Sedikit Cerita Tentang Kisahku (Tips Untuk Keluar Negeri)

Nama saya Atrasina Adlina, namun biasanya orang memanggil saya Adlien atau Adhie. Mimpi saya ketika memasuki dunia perkuliahan adalah bisa memasuki beberapa organisasi dan pergi keluar negeri. Mimpi yang menurut orang sangat sulit. Dicapai dengan darah dan airmata. Keinginan keluar negeri begitu menggebu karena saya aktif di Penerbitan Kampus Identitas. Keinginan besar ini muncul ketika saya mulai sering mewawancarai orang-orang hebat di dalam Universitas Hasanuddin. Mulai dari mahasiswa yang sering keluar negeri, dosen hebat yang punya mimpi keren, dan teman-teman sejawat yang mau berbagi mimpi dan pengalaman. 
Seorang dosen muda di Unhas ketika diajak bercerita tentang sekolah di luar negeri, beliau menyampaikan “jangan pernah puas dengan prestasi yang kamu capai saat ini, belajar di luar negeri bisa membuka cakrawala pikiran kamu lebih luas. Lihat dan bukalah mata, bawa ilmu dari luar dan aplikasikan ke Indonesia!!”, ujarnya sambil berapi-api. Entah kenapa, saya tertular semangat itu. Keinginan besar saya untuk bisa keluar negeri semakin berkobar. 
Cita-cita yang saya tulis di atas selembar kertas dan sering ditertawai sama teman-teman, menjadi penguat diri saya ketika semangat mengendur dan rasa ingin mundur. Tapi saya akui, bergaul di dalam lingkungan yang sangat mendukung minat kita saya mempengaruhi mimpi kita. Ibunda dan Ayahanda selalu mendorong dengan kuat cita-cita anaknya. Teman-teman sejawat yang tak kenal meneriakkan kata cinta dan semangat. Dosen yang selalu menyuntikkan kobaran api untuk terus belajar. Lingkungan yang membuat saya ingin terus maju dan membuktikan cinta saya kepada mereka dan bangsa ini. 
Saya pun mulai belajar untuk berinteraksi dalam berbahasa Inggris. Karena bahasa adalah hal yang paling penting jika kalian punya cita-cita ingin keluar negeri. Percakapan akan mengalir jika kita menguasai bahasa mereka. Mulai dengan sering membaca teks book dengan bahasa Inggris, dengar lagu bahasa inggris atau bercakap dengan teman di sekitarmu. 
Selain itu, aktifkan dirimu di berbagai organisasi. Jangan pernah tutup dan batasi dirimu dalam pergaulan. Usahakan kamu bisa berteman dengan mahasiswa segala lini. Mulai dari mahasiswa aktivis, mahasiswa organisatoris, mahasiswa kutu buku, mahasiswa pecinta komputer, mahasiswa laboratorium, mahasiswa perpustakaan, mahasiswa wartawan, dan lain sebagainya. Jangan ada pembatas dan jangan anggap remeh mereka. Karena terkadang, jika kita sudah merasa hebat dengan diri sendiri, kita suka lupa dengan hubungan yang pernah kita bangun. Jangan juga merasa malu untuk selalu tersenyum dan menyapa orang lain. Senyum bisa jadi awal perkenalan kita dengan orang lain. 
Belajar dengan rajin, usahakan IPK tetap berada di atas 3,1. Walaupun IP saya pernah di angka 2.6, saya terus berusaha hingga bisa mendapatkan angka diatas 3 saat ini. Tidak bisa dipungkiri, nilai IPK bisa memengaruhi penilaian dari panitia beasiswa untuk mendapatkan kesempatan beasiswa atau student exchange. 
Jangan ragu untuk ikut dalam kompetisi-kompetisi bergengsi. Misalnya Lomba Karya Tulis Mahasiswa, ini bisa melatih kamu dalam berkomunikasi di dalam sebuah konferensi. Menulis bisa menjadi salah satu keahlian yang bisa kamu asah. Jadi jangan pernah ragu untuk terus berkompetisi. Semakin sering kamu ikut kompetisi, kamu bisa menilai dimana kelemahan dan kekuatan kamu. Kalau belum menang, jangan pesimis dulu. Dari situ kamu bisa menerima kekalahan dan tak terlalu stress. 
Sekedar pengingat, untuk ikut program Study in The United States (SUSI) on the Global Environmental Issues, saya butuh dua kali mendaftar. Pendaftaran pertama saya lakukan pada tahun 2011 lalu. Saat itu berbekal pengalaman magang di Kompas.com, saya mencoba daftar SUSI untuk bidang New Media and Journalism (NMJ), namun nasib tak berpihak pada saya. Dari sana saya tak putus asa. Mungkin saya memang belum banyak bekal tentang isu media. Saya tak kalah dan tak menyerah. 
Pengalaman pun semakin saya tambah. Program kemahasiswaaan yang menurut saya bisa menambah pengetahuan dan pengalaman saya, saya ikuti. Menjadi volunteer, panitia, ataupun participant dalam program menambah kapasitas saya, saya jalani. Tak bisa saya pungkiri, terlalu banyak kegiatan kadang membuat saya lelah. Namun itulah asiknya menjadi mahasiswa. 
Alhamdulillah, kapasitas yang saya bangun tak sia-sia. Saya terpilih menjadi mahasiswa perintis untuk Kuliah Kerja Nyata di Sebatik, Kalimatan Timur. Walaupun keinginan saya pupus untuk mengikuti KKN di Jepang. Namun, KKN di perbatasan malah membuat saya membuka mata dan mempelajari berbagai hal. Saya semakin mengasah kemampuan interpersonal saya dengan selalu berbaur bersama warga selama di Sebatik Barat. Karena saya terpilih sebagai Koordinator Kecamatan (korcam), sebuah amanah yang membuat saya lebih belajar untuk berinteraksi dengan orang lain. 
Selalu ingin belajar, itulah motto hidup saya dan tak cepat merasa puas. Karena itu saya mencoba peruntungan saya dengan mengikuti lomba-lomba penulisan. Alhamdulillah saya pernah terpilih menjadi juara 3 Lomba Karya Tulis Mahasiswa Bidang Kemaritiman Nasional dan beberapa lomba karya tulis serupa. 
Akhirnya saya memberanikan diri untuk mencoba peruntungan di kegiatan Study in the United States untuk Global Environmental Issues (GEI) tahun 2013. Kala itu saya sangat tak percaya diri. Karena sudah memasuki tahun-tahun genting sebagai mahasiswa. Saya sedang mengurus penelitian akhir.
Namun rencana Allah SWT tak terduga, saya berhasil terpilih sebagai delegasi Indonesia untuk SUSI GEI tahun ini. Hari itu 26 Maret 2013, ketika saya sedang berada di dalam laboratorium Mikrobiologi Laut, dapat telpon dari panitia SUSI. Saya dikabarkan terpilih sebagai delega
si Indonesia. WAAAAAAAAA!! Saya ingat, saat itu saya terbata-bata menjawab telepon dari mbak-mbak diujung telpon (akhirnya saya tahu namanya Mbak Esti). 
Sujud syukur segera saya lakukan dan yang pasti teriak-teriak di dalam laboratorium. Jingkrak-jingkrak ga jelas terus gemeteran gara-gara berita tadi. Yang paling gokil ketika saya sms salah seorang terdekat saya
tiga hari terakhir di Washington DC

Saya : saya ke Hawaii. Alhamdulillah..

Arif : ngapaian ke Hawaii, naik apa ke sana?
Saya : naik pesawat lah.
Arif : ngapaian naik pesawat, kan Hawaii ada di Pantai Losari.
Saya : #^$^$)@^H(
Arif pikir, Hawaii yang saya maksud adalah sebuah kios es pisang ijo di Pantai Losari. Hahahaha. 
Saya pun telepon Bunda tercinta. Memohon restu agar anaknya menundah kelulusan lagi. Awalnya saya berusaha lulus di bulan Juli, namun keadaan tak memungkinkan. Program ini akan dilaksanakan selama sebulan. 
Saya pun berpikir, segala lelah, tangis bahkan darah terbayar. Namun saya tak cepat merasa puas, karena program ini hanya menjadi batu loncatan. Tak boleh sombong dan harus terus berbagi informasi. Karena itu, lahirlah tulisan ini agar kalian bisa mencoba mengaplikasikan apa yang saya lakukan untuk bisa mendapat program ini. Saya tak lebih hebat dari kalian, saya tak lebih pintar dari kalian. Tapi mimpi dan cita-cita yang membuat saya tak menyerah… 😀

salam sukses buat sahabat-sahabat yang mempunyai mimpi untuk bisa belajar
Indonesia butuh kita, pemimpin yang membuka mata dan tak cepat merasa puas.
Makassar, 22 Juli 2013

Tulisan ini saya dedikasikan buat kalian semua yang memiliki cita-cita untuk menuntut ilmu di negeri orang. Terkhusus adik tercinta, Milzam Shidqi Zhofiri, Hany Zuyyina Luthfa, Abdurahman Majid, Nur Azizah Husna, dan Maulana Abdurahim yang menawarkan ide untuk berbagi pengalaman. 

Naik sepeda di National Mall

Kissing Victory di USS Missouri, Pearl Harbour
Berbaju adat bersama delegasi Indonesia

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *