SCL diterapkan di Unhas, Mungkinkah?


Waktu telah menunjukkan pukul 11.25 WITA, ajakan untuk berbincang tentang kehidupan dilontarkan oleh Kakak Idham. Ketika saya, Ria, Dinar dan Riri sedang asyik dengan acara hiburan Miss World 2013 di salah satu kanal TV swasta. Miss Philipines dinobatkan sebagai Miss World 2013. Eh, kok malah ngomong soal Miss World. Balik ke masalah utama. 

Kami pun pergi ke Lembaga Penerbitan Kampus Hasanuddin (Lephas), niatnya bertemu Kak Alwi Rahman. Sekedar berbicang dan Ria punya tujuan tersendiri, ia ingin menunjukkan hasil tulisannya pada Kak Alwi. Hahahaha. Kami pun berbincang panjang lebar tentang masalah kehidupan. Hingga akhirnya Ria membahas masalah Student Centre Learning (SCL) di Kampus Merah. 

Kak Alwi sebagai salah satu pencetus SCL di Kampus Merah merasa agak ‘terganggu’ dengan statement bahwa SCL harus di evaluasi. Karena menurutnya, SCL tidak dilaksanakan dengan baik, apa yang harus di evaluasi?? Beliau pun menunjukkan kenapa seharusnya SCL sudah dilaksanakan di dalam Universitas Hasanuddin. 

Ia menuliskan beberapa jenis Mazhab Pembelajaran yang ia pelajari dan dijadikan dasar atas pembuatan SCL. Percakapan semakin hangat ketika ia menjelaskan bahwa psikologi digunakan dalam pengambil keputusan di dunia pendidikan. Ia pun menerangkan mazhab pertama, Behaviourism. Mazhab ini dikumandangkan oleh Ivan Pavlov, psikolog asal Rusia yang mempopulerkan “Pavlov Dog’s”. Teori Pavlov adalah sebuah teori tentang stimulus dan respon. Ia menjadikan anjing sebagai bahan eksperimennya. 
Sumber kebenaran hanya dari dosen semata
Singkat kata, anjing diberikan stimulus dan dengan sadar ia akan memberikan respon. Ketika hal ini dilakukan berulang-ulang, maka anjing akan mengingat apa yang akan terjadi. Terjadi pengkondisian klasik yang kemudian melibatkan proses belajar untuk mengasosiasikan stimulus dalam kondisi yang berbeda. Dimana stimulus ini menghasilkan sebuah respon tertentu ( yaitu refleks ) dengan stimulus yang baru, sehingga stimulus baru membawa respon yang sama .

Ada stimulus berkondisi (conditioned stimulus) dan stimulus tidak berkondisi (unconditioned stimulus). Stimulus tidak berkondisi adalah objek atau peristiwa yang awalnya menghasilkan respon alami. Selain itu ada sebuah netral stimulus dimana ia tidak memproduksi respon. 

Ketika  stimulus netral terkait dengan stimulus berkondisi maka menjadi stimulus yang dikondisikan (conditioned stimulus). Sedangkan respon terkondisi adalah respon terhadap stimulus yang dikondisikan. Jadi ketika anjing terbiasa diberi makan dan lampu merah dinyalakan dan kebiasaan itu dirubah. Si anjing juga akan memiliki respon baru terhadap stimulus yang diberikan. 

Cara belajar inilah yang diterapkan pada dunia barat sekitar tahun 1940-1960 an ketika dunia sedang dalam masa perang. Siswa didikte untuk mengikuti cara pikir pengajar. Sehingga tidak ada ruang kebebasan bagi siswa berekspresi dan menjelaskan apa yang ada di dalam pikiran kita. Ruang-ruang pemberontakan dibuat seminimal mungkin dalam kelas semacam ini. Bahasa gaulnya Culture of Teaching. Kelas jenis ini banyak kita temukan di Kampus Merah tercinta. Dosen seringkali hanya mencurahkan apa yang ada di dalam pikirannya, tapi tidak mendengarkan isi pikiran siswanya. Sehingga transformasi pengajaran hanya berpusat pada sang dosen. Inilah yang ingin didobrak oleh Kak Alwi dengan mengajukan Student Centre Learning. 

Mazhab kedua adalah Contructivism. Mazhab ini belum dijelaskan secara rinci oleh Kak Alwi, masih disimpan untuk minggu depan. Aku pun mencari di kotak pencari Om Google, menurut Wikipedia  kata Contructivisimbisa diartikan dengan “as a perspective in education that explains how knowledge is constructed in the human being when information comes into contact with existing knowledge that had been developed by experiences.” Saya pun mengartikan secara bebas sebagai “Perspektif di dalam pendidikan untuk menjelaskan bagaimana pengetahuan terbangun di manusia ketika informasi datang dan berinterkasi dengan pengetahuan yang sudah ada dan dikembangkan oleh pengalaman”. 

Sedangka
n mazhab ketiga adalah Social Constructivism. Lev Vygotsky mengatakan
Social Constructivism is sociological theory of knowledge that applies the general philosophical constructivism into social settings, wherein groups construct knowledge for one another, collaboratively creating a small culture of shared artifacts with shared meanings”. Kak Alwi juga belum menjelaskan lebih rinci tentang mazhab ketiga. 

Kamipun tiba dengan mazhab keempat, mazhab yang dijadikan dasar oleh Kak Alwi untuk mengajukan Student Centre Learning (SCL) di Kampus Merah. Mazhab Humanism atau Humanisme adalah patron yang paling sering digunakan di kelas-kelas Barat saat ini. Banyak tipe-tipe pembelajaran SCL yang bisa digunakan oleh dosen-dosen di kampus. Ia memberikan contoh di Fakultas Kedokteran saat ini yang menggunakan konsep SCL dengan baik. “Problem Based Learning (PBL) yang dilakukan FK sudah menggambarkan siswa yang ‘bermain’ di kelas. Dosen tinggal mengarahkan para siswa, bisa dikatakan sebagai fasilitator,” jelasnya lagi. 

Mazhab ini bisa dikatakan paling bagus, karena semua komponen di dalam kelas ikut aktif dalam pembelajaran. Selain itu ada empat hal penting (Refleksi) yang harus dilakukan setelah melakukan SCL yaitu : What to learn?, What happen to you?, So,what?, dan Now what?. Empat hal ini harus bisa dijawab setelah pembelajaran selesai. Hal ini WAJIB dilakukan agar siswa benar-benar mendapatkan hikmah dari apa yang telah dipelajari.

Unhas juga sudah harus bisa memetakan dirinya jika ingin menjadi World Class University (WCU). Ada empat kultur di kampus, pertama adalah Culture of Teaching, kedua Research Culture, ketiga Corporate University, dan Entrepreneur University. Unhas harus bisa fokus menjadi salah satu kultur dan meningkatkan kemampuan dalam kultur tersebut. 

Menurut Kak Alwi, Unhas bisa mencapai tingkat Student Centre Learning dalam waktu 10-15 tahun ke depan jika pemimpinnya mendukung dan mengakomodasi gerakan SCL. Bukan hanya sekedar menginginkan perubahan dalam waktu cepat. 

Semoga Unhas menjadi lebih baik kedepannya. Menjadi kampus yang lebih humanis…

Identitas, 29 September 2013

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *