3700 unit dan di tahun 2015 ada sekitar 4000 unit yang harus hilang. Satu unit budidaya kerang hijau berukuran 15 x 7 m. Harga pembuatan satu unit budidaya kerang hijau sekitar 17-15 juta. Namun sama pengembang cuma dihargai sekitar 500.000 ribu per unit sebagai kompensasi dari pembangunan PIK,” ujarnya sedih. Matanya menerawang.

 

Pak Firdaus mengkhawatirkan reklamasi Pulau G jika dilanjutkan dapat berdampak pada daerah nelayan di Dadap, Muara Kamal, dan Muara Angke. Karena ada pendangkalan jalur kapal nelayan. Sehingga mata pencaharian nelayan akan hancur. Tak hanya itu, beliau juga memikirkan nasib tempat tinggal dia dan ribuan orang lainnya. Jika nelayan digusur dan dipindah ke Rusunawa, para nelayan akan menghabiskan uang sebesar 300 ribu per bulan untuk uang sewa. Belum lagi pembayaran air dan listrik yang berbeda. “Saya punya saudara di daerah Luar Batang yang saat ini menjadi manusia perahu karena tak mungkin masuk ke rusunawa. Hidupnya sudah sulit,” tambahnya sedih. Memang sejak Luar Batang digusur oleh pemerintah, banyak warga yang memilih bertahan hidup dan tinggal di perahu mereka. Karena tingginya harga sewa rumah susun yang disediakan serta jauh dari lokasi mata pencaharian mereka. Perjalanan dari rumah susun menuju lokasi kapal mendarat cukup jauh bagi nelayan. Harus ada ongkos perjalanan yang dikeluarkan oleh nelayan. Pendapatan nelayan saat ini pun sudah menunjukan penurunan yang signifikan. Karena tempat memancing mereka semakin jauh dari darat. Solar yang mereka gunakan juga semakin banyak. “Padahal belum tentu saya dapat banyak udang dari penangkapan. Pengembang ataupun pemerintah tidak pernah memikirkan nasib kami,” ujarnya sedih. 
Muara Kamal di sore hari
Saya mempertanyakan bukti tinggal para nelayan di Muara Kamal. Pak Firdaus mengatakan banyak tanah warisan dengan bukti Girik (tahun 1950 – 1960) sejak zaman Soekarno. Bukti inilah yang menjadi dasar bagi nelayan untuk menempati tanah mereka saat ini. Ia berharap scenario terburuk tak terjadi pada hidupnya. Harapan besarnya Muara Kamal tetap menjadi tempat terindah bagi generasi penerusnya. Tanpa harus tergusur buldoser demi keuntungan segelintir orang. 
Saya tak bertanya lagi. Adzan maghrib sudah berkumandang. Pak Firdaus pamit. Ia mulai berjalan menuju masjid di pinggir Muara Kamal. Mungkin di setiap langkah ia terus berdoa agar harapan bertahan di tanah ini semakin panjang.
gemerlap malam di Pantai Indah Kapuk dari Muara Kamal
ditulis di Pulau Sebira, Kepulauan Seribu
22:52 WIB Minggu, 26 September 2016
sambil bercengkrama dengan teman-teman Ekspedisi Nusantara Jaya 2016

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *